Review

Asep Sunandar Sunarya: Menyebarkan Nilai-Nilai Kehidupan Lewat Media Wayang Golek





Dalam tulisannya yang berjudul Ars Poetica penyair asal Venosa, Italia bernama Quintus Horatius Flaccus mengemukakan istilah ‘dulce et utile’. Bahwa sastra berfungsi ganda, ia tidak hanya menghibur (dulce) karena menampilkan keindahan, tetapi juga memberikan makna (utile) terhadap kehidupan atau memberikan pelepasan ke dunia imajinasi. Wayang golek, aset seni budaya dari Tatar Sunda yang memiliki nilai eksklusif sekaligus bergengsi mampu merefleksikan hal itu. Wayang golek dalam tangan Bah Asep mempunyai daya magnet tersendiri dalam seni pertunjukan wayang. 

Ketika di sebuah daerah digelar pertunjukan wayang golek dengan ada embel-embel "Sunarya" di belakangnya,  termasuk juga wayang golek dari Giri Harja 3 pimpinan Abah Asep Sunandar Sunarya, dipastikan masyarakat akan berbondong-bondong memenuhi lapangan. Ya, di sini keterpaduan rasa dan kebanggaan akan seni tradisi ini telah menjadikan wayang sebagai hiburan yang bisa dikatakan memegang tampuk mercusuar sebuah pertunjukan yang bergengsi. Berapa puluh juta rupiah yang harus digelontorkan sang empunya hajat jika ingin menanggap dalang Asep Sunandar Sunarya? Berapa puluh atau ratusan orang yang bisa meraup rejeki dari pertunjukan Abah Asep? Para pedagang akang siap-siap dari sore hari untuk menggelar dagangannya karena mereka tahu betul prinsip usaha "di mana ada gula, di sana ada semut."

Wayang golek adalah salah satu identitas urang Sunda dalam bidang seni. Para penonton rela menonton pertunjukan hingga subuh hari. Inilah mungkin pertunjukan yang bisa disebut pertunjukan terpanjang dalam sebuah pertunjukan seni. Maka, nama Asep Sunandar pun menjadi fenomena tersendiri dalam sejarah seni budaya Sunda. Ia pun bukan hanya "jago kandang" namun pertunjukannya mampu mewakili konsep think locally act globally, dimana ia mampu merambah ke luar negeri dalam memperkenalkan seni bercerita dengan menggunakan boneka kayu ini.


Asep yang dibesarkan oleh pamannya,  Djadja hingga lulus SMP mulai belajar mendalang pada ayahnya, tahun 1968. Tahun 1970 sudah mulai tampil, terutama siang hari. Asep Sunarya ikut kursus pedalangan di Yayasan Pedalangan Jawa Barat dan lulus tahun 1972. Setelah itu berbagai prestasi pedalangan diraihnya. Tahun 1979 dan 1980 berhasi menjadi Juara I dalam perlombaan (Binojakrama) Pedalangan se-Jawa Barat. Tahun 1985, ia memperoleh Bokor Kencana Astagina sebagai Rombongan Pinilih se-Jawa Barat.

Dalang Abah Asep pernah memperolah berbagai penghargaan, di antaranya dari Gubernur Jawa Barat dan dari Presiden Republik Indonesia (1995). Saat menggelar pertunjukan wayang golek, ia sangat terampil dalam memainkan hampir semua tokoh wayang seperti Pendeta, Kresna, Arjuna, Bima, Gatotkaca, dsb. Apalagi dalam memperagakan tokoh Semara dan punakawan (Cepot, Dawala, dan Gareng), baik di dalam dialog maupun dalam memainkan pertarungan melawan para buta (raksasa). Kemunculan para punakawan dan para buta adalah saat yang ditunggu-tunggu penonton. 

Selipan bodoran-bodoran verbal dan tingkah laku punakawan dan para buta akan membuat penonton cenghar alias ceria kembali walau pertunjukan telah memasuki waktu dini hari. Satu lagi, dialog para wayang pun kerap diselingi penerangan kepada peononton berupa pepatah, falsafah, serta ajaran agama Islam. Asep mampu bersikap fleksibel dalam menuturkan cerita wayang yang sangat membumi sehingga penonton pun tak merasa sedang digurui atau sedang didakwahi secara langsung.

Sebuah pertunjukan yang menarik apabila ia menarikan wayang Rahwana dan yang sejenis, Gatotkaca, serta Narayana atau yang sejenis. Di dalam jejer pertama, ia menarikan tokoh wayang Maktal (pengganti emban cantik) dengan amat menarik. Bentuk-bentuk peperangannya amat kaya dan kreatif, yang ia ambil dari pola tradisi dilengkapi dengan trik-trik gerakan silat, sandiwara, film di layar televisi untuk adegan perang para panakawan dengan para raksasa. Selain itu, ia meramu garapannya dengan meniru garapan wayang kulit purwa, terutama dalam tarian, perangan, dan iringannya.

Seorang pakar Sosiologi yang mengatakan bahwa tidak ada generasi yang puas dengan mewarisi pusaka yang diterimanya dari masa lalu, oleh karenanya dia berusaha untuk membuat sumbangannya sendiri (Maurice Du-Verger, 1981: 356). Hal tersebut rupanya dilakukan Asep Sunandar Sunarya yang memberi inovasi baru dalam seni pertunjukan wayang. Ya, walaupun ia dulu dianggap telah "keluar" dari pakeman wayang.

Namun, rupanya ia paham betul makna pepatah Sunda "kudu miindung ka waktu, mibapa ka zaman" yang artinya kondisi paneka jaman alias tuntutan zaman harus bisa disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Apalagi zaman sekarang "saingan" seni pertunjukan begitu membombardir dan wayang salah satunya dianggap seni kampung; dimana generasi muda pun leungiteun obor terhadap seni pertunjukan wayang yang lahir di tanah mereka sendiri.

Abah Asep dikenal piawai di dalam merefleksikan sabetan wayang (gerakan wayang). Di tangannya, boneka-boneka wayang tersebut betul-betul tampak hidup, misalnya saat adegang ngibing atau juga dalam pertarungan (gerakan silat). Begitu juga saat si Cepot datang dengan kaki sebelah yang mempertontonkan aksi pencak silat atau juga ketika wayang buta (raksasa) mengeluarkan mie saat kena tonjok. Selain itu, Abah Asep dapat memperkaya khazanah sabetan wayang golek yang cukup unik, melalui beragam wayang baru hasil kreasi dirinya sendiri yang diawali oleh Dalang Ade Kosasih Sunarya.

Itulah yang membuat pertunjukan wayang Abah Asep selalu mendapat antusiasme tersendiri di hati penonton; ia mampu "menghipnotis" penonton dengan kepiawaiannya dalam seni bertutur dan juga seni mengolah gerakan wayang. Namun di balik itu, banyak pepatah-petitih kehidupan yang ia sampaikan kepada para penikmat wayang golek. *(AA)