Review

Ketika Gunung Tangkuban Parahu Meletus




Pada Februari - Maret 2013, warga Bandung dan Subang terus memantau berita kondisi terakhir Gunung Tangkuban Parahu yang dikabarkan statusnya menjadi waspada. Destinasi wisata alam antara Bandung utara dan Subang ini memang sedang menunjukkan gejala alam yang lain daripada biasa. Menurut sumber dari Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dikatakan bahwa ada dua letusan freatik pada gunung yang identik dengan legenda Sangkuring dan Dayang Sumbi ini. Tepatnya pada hari Senin tanggal 4 Marey 2013 dan Rabu, 6 Maret 2013 dapat dikatakan terjadi letusan terbesar yang tercatat sejak tahun 1992.


Gunung Tangkuban Parahu ini memang termasuk gunung api aktif. Statusnya sendiri diawasi terus oleh Direktorat Vulkanologi Indonesia. Menilik pada letusan tahun-tahun sebelumnya, pada 2005 dan juga 2013 lalu, Gunung Tangkuban Parahu sempat "batuk" selama beberapa bulan. Geliat vulkanik ini memang hanya berupa embusan gas beracun di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III atau 1,5 kilometer dari pusat Kawah Ratu. Kejadian semburan vulanik juga pernah terjadi pada tahun 1992 (waktu itu ketinggian semburan material vulkanik 159 meter di atas Kawah Ratu).

Letusan di gunung yang mempunyai ketinggian setinggi 2.084 meter.ini terjadi pada awal Maret 2013 adalah letusan terbesar Gunung Tangkuban Parahu sejak 12 tahun terakhir. Letusan kali ini  diprediksi semburan material vulkaniknya kurang lebih 500 meter dari pusat Kawah Ratu. Letusan kali ini dapat dikatakan letusan terbesar. Bukti di lapangan, pada letusan 4 Maret 2013, ada material berupa batu (diameter sekitar 30 sentimeter) terlontar hingga jarak 50 meter.

Di sekitar Tangkuban Parahu pun terjadi gempa yang tidak mengalami penurunan.  Namun, pascaletusan yang terjadi status tetap pada waspada level II. Dalam keadaan yang sangat beresiko ini, ada sebuah pemandang yang kurang terlihat elok. Dari beberapa liputan berita di televisi, radio, atau media masaa, ternyata pedagang di sekitar Gunung Tangkuban Parahu masih tetap menggelar dagangannya. Ini memang agak aneh, pengelola Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tangkuban Parahu kok masih membuka kunjungan wisata.

Tentunya tidak mungkin ada peringatan dari pihak terkait. Ini artinya, pedagang yang masih beraktivitas tidak menganggap bahaya fenomena alam yang terjadi. Jika pedagang buka, tentu secara logika ada pengunjung. Antara pedagang dan pengunjung sama saja dengan mendatangi sumber musibah. Kalau terjadi hal yang tidak diinginkan harus menyalahkan siapa?

Hingga akhirnya, Gunung Tangkuban Parahu pun menunjukkan geliatnya. Setelah abu vulkanik keluar, barulah pedagang membereskan jongko dan barang dagangannya. Ini jelas terlihat dalam salah satu liputan berita di televisi. Aya-aya wae! Padahal sebelumnya, PVMBG telah merekomendasi agar pada radius 1,5 kilometer dari Kawah Ratu keadaan harus steril dari aktivitas.

Sementara, pihak pengelola wisata Gunung Tangkuban Perahu (PT Graha Rani Putra Persada) sudah melarang warga naik ke lokasi kawah gunung itu sejak dari pintu gerbang. Namun, kendati sudah ditutup, masih saja ada wisatawan yang datang ke gunung itu juga para pedagang yang keukeuh membuka jongkonya. Ini kalo dalam bahasa Sunda dinamakan bedegong, yang artinya keras kepala. Sudah diperingatkan tapi tetap tidak ambil peduli.

Sebagai informasi tambahan, sebelumnya gunung seperti perahu terbalik ini terakhir meletus pada 1910. Berdasarkan sejumlah catatan, Tangkuban Perahu mengalami erupsi pada 4 hingga 7 April 1829. Kemudian, tahun 1846 terjadi erupsi dalam Kawah Ratu.

Sementara pada tahun 1896 terjadi letusan freatic yang kemudian terbentuknya Kawah Baru. Terakhir, tahun 1910 terjadi letusan dalam Kawah Ratu, menghasilkan skorea dan abu. Pada abad ke-18, gunung ini memuntahkan sejumlah besar material lepas yang mirip dengan aliran lumpur, ke arah barat daya. 

Muntahan yang dahsyat waktu itu sampai menutup lembah Citarum juga membendung aliran sungainya. Akibatnya, terbentuklah sebuah danau di ketinggian 720 m. Di gunung aktif ini, ada sembilan kawah: Kawah Ratu, Kawah Upas, Kawah  Domas, Kawah Baru, Kawah Jurig, Kawah Badak, Kawah Jarian, Kawah Siluman, dan Kawah Pangguyangan Badak. Gunung ini termasuk tipe A, yang artinya setiap waktu bisa saja meletus.