Review

Inilah Permasalahan Kota Bandung




Kota Bandung menjadi kota tujuan wisata sekaligus menjadi barometer kota kreatif di Indonesia. Bagi Anda yang berasal dari luar Bandung, mungkin menjadikan kota ini sebagai kota ideal untuk dikunjungi. Namun, bagi warga Bandung sendiri, permasalahan yang ada di Kota Bandung menjadi catatan tersendiri bagi pemerintahannya untuk segera menata kembali ibu kota Jawa Barat ini menjadi kota yang tidak semrawut. Beberapa aktivis dan juga masyarakat Bandung kerap melontarkan aneka kritik, baik yang disampaikan langsung ke pihak terkait, melalui media massa, hingga demonstrasi. Ini menunjukkan bahwa Kota Bandung menyimpan segudang masalah yang menurut ukuran kelayakan bisa dibilang kurang.

Tim Informasi Bandung mencatat beberapa hal yang kiranya menjadi permasalahan di Kota Bandung. Catatan ini berdasarkan pantauan berita dari beberapa media (cetak maupun online), masukan dari warga Bandung sendiri, dan juga pantauan langsung di lapangan.

1. Banjir Cileuncang

Ketika musim penghujan tiba, bagi warga Bandung adalah sebuah siksaan tersendiri. Apalagi mereka yang berkendara di jalanan atau mungkin pemukimannya dekat dengan daerah langganan banjir cileuncang. Air yang menggenang ini terjadi akibat drainase yang kurang ditata dengan baik. Hasilnya, jalan raya pun akan berubah menjadi sungai dadakan. Ini mengakibatkan ganggguan lalu lintas yang parah, belum lagi perumahaan sekitar terkena imbasnya. Jika banjir cileuncang ini sudah menyergap, maka para pengendara harus rela berputar arah mencari jalan alternatif. Apalagi para pengendara motor.

2. Ruang Terbuka Hijau (RTH)

Saat ini Kota Bandung baru memiliki sekitar 1700 hektare RTH. Sedangkan idealnya RTH untuk kota yang memiliki luas 16.729,65 hektare ini adalah sekitar 6000 hektare. Kurangnya pepohonan dan taman-taman di Kota Bandung menjadikan Bandung terasa bayeungyang alias bikin gerah jika musim kemarau. Bagaimana tidak, jika Kota Bandung tanpa RTH, sinar matahari yang menyinari itu 90% akan menempel di aspal, genting rumah, dan bangunan lainnya yang ada.

Sementara sisanya yang 10% akan kembali ke angkasa. lahan pepohonan di Kota Bandung banyak yang berubah fungsi. Juga akibat berkurangnya persentase ruang terbuka hijau di Bandung, setiap tahun permukaan tanah di Kota Kembang ini menyusut sekitar 42 sentimeter. Di Babakan Siliwangi sendiri permukaan air tanah berada pada kedudukan 14,35 meter dari sebelumnya 22,99 meter. Menurut data yang dilansir Greenlife Society setidaknya 90 pusat perbelanjaan di Bandung itu masih berhutang 85 ribu meter persegi ruang hijau.

3. Pedagang Kaki Lima

Mmmh... bicara masalah tukang dagang ini sudah dari zaman kapan sepertinya kurang ada cara yang jitu. Malah kerap hal ini menjadi gejolak sosial. Seperti halnya dulu tahun 2000-an ada kasus pedagang Cimol alias Cibadak Mall yang harus rela "diusir" dari kawasan Jalan Cibadak akibat pagetreng dengan para penghuni setempat yang merasa terganganggu karena lapaknya menghalangi rumah-rumah penghuni. Masalah kaki lima ini timbul tenggelam. Walaupun kawasan beberapa titik tertentu tidak boleh ada pedagang kaki lima, namun tetap saja para pedagang bedegong alias keras kepala. Sejauh yang diamati, ternyata mereka lebih suka main kucing-kucingan dengan pihak tramtib. Mungkin ini perlu tindakan lebih tegas lagi. Apalagi jika menjelang lebaran.

4. Kemacetan Lalu Lintas
Masalah ini sepertinya nomor wahid untuk Bandung sekarang. Macet dan macet, apalagi musim liburan dan weekend. Penyebab kemacetan di Kota Bandung memang bervariasi, dari mulai banyaknya pengunjung dadakan (liburan), kawasan perbelanjaan, jalan rusak, hingga angkot yang ngetem sangeunahna kumaha aing alias gimana gue! Pemandangan kemacetan di beberapa titik "langganan" macet sepertinya kurang ada solusi yang tegas dan jitu. Ditambah lagi jika di beberapa titik lampu stopan, lampunya ada yang mati. 

5. Pudarnya Cagar Budaya

Ini yang menjadikan Bandung kerap dicap sebagai kota yang kurang "beradab" alias tidak menghargai bangunan kuno yang menjadi ciri peninggalan masa lalu. Padahal, di kota-kota lain cagar budaya ini kerap dijadikan salah satu aset wisata juga untuk penelitian sejarah. Namun, di Kota Bandung jangan heran jika cagar budaya ini banyak yang beralih fungsi menjadi sentra komersial. Etika bisnis yang salah satunya menghargai potensi lingkungan seakan dilabrak begitu saja. Maka misalnya, ketika bangunan cagar budaya dibongkar untuk dijadikan kawasan dagang, para aktivis pecinta sejarah hingga seniman Bandung berteriak. Namun kadang teriakan mereka tak didengar oleh pihak terkait. Dan pembongkaran demi pembongkaran terhadap cagar budya pun terus dilakukan. Hilanglah satu per satu kawasan atau bangunan cagar budaya ini. Sungguh miris bagi sebuah kota yang dulunya dianggap mempunyai nilai seni tata lingkungan yang ramah terhadap peradaban.

6. Pembangunan yang Tidak Terkendali

Bandung punya ITB yang salah satu bidang garapannya adalah menata lingkungan alias planologi. Namun, untuk masalah ini sepertinya urusan pihak birokrasi dengan pihak akademik bagai air dan minyak. Pembangunan di Kota Bandung seakan tanpa arah yang jelas. Lihat saja kawasan resapan air di Bandung utara kini banyak yang berubah fungsi menjadi bangunan yang mentereng. Akibatnya, resapan air ke kawasan landeuh alias Bandung arah selatan menjadi berkurang. Salah satu masalah yang baru-baru ini mengemuka adalah masalah kawasan Hutan Kota Babakan Siliwangi. 

Masalah lainnya yang kerap terjadi adalah masalah pemasangan reklame yang menjadikan pemandanga kota sareukseuk; masalah sampah; masalah perizinan; genk motor; dan lain sebagainya. Mungkin Anda bisa menambahkan sendiri apa saja permasalahan lain yang di seputaran Bandung.