Review

Fakta Bandung Dibalik Kehidupan Para Tokoh (2)




WR Soepratman
Wage Rudolf Soepratman menyelesaikan Sekolah Dasar di Jakarta dan meneruskan pendidikan ke Normal School Makassar hingga tamat. Setelah itu, pindah ke Bandung setelah sebelumnya sempat bekerja sebagai guru sekolah dasar di Makassar. Di Bandung beliau bekerja sebagai wartawan dan sejak itu ikut aktif dalam pergerakan nasional. Kebenciannya terhadap Belanda pernah ia tuangkan dalam sebuah bukunya yang berjudul Perawan Desa. Namun buku tersebut dilarang beredar serta disita Belanda. Pada tahun 1924 di kota Bandung W.R Soepratman berhasil menciptakan Lagu Indonesia Raya, setelah terinspirasi oleh sebuah Tulisan di Harian Timbul yang dibacanya saat di Jakarta.

Adalah sebuah toko waralaba di Jalan Contong, Cimahi, Jawa Barat, sekilas tidak berbeda dengan bangunan waralaba lainnya di berbagai tempat di Indonesia. Namun siapa sangka, di balik toko waralaba Cimahi itu terdapat kisah pencipta lagu Indonesia Raya, WR Soepratman. Dulu, rumah panggung yang memiliki luas 160 meter persegi ini ditinggali Simbah Siti dan Mbah Senen Sastrodihardjo yang tidak lain adalah orang tua Wage Rudolf (WR) Soepratman, pencipta lagu Indonesia Raya. Sepeninggal Mbah Siti dan Mbah Senen, rumah mereka ditempati kakak WR Soepratman yang datang dari Sibolga, Sumatera, Ngadini Supriatini pada 1952. Ketika WR Soepratman berkunjung, Syafaat dan kakak-kakak WR Soepratman harus siap berbagi tempat tidur. Pasalnya, hanya ada empat kamar di rumah si Mbah, dua kamar dipakai si Mbah, satu kamar dipakai kakak Soepratman, Soeparto, dan satu kamar dipakai keroyokan oleh Syafaat dan kakak-kakak Soepratman lainnya. Kamar keroyokan itulah yang sering dijadikan tempat tidur oleh WR Soepratman saat berkunjung ke Cimahi. Bahkan ketika sakit keras, WR Sopratman dan istrinya, Salamah, tinggal tetirah di sana selama sebulan penuh. Beberapa bulan setelah dia sakit, sang komponis akhirnya meninggal di Surabaya.

Ahmad Albar
Penyanyi rok Indonesia ini sewaktu kecil pernah tinggal di Bandung bersama orangtuanya. Ia tinggal di Bandung saat usia 4 tahun sampai 9 tahunan. Iyek (panggilan akrabnya) mengaku sempat pindah-pindah rumah saat berada di Bandung mulai dari Jalan Anggrek, Cihampelas, dan Cimahi. Namun, setelah itu dia pindah ke negeri kincir angin Belanda.


Benyamin S

Waktu kelas 5-6, Benyamin S pindah ke SD Santo Yusuf Bandung. Namun, waktu SMP ia ke Jakarta lagi, masuk Taman Madya Cikini. Dulu di Gang Teksil-Cicadas ada calo karcis bioskop Cahaya, menciptakan lagu "Lalajo ka Cahaya, Mayarna Sarupia". Belakangan calo karcis bioskop itu menjelma menjadi Benyamin S, tokoh penyanyi lagu-lagu Betawi. Benyamin S sendiri adalah penggemar Mang Koko, seniman Sunda yang banyak menghasilkan tembang Sunda legendaris. salah satu ciptaan Mang Koko yang dinyanyikan Benyamin S adalah lagu "Badminton".

** Disarikan dari beragam sumber