Review

Mengenal Majas (Gaya Bahasa) dalam Bahasa Sunda




Sama seperti bahasa lainnya, bahasa Sunda juga kaya dengan pengungkapan perasaan batin yang dituangkan dalam bentuk majas atau gaya bahasa. Pemakaian gaya bahasa ini untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis. 

Berikut  ini gaya bahasa dan contohnya yang ada dalam bahasa Sunda:

1. Gaya Bahasa Ngupamakeun (Simile)
adalah salah satu majas yang membandingkan sesuatu hal dengan hal yang lainnya, dengan menggunakan kata penghubung atau kata pembanding. 
Contoh:
- Lumpatna tarik kawas uncal.
(Larinya kencang seperti rusa.)
- Si Dudi kasep siga foto modél
(Si Dudi ganteng seperti foto model.)

Dalam majas simile ini ada perbandingan dengan menggunakan kata siga dan kawas, keduanya memiliki makna 'seperti'. Untuk membedakannya, kawas digunakan untuk menunjukkan kelakuan atau keadaan. Sedangkan siga dipakai untuk menjelaskan objek/orang/benda.

2. Gaya Bahasa Lalandian (Metafora)
adalah gaya bahasa yang membandingkan suatu benda dengan benda lain karena mempunyai sifat yang sama atau hampir sama.
Contoh:
Pa Oto Iskandar di Nata katelah dilandian "Si Jalak Harupat"
(Pak Oto Iskanda di Nata terkenal dengan sebutan "Si Jalak Harupat".)     

Perbandingan "Si Jalak Harupat" pada diri Pa Oto tersebut menggambarkan sosoknya seperti pada ayam adu dari Ciparage (daerah pesisir di Karawang yang terkenal dengan dengan ayam aduannya) yang gagah berani, dan berkokok tidak salah waktu. Ini menunjukkan sosok Pa Oto Iskandar di  Nata yang dikenal sosok gagah berani, lantang bicara dalam menghadapi kedzaliman penjajah Belanda waktu itu.

3. Gaya Bahasa Mijalma (Personifikasi)
adalah pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia.
Contoh:
Bulan ngintip ti sela-sela dangdaunan.
(Bulan mengintip dari sela-sela dedaunan)

4. Gaya Bahasa Rautan (Eufimisme)
adalah pengungkapan kata-kata yang dipandang tabu atau dirasa kasar dengan kata-kata lain yang lebih pantas atau dianggap halus.
Contoh: 
Abdi badé ka pengker heula sakedap, tos teu kiat.
(Saya mau ke belakang dulu, sudah tidak kuat)

Ka pengker heula adalah penghalusan untuk buang air kecil/besar.

5. Gaya Bahasa Ngasor (Litotes)
adalah ungkapan berupa penurunan kualitas suatu fakta dengan tujuan merendahkan diri.
Contoh: 
Mangga taruang, punten saaya-aya wé nya? Maklum tuda mung aya sakieu-kieuna.
(Silakan dimakan, maaf seadanya saja ya? Maklum saja hanya ada segini adanya.

Ini untuk menunjukkan pada makanan dan lauk-pauk yang dihidangkan. Padahal, pada kenyataannya makanan yang dihidangkan segala ada.

6. Gaya Bahasa Rarahulan (Hiperbola)
adalah pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.
Contoh: 
Hahargaan jaman ayeuna mah geus apung-apungan!
(Harga-harga zaman sekarang sudang melambung tinggi!)

7.  Gaya Bahasa Kadalon (Pleonasme)
Pleonasme adalah majas yang menambahkan keterangan pada pernyataan yang sudah jelas atau menambahkan keterangan yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
Contoh: 
- Omongan manêhna kadéngé ku ceuli sorangan.
(Omongan dia terdengar oleh telinga saya sendiri.)
* Terdengar pasti sama telinga, bukan alat indera lain.
- "Buru atuh turun ka handap!"
(Cepat dong turun ke bawah!)
* Turun pasti ke bawah, tidak ada yang ke atas. 

8. Gaya Bahasa Silib atau Sindir (Alegori)
adalah gaya bahasa menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran yang sangat terasa efek puitisnya untuk menggambarkan keadaan atau objek.
Contoh:
Upami teu aya halangan harungan, abdi téh badé ngalakonan sunah Rosul, beber layar tarik jangkar ngambah sagara kahirupan anyar.
(Jika tidak ada halangan, saya mau melakoni sunah Rosul, membentangkan layar tarik jangkar mengarungi lautan kehidupan baru) 
* Gaya bahasa tersebut untuk menggambarkan orang yang akan menikah.

9. Gaya Bahasa Ocon (Metonimia)
Pengungkapan berupa penggunaan nama untuk benda lain yang menjadi merek, ciri khas, atau atribut.
Contoh: 
Di imah euweuh cai euy, sanyo-na ruksak.
(Di rumah gak ada air, pompa air ruksak)

Penyebutan salah satu merek tertentu ini lumrah di masyarakat, walaupun merek yang digunakan mungkin bukan merek yang dimaksud. 

10. Gaya Bahasa Raguman (Sinekdoke)
adalah majas pertautan yang menyebutkan nama bagian sebagai pengganti nama keseluruhannya.
a. pars pro toto:  majas pertautan yang menyebutkan nama keseluruhan sebagai pengganti nama bagiannya. 
Contoh:
Teuing kamana jelema téh, wayah kieu can katempo cukang irungna.
(Gak tahu kemana tuh orang, jam segini belum terlihat batang hidungnya.)
 
b. totem pro parte: majas pertautan yang menyebutkan nama bahan sebagai pengganti nama barang yang terbuat dari bahan itu.
Isuk kuring rék lalajo maén bal Indonésia lawan Malaysia.
(Besok saya mau nonton sepak bola Indonesia lawan Malaysia.)