Review

Sejarah Transportasi Kereta Api dalam Kemajuan Kota Bandung




Pada zaman kolonial, Bandung adalah wilayah yang sangat subur untuk penanaman tanaman-tanaman industri pertanian. Kehidupan Kota Bandung kemudian mengalami perubahan dengan dibukanya perkebunan-perkebunan milik Belanda. Hal ini didukung dengan adanya pemodal swasta yang masuk ke daerah Priangan pasca peraturan Cultuurstelsel secara bertahap dihapuskan. Pada 1870 dikeluarkan peraturan agraria Hindia Belanda.  Maka preanger planters dari Eropa pun mulai masuk ke Bandung. Di bandung mereka  mulai berolah tanaman kina, teh, karet, coklat juga kopi yang sebelumnya diharuskan tanam paksa oleh pemerintahan kolonial Belanda. Para pemukim inilah yang menghidupkan kota Bandung sebagai kota berahir pekan mereka. Maka, Bandung pun dikenal dengan adanya saudagar-saudagar kaya yang kemudian menghidupkan kehidupan ekonomi dan tempat hiburan di kota ini.

Seiring dengan berkembangnya perkebunan, pada 1869-1873 dibangunlah jalan kereta api dibangun Batavia dan Buitenzorg (Bogor). Dilanjutkan pada 1879 mulai diperpanjang melewati Bandung sampai Cicalengka yang dapat diselesaikan  tahun 1884. Rel kereta kemudia disambung ke Garut (1889). Adapun jalur kereta Bogor-Sukabumi selesai tahun 1882. Lalu lajur Bogor - Cianjur selesai pada 1883. Dari Cianjur pada tahun 1884 lintasan kereta api ke Bandung  pun selesai dibuat. Maka jalur-jalur inilah yang kemudian menghidupkan kota-kota di wilayah Priangan. Dan sekarang, jalur kereta api itu ada yang masih aktif digunakan dan juga ada yang mati alias tidak difungsikan. Jejak-jejaknya bisa terlihat sampai sekarang dengan adanya jalur-jalur kereta api yang tidak difungsikan hingga menjadi permukiman penduduk.

Pada waktu itu, perjalana Bandung – Batavia (Jakarta) dapat langsung ditempuh via Bogor. Sarana ini turut mempercepat perkembangan kota Bandung. Hal ini berimbas pada lancarnya perniagaan ekspor barang hasil pertanian perkebunan pedalaman Priangan yang dikirimkan kepelabuhan Tanjung Priok. Sebaliknya, barang-barang kebutuhan warga Bandung pun dapat dengan mudah didatangkan. Lalu pada 1906 dibukalah jalan kereta api Bandung - Batavia melewati wilayah Padalarang – Karawang yang lebih mempersingkat waktu tempuh antara kedua kota. Sampai sekarang, jalur ini masih difungsikan dan bersebelahan dengan jalur tol Jakarta - Cikampek - Padalarang - Pasteur.  Bahkan, kita bisa menikmati jembatan-jembatan rel kereta api peninggalan zaman Belanda ini dari jalan tol Padaleunyi.

Imbas dari hadirnya transportasi massal ini, di sekitar stasiun kereta api kemudian tumbuh usaha yang menunjang perjalanan.  Maka, hotel-hotel, restoran, dan toko pun berdiri di sekitar stasiun. Pada 1919 Bandung direncanakan sebagai ibukota Hindia Belanda. Dimulailah dengan perencanaan kota yang lengkap dan pembangunan berkembang. Salah satunya dengan dibangunna Gedung Sate. Lalu, kepala dinas kereta api menyampaikan laporan bahwa 80% penumpang kereta yang turun di stasiun Bandung setiap hari adalah para commuters. Lalu, untuk menyiasati prosentasi penumpang tidak hanya turun di satu titi, dibagilah tempat turun penumpang kereta yang sedekat mungkin pada tujuan tempat berniaga. Maka dibangunlah halte kereta api di Andir, Ciroyom, Cikudapateuh, Kiaracondong, Jalan Jawa, dan Jalan Karees (Gatsu sekarang) yang sampai sekarang sebagian besar masih difungsikan.