Review

Persib: Lahir dari Nasionalisme





Pada masa penjajahan Belanda, kegiatan sepak bola di Bandung sudah menggeliat. Salah satunya dikenal dengan adanya "tim elite" Voetbal Bond Bandung & Omstreken (VBBO). Tim VBBO merupakan tim sepak bola yang dihuni oleh orang Belanda. Persib sebagai tim "kelas rakyat" kerap dianggap sebagai tim kampungan. Maklum saja, Persib waktu itu dikenal sebagi tim tarkam yang biasa bermain di pasisian kota Bandung. Persib biasa bermain di lapang-lapang desa dan jauh dari kesan elit dibandingkan dengan tim VVBO.  Gengsi menonton pertandingan yang menggelar VBBO memang lebih terasa. Waktu itu, VVBO biasa bermain di lapangan pusat kota Bandung, yaitu lapangan UNI (sekarang dekat Jalan Sunda) dan SIDOLIG (sekarang Lapang Persib, Jln. Ahmad Yani).

Namun, kekuatan pribumi akhirnya bisa mendapat hati di masyarakat. Persib adalah klub asli pribumi yang tentunya lebih mendapat tempat di masyarakat Bandung. Maka, lambat laun pamor Persib pun naik diringi dengan mula bergabungnya klub lain, seperti UNI dan SIDOLIG. Hal ini membuat pamor VBBO lambat laun meredep. Untuk strategi agar tidak kalah saing, VBBO sempat berganti menjadi PSBS. "Kekalahan" pamor pun akhirnya diakui VVBO, yang ditandai dengan penyerahan tiga lapangan yang biasa mereka pergunakan untuk bertanding, Lapangan UNI, Lapangan SIDOLIG (kini Stadion Persib), dan Lapangan SPARTA (kini Stadion Siliwangi).

Berlanjut pada masa penjajahan Jepang, kegiatan olahraga apalagi sepak bola milik pribumi sama sekali dihentikan. Penjajah Jepang sendiri kemudian mengganti nama Persib dengan nama klub Rengo Tai Iku Kai. Begitu masa Revolusi Fisik terjadi, keadaan tidak memungkinkan Persib untuk menjadikan Bandung sebagai pusat klub. Maka, Persib dengan bantuan dari prajurit Siliwangi, "cabang" Persib pun ada di Tasikmalaya, Sumedang, hingga Yogyakarta. Maklum saja pada waktu itu, para prajurit harus long march akibat agresi militer Belanda.

Setelah keadaan agak aman, pada 1948 Persib kembali berdiri di Bandung. Namun, masalah untuk mempertahankan eksistensi Persib kembali datang. "Rival" dahulu bernama VBBO kembali hadir. Rupanya VVBO didirikan kembali oleh Belanda (NICA). Persib pun dengan kekuatan perjuangan nasional tentu saja dengan sekuat tenaga berusaha menggagalkan upaya tersebut. Tercatat nama dokter Musa, Munadi, H. Alexa, Rd. Sugeng dengan Ketua Munadi yang kembali membangkitkan Persib untuk terus eksis di masyarakat. Perlawanan pada penjajah dilakukan dengan menjadika Persib sebagai klub yang bisa dicintai oleh warga Jawa Barat.

Pada1953-1957 dengan dukungan dari Wali Kota Bandung saat itu R. Enoch, Persib membangun Sekretariat Persib di Cilentah. Kemudian, atas upaya R. Soendoro, Persib berhasil memiliki sekretariat Persib yang sampai sekarang berada di Jalan Gurame (dekat Universitas Langlangbuana/Pasar Ancol). Inilah masa awal-awal kebangkita Persib di kancah persepakbolaan Nasional. Tecatat, Persib pernah menjuarai kompetisi pada 1961, 1986, 1990, dan 1994. Persib pun, berhasil menjadi tim peringkat kedua pada 1950, 1959, 1966, 1983, dan 1985.

Sejarah keperkasaan tim Persib dengan kapten Robby Darwis pernah merengkuh juara pada Liga Indonesia I tahun 1995. Saat itu, Persib memiliki punggawa yang 100% berasal dari pemain lokal berhasil menembus dominasi tim tim eks galatama yang merajai babak penyisihan dan menempatkan tujuh tim di babak delapan besar. Persib akhirnya tampil menjadi juara setelah mengalahkan Petrokimia Putra melalui gol yang diciptakan oleh Sutiono Lamso pada menit ke-76.


Namun perjalanan Persib pun mengalami pasang surut. Pada 2003, Persib hampir saja terdegradasi ke Divisi I. Namun, melalui babak playoff, Persib kembali masuk kasta di Divisi Utama. Persib pun sampai sekarang tetap menjadi idola dan kebanggaan warga Jawa Barat. Selain nama besar yang disandangnya, baik, Persib juga banyak menghasilkan pemain yang sering dipanggil untuk main di tim nasional. Sebut saja pemain sekelas: Risnandar Soendoro, Nandar Iskandar, Adeng Hudaya, Heri Kiswanto, Ajat Sudrajat, Yusuf Bachtiar, Dadang Kurnia, Robby Darwis, Budiman, Nur'alim, Yaris Riyadi,  Erik Setiawan, hingga generasi Eka Ramdani dan Atep.Selain itu, Persib pun dikenal dengan suporter fanatiknya yang dikenal dengan sebutan bobotoh. Persib dianggap sebagai salah satu tim di jagad ini yang memiliki suporter terbanyak. Maka tak heran, jika Persib pun tak pernah kekurangan sponsor.

Lihat video: Persib dari Masa ke Masa