Review

Inilah Beberapa Titik Kawasan Langganan Banjir di Bandung





Tak dapat dipungkiri, Bandung selain menyimpan sejuta pesona juga menyimpan aneka masalah yang setidaknya menjadikan citra Bandung jauh berbeda dengan zaman dulu. Bandung yang dulu dianggap resik nan asri sekarang menyimpan "bom waktu" yang suatu waktu akan menjadikan masalah pelik. Salah satunya yang patut disorot adalah masalah banjir. Banjir ini mencakup Bandung dan sekitarnya, baik Kota Bandung maupun Kabupaten Bandung.

Ketika musim hujan melanda, maka permasalahan itu kembali berulang dan bertahun-tahun seakan tanpa solusi jitu. Banjir yang melanda bisa karena faktor alam, faktor manusia (terlihat dari sampah yang menumpuk di sungai), juga akibat pembangunan (misalnya perumahan) yang tidak memperhatikan Amdal, ditambah lagi dengan drainase yang buruk. Kerugian tidak hanya materi, namun juga kadang merenggut nyawa manusia. Belum lagi sesudah banjir biasanya jalan raya cepat rusak.

Banjir Kawasan Kab. Bandung
Jika Anda yang belum pernah merasakan bagaimana efek banjir di Kab. Bandung, cobalah suatu waktu datang ke daerah Dayeuhkolot, Baleendah, atau seputaran Bojongsoang ketika puncak musim hujan. Perjalanan dari Dayeuhkolot ke arah Buah Batu yang hanya beberapa kilometer itu mendadak macet parah. Maka, perjalanan pun yang semula kurang dari hitungan satu jam akan berubah menjadi beberapa jam.

Belum lagi masalah sosial yang terjadi, selain kemacetan penduduk sekitar pun seakan sudah patah arang menghadapi bencana banjir di wilayah ini. Hal ini bisa terjadi karena jalur Dayeuhkolot-Moh. Toha biasanya tergenang banjir. Jika musim penghujan tiba, akses dari Banjaran-Dayeuhkolot-Moh.Toha biasanya akan terputus. Ini bisa berlangsung beberapa hari. Entah berapa ratus juta nilai ekonomi terbuang percuma. 

Ketika hujan lebat berhari-hari melanda, Sungai Citarum akan meluap. Ini artinya kawasan sekitaran Baleendah dan Dayeuhkolot sudah siap-siap menghadapi banjir. Ciri utama biasanya daerah dekat Jembatan Pasar Dayeuhkolot (SPBU)/ Jln. Anggadireja yang nyambung dengan kawasan Cieunteung akan terendam banjir. Akses jalan pun akan terputus. Maka, pengguna transportasi dari arah Banjaran dan sebaliknya harus berputar arah menuju daerah Tugu Baleendah-Jalan Siliwangi-Jalan Cijagra.

Sementara, jalan di depan kawasan pabrik-pabrik yang ada di jalur Dayeuhkolot-arah tol Moh. Toha sami mawon akan terputus. Di sini biasanya banjir pun kerap melanda. Alternatifnya? Ya, mau tidak mau harus melalui Jalan Bojongsoang (terusan Buah Batu). Maka, pemandangan kendaraan yang tidak bergerak sama sekali akan tampak di sini. 

Titik banjir bukan hanya terjadi di sini, biasanya kalau daerah ini banjir, daerah sekitar Majalaya, Ciwastra, Majalaya, Ciparay, dan Rancaekek pun akan "ikut-ikutan" tergenang air. Tak heran jika para karyawan atau pekerja yang bermukim di daerah sini banyak yang kesiangan masuk kerja atau malah tidak masuk sama sekali. Bahkan jalur Citarum lama yang sekarang menjadi kawasan rawa ini tidak luput dari banjir. Jika air sudah menggenang, banjir meluber hingga ke daerah kawasan sekitar Jalan Bojongsoang.

Bandung Selatan memang berada sejajar dengan sungai terpanjang di Jawa Barat, yakni Sungai Citarum. Bahkan beberapa desa ada yang berada di bawah sungai, terutama saat musim hujan. Kondisi geografis tersebut setidaknya selalu membuat setidaknya tiga kecamatan di Bandung Selatan, yakni Bojongsoang, Dayeuhkolot, dan Baleendah. Sungai Citarum yang mengalir dari Majalaya menuju selatan. Tepat di tiga kecamatan tersebut, posisi sungai lebih tinggi daripada perumahan.Walaupun bagian pinggir sungai ditinggikan, tetap saja air Sungai Citarum seakan tak terpengaruh untuk menggenangi ketiga wilayah ini. 

Salah satu kawasan yang kerap menjadi langganan banjir adalah kawasan Cieunteung. Daerah Cieunteung persis bersebelahan dengan aliran sungai Citarum dan berada di bawahnya. Kawasan ini sekarang penduduknya mulai direlokasi. Titik kawasan banjir di daerah ini biasanya terjadi di daerah Cisirung (dekat pabrik Panasia) juga di depan Mesjid Besar Dayeuhkolot (sebelum jembatan Dayeuhkolot). Para pengendara biasanya melalui jalan alternatif yaitu ke Jalan Rancamanyar tembus ke Bojongmalaka, dan keluar dari pertigaan Kulalet.

Banjir juga melanda biasa melanda Desa Kamasan. Ini akibat meluapnya Sungai Cisangkuy. Banjir di kawasan ini biasanya memutuskan arus lalu lintas antara Banjaran menuju ke Cimaung/Pangalengan. Sementara untuk kawasan Soreang, pada 2013 banjir parah pernah melanda Desa Panyirapan, Kec. Soreang. Ratusan rumah di Komplek Cingcin Permata Indah, Desa Cingcin, Soreang. Banjir di sini akibat meluapnya Sungai Cikambuy. 

Banjir Kawasan Bandung Timur


Bicara banjir di kawasan Bandung Timur, mungkin Anda pernah menyaksikan berita bahwa pada April 2013 kemarin di kawasan Rancaekek kemacetan terjadi hingga 15 jam di jalur Bandung- Garut. Jalur kedua kota ini pun lumpuh total. Anda yang berangkat dari daerah Cileunyi ke Cicalengka yang biasanya kurang dari setengah jam, bisa mencapi lebih dari 5 jam. Itu pun jika Anda bisa berhasil melewati hadangan banjir di kawasan pabrik Kahatek. Di sini, banjirnya memang parah. Kemacetan ini bisa berimbas ke daerah Cileunyi. Efeknya, lalu lintas Cileunyi, Jatinangor, Sumedang turut mengalami kelumpuhan.

Kawasan lain yang biasa terkena banjir adalah di daerah Cibiru Hilir. Banjir biasanya merendam kawasan perumahan sekitar asrama polisi, sebagian Jalan Bumi Harapan, dan kawasan perumahan warga. Banjir juga pernah melanda sebagian perumahan Bumi Panyileukan. 

Banjir Kawasan Kota Bandung


Adapun di Kota Bandung biasanya terjadi banjir cileuncang (genangan air bekas hujan). Salah satu yang terparah adalah di kawasan Pasteur (depan BTC). Banjir di kawasan ini bisa dibilang agak memalukan. Bagaimana tidak, kawasan ini termasuk daerah elit dan menjadi pintu gerbang wisatawan yang berkunjung ke Bandung yang seharusnya aman dari banjir. Imbasnya, akses ke Jembatan Layang Pasupati biasanya terganggu. Kawasan lain yang biasa terkena banjir adalah di wilayah Jalan Rumah Sakit, Ujungberung.

Kawasan lain yang biasa menjadi langganan banjir adalah di beberapa titik di Jalan Soekarno-Hatta Gedebage (dekat stopan) dan Pasar Induk Gedebage. Banjir di lintasan Jalan Soekarno-Hatta (By Pass) arah timur ini kadang membuat macet jalanan. Namun, kini di perempatan Gedebage tersebut sudah dibuat saluran tol air. Titik lainnya adalah Jl. Pelajar Pejuang (seberang Hotel Horison arah ke Jalan Palasari), hingga menuju pertigaan Jl. Laswi dan Jl. Sukabumi. Lokasi lainnya di dekat stopan Gerlong Girang (Jln. Setia Budhi) yang kerap kena banjir cileuncang (luapan air sementara).

Bila memasuki musim hujan, banjir dan kemacetan merupakan kompilasi yang pas di kawasan ini. Dekat sini biasanya banjir cileuncang menyergap daerah Ciateul (Jln. Ibu Inggit Garnasih) dekat Jalan H. Samsudin/belokan ke Jalan Sawah Kurung. Kawasan langganan banjir cileuncang juga biasa terjadi di daerah sekitar Cijerah dan sekitar stopan Moh. Toha dan Jalan Sriwijaya. Beberapa titik lainnya yang biasa tergenang banjir cileuncang saat musim hujan adalah Jalan Cingised (Arcamanik) dan sebagian di kawasan Sukamiskin.

Beberapa tempat langganan banjir, khususnya di Kota Bandung, di era pemerintahan Wali Kota Ridwan Kamil, kini mulai dibenahi satu per satu. Salah satunya yang sudah terlihat hasilnya di perempatan Gedebage dengan dibangunnya tol air dan pembenahan gorong-gorong. Lokasi lainnya seperti Jalan Pasteur dan Jalan Pasirkoja pun kini sedang dibenahi agar tidak lagi menjadi kawasan langganan banjir setiap musim penghujan.
Sementara untuk beberapa kawasan langganan banjir di daerah Kab. Bandung masih biasa terjadi, terutama di sekitar dekat aliran Sungai Citarum seperti Dayeuhkolot (Andir, Cieunteung, dll.), kawasan Cigebar (Bojongsoang), Kamasan (Banjaran), dan beberapa titik di kawasan Jln. Cidawolong, Majalaya.

Untuk mengetahui info terkini seputar situasi lalu lintas, lokasi banjir, dan hal lainnya
yang terjadi di seputaran Bandung, silakan pantau akun Twitter