Review

Sejarah Gedung Pakuan Bandung




Gedung Pakuan, salah satu gedung bersejarah yang di Bandung yang sekarang berfungsi jadi tempat rumah dinas gubernur Jawa Barat. Kita bisa melihat tempat ini di dekat arah ke Stasiun Bandung sebelah timur. Tepatnya di jalan dekat jembatan kereta api Viaduct masuk Jalan Kebon Jukut ke arah pertemuan Gedung Pakuan Bandung. Pada 1990-an gedung ini pernah mengalami pemugaran. Halamannya yang luas dan gedung yang agréng (megah) menjadikan gedung ini layak disebut sebagai peninggalan kolonial di Kota Bandung yang menyimpan sisi histroris. Di dekat bekas kediaman resmi Residen Priangani ini, kini terdapat Hotel Arion-Swiss Bel, Hotel Vue Palace, dan Hotel Kenangan.

Jika masuk ke dalamnya, kita akan melihat arsitektur zaman Belanda yang di dalamnya luas. Ruangan utama yang luas juga kamar-kamar tidur yang luas. Tim Informasi Bandung dalam suatu waktu pernah menyambangi gedung ini saat audiensi dengan Gubernur Jawa Barat dalam rangka event kesundaan yang akan diselenggarakan. Untuk masuk ke tempat ini, tamu masuk dari arah timur atau arah kanan Gedung Pakuan (Jalan Kebon Sirih). Halamannya yang luas ditanami rumput yang hijau. Saat berada di jalam gedung yang berdiri megah di pusat kota ini agak sareukseuk alias kurang sedap dipanggang ke arah depan karena adanya kubah hotel baru yang benar-benar mengganggu pemandangan. Nilai historis gedung peninggalan zaman Belanda ini seakan tenggelam oleh pembangunan gedung modern di depannya.   

Berdasarkan informasi dari beberapa literatur, Gedung Pakuan ini berarsitektur Indische Empire Stijl (merupakan langgam arsitektur yang digemari Jenderal Herman Willem Daendels). Adapun perancangnya adalah Insinyur Kepala dari Departement van Burgerlijke Openbare Werken (B.O.W)yang menjadi staff dari Residen Van der Moore. Insinyur itu juga yang merancang bangunan Sakola Raja (Polwiltabes) Bandung pada 1866.

Adalah perintah Gubernur Jenderal Ch.F. Pahud yang memerintahkan pembangunan gedung ini. Hal ini berhubungan dengan sejarah pindahnya ibukota Karesidenan Priangan dari Cianjur ke Bandung. Kemudian Residen Van der Moore pada tahun 1864 mulai membangun gedung ini dan selesai pada 1867
Para pekerja yang membangun gedung ini adalah Genie Militer Belanda dengan disokong oleh Dalem Bintang alias R.A. Wiranatakusumah (Bupati Bandung VIII). Penduduk kampung Babakan Bogor (sekarang Kebon Kawung) juga Balubur Hilir  yang juga turut membantu pembangunan gedung ini. Sebagi penghargaan, penduduk dari kedua kampung tersebut dibebaskan dari pajak.

Ketika memasuki gedung ini nuansa zaman Belanda begitu kental. Cat putih dengan ukuran ruangan yang besar menjadikan gedung ini menyimpan sejuta nilai historis di dalamnya. Di ruangan utama (bagian depan) terdapat dua kamar yang dulu pernah dipakai untuk kamar khusus orang penting. Presiden Soekarno juga jika berkunjung ke Bandung tidur di kamar utama yang ada di ruang depan ini. Sementara kamar yang satunya biasa dipakai oleh Bung Hatta. Tamu resmi dan tokoh dunia juga pernah berkunjung dan tidur di tempat ini, seperti: Raja Siam Somdet Phra Paramendr Maha Chulalonkorn pada tahun 1901. Ia membawa patung gajah yang kemudian oleh pemerintah RI dipajang di Museum Patung Gajah, Jakarta. 

Ada juga tamu lain yang pernah singgah dan menginap di sini, seperti Perdana Menteri Perancis Georgeos Clemenceau yang berkunjung ke Bandung tahun 1921. Malah, selebritas terkenal pada zaman dulu yaitu Charlie Chaplin dan Mary Picford pada tahun 1927 pernah mengunjungi dan menginap di tempat ini. Ada juga Sri Ratu Belanda Juliana dan Pangeran Bernhard berkunjung pada 1971. Nama lainnnya ada Presiden Yugoslavia, Josip Broz Tito, Presiden Uni Soviet, Voroshilov, hingga Robert Kennedy (Jaksa Agung Amerika Serikat). 

Pada zaman pemerintaha Megawati pernah diselenggarakan Pada tahun 2005 saat peringatan 50 Tahun Konferensi Asia Afrika, Gedung Pakuan pernah dijadikan tempat jamuan makan siang para kepala negara, pemerintahan dan delegasi negara-negara Asia Afrika.