Review

Wisata Jejak Bung Karno di Kota Bandung




wisata jejak soekarno di Bandung

"Aku kembali ke Bandung dan kepada cintaku yang sesungguhnya." - Bung Karno

Bandung, kota yang sarat akan ragam peninggalan sejarah para tokoh bangsa ini. Namun sayangnya, jejak-jejak itu belum dikelola secara maksimal atau mungkin mulai lunturnya minat masyarakat terhadap wisata sejarah. Ini beda jauh dengan wisata alam, wisata kuliner, atau wisata belanja yang selalu diburu oleh pengunjung, bahkan foto-fotonya selalu update di jejaring media sosial. Padahal wisata jejak para tokoh besar bangsa ini jika digali akan menjadi sumber pembelajaran bagi generasi penerus. Salah satunya jejak peninggalan Presiden pertama Indonesia, Soekarno. Ia yang kerap dipanggil Bung Karno ini menjadikan Bandung sebagai salah satu kawah candradimuka dalam pergerakan perjuangan membangun bangsa ini.

1. Kampus ITB
Jika menilik dalam lembar kisah perjalanan kehidupan Bung Karno di Kota Bandung, ia tercatat sebagai salah satu mahasiswa  Technische Hoogeschool te Bandoeng yang sekarang dikenal Institut Teknologi Bandung (ITB). Di kampus yang berada di kawasan utara Bandung ini ia menjadi aktivis yang melahirkan gerakan-gerakan bagi arah perjuangan bangsa. Jejaknya dalam menuntut ilmu di  Technische Hoogeschool te Bandoeng salah satunya ia aplikasikan dalam bentuk gedung-gedung hasil karyanya di Kota Bandung yang sampai sekarang masih ada.

2. Rumah Inggit Garnasih
Bukan hanya kisah masa kuliahnya di Bandung, kisah asmaranya dengan Ibu Inggit Garnasih meninggalkan jejak yang masih ada hingga sekarang. Salah satunya rumah Ibu Inggit yang ada di kawasan Ciateul. Di tempat itulah, Soekarno muda mengalami kisah hubungan dengan seorang wanita yang rela berjuang demi membantu cita-cita sang suami menggelorakan semangat juang bangsa ini. Ibu Inggit pula yang rela berjalan berpuluh kilometer dari Ciateul menuju Penjara Sukamiskin demi rasa cintanya kepada Engkus, panggilan kesayangannya pada sosok lelaki yang kelak menjadi Pemimpin Besar Revolusi bangsa ini.

Waktu itu, Soekarno melanjutkan kuliah ke Bandung, menjalani kehidupan sebagai anak kost di rumah Inggit Garnasih. Benih-benih cinta tumbuh di antara induk semang dan anak kost yang terpaut usia 13 tahun itu. Soekarno menemukan sosok seorang ibu yang menghangatkan, melindungi, mengayomi sekaligus teman untuk berbagi kasih. Saat menikahi Inggit, Soekarno menandatangani sebuah surat perjanjian yang berisi pernyataan yang diminta oleh H. Sanusi, suami Inggit bahwa: Soekarno tidak akan menyakiti Inggit.  Inggit rela berjualan bedak untuk membantu ekonomi keluarganya. Kini, jasad Ibu Inggit terbaring tenang di Pemakaman Porib, Jalan Caringin Bandung.

3. Makam Marhaen
Di sini tempat peristirahatan Bapak Marhaen wafat tahun 1943. Sumber karya mulya yang utama PYM Ir. Soekarno merupakan jembatan emas menuju pintu gerbang kemerdekaan bangsanya. Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat. Itulah tulisan yang tertulis pada prasasti di makam Marhaen di Kampung Cipagalo, RT 04/03, Kelurahan Mengger, Bandung Kidul, Kota Bandung.

Bicara Soekarno di Kota Bandung, ada nama sang petani asal Bandung Selatan yang mematrikan faham Marhaenisme yang membangkitan jiwa nasionalisme sang Proklamator. Sosok itu bernama Marhaen dan kerap dipanggil Mang Aen, hidup sebagai petani desa dengan kebanggaan sebagai rakyat Indonesia dijumpai Bung Karno pada tahun 1926-1927. Mang Aen yang mempunyai berbagai faktor produksi sendiri termasuk lahan pertanian, cangkul dan lain-lain yang ia olah sendiri, namun hasilnya hanya cukup untuk kebutuhan hidup keluarganya yang sederhana. Kondisi ini kemudian memicu berbagai pertanyaan dalam benak Bung Karno, yang akhirnya melahirkan berbagai dialektika pemikiran sebagai landasan gerak selanjutnya.

4. Gedung Indonesia Menggugat
Jejak Soekarno di Kota Bandung dapat dijumpai juga di Gedung Indonesia Menggugat (GIM). Di tempat yang kini biasa menjadi "sarang" para seniman Bandung beraktivitas, Soekarno menjadi sosok sang penggugat pada penjajah Belanda. Gedung di Jalan Perintis Kemerdekaan ini sebelumnya berfungsi sebagai rumah hunian. Gedung ini pun sempat mengalami renovasi akibat kebakaran. Setelah renovasi, gedung ini kemudian beralih fungsi menjadi Landraad atau Gedung Pengadilan Negeri Belanda pada tahun 1917. Mulai saat itu gedung ini terkenal dengan nama Den Landraad Te Bandoeng.

5. Penjara Soekarno di Banceuy
Ketika itu, ia harus mendekam di Penjara Banceuy. Di penjara yang kini berubah menjadi kawasan sentra bisnis ini, Soekarno menempati sel nomor 5 yang hanya berukuran 2,5 x 1,5 meter dan berisi kasur lipat juga toilet nonpermanen. Namun di sini, kita masih bisa menemukan jejak-jejak peninggalan Soekarno. Salah satu yang "disisakan" adalah bekas sel Soekarno.

Saat itu, pada akhir Desember 1929, Soekarno yang menjabat Ketua PNI dijebloskan ke Penjara Banceuy bersama rekan satu pergerakannya, yaitu R. Gatot Mangkoepradja (Sekretaris II PNI Pusat PNI), Maskoen Soemadiredja (Sekretaris II Cabang Bandung), dan Soepriadinata (Anggota PNI Cabang Bandung).

Di ruangan pengap ini pula, Soekarno menyusun pidato pembelaan (pledoi) yang dibacakan pada sidang Pengadilan Hindia Belanda di Gedung Landraad alias kini yang dikenal Gedung Indonesia Menggugat di Jalan Perintis Kemerdekaan (dahulu Jalan Gereja). Pledoi dengan judul Indonesie Klaagt Aan (Indonesia Menggugat) pun menjadi terkenal.

6. Lapas Sukamiskin
Kisah perjalanan Soekarno di Kota Bandung berada di beberapa titik napak tilas sejarah, salah satunya Lapas Sukamiskin. Penjara yang kini disebut sebagai penjara khusus koruptor ini,  Soekarno menulus buku fenomenal: Di Bawah Bendera Revolusi. Soekarno merasa penjara Sukamiskin lebih parah ketimbang penjara Banceuy, tempat dia ditahan saat masih menjalani persidangan di pengadilan. Di penjara Banceuy, dia masih bisa mempelajari sejarah lewat buku dan surat kabar meskipun dengan syarat yang berat. 

7. Gedung Merdeka
Nah, tempat lain yang tak kalah fenomenal dalam mengangkat citra Kota Bandung pada era Soekarno adalah Gedung Konferensi Asia Afrika (KAA). Pada 18 - 24 April 1955 sejarah mencatat Konferensi Asia-Afrika berlangsung di Gedung Merdeka, Bandung. Persidangan ini diresmikan oleh Presiden Soekarno dan diketuai oleh PM Ali Sastroamidjojo. Hasil dari persidangan ini berupa persetujuan yang dikenal dengan Dasasila Bandung.

8. Bangunan Karya Soekarno
Sebagai arsitek, Soekarno banyak melahirkan karya bangunan di Bandung. Salah satunya bangunan kembar di Jln. Gatot Subroto (depan Hotel Papandayan). Ada juga masjid (didirikan 1935) dengan menara bergaya Timur Tengah yang terletak di Jl. Perintis Kemerdekaan dekat Viaduct, namun dihancurkan pada tahun 1977 yang sekarang berdiri Masjid Persis. Ada pula rumah-rumah karya Ir. Soekarno yang mempunyai ciri khas atap susun berbentuk limas dan sungkup diatasnya, terletak di Jl. Kasim, Jl. Mangga dan Jl. Ahmad Yani. Karya lainnya ada Gedung Gabungan Koperasi Republik Indonesia yang dibangun berdasarkan rancangan Soekarno dan Ir. Roosseno di Jln. Lengkong (perempatan) yang bergaya arsitektur Art Deco Streamline.

Bandung pula dimana pada 1927 para tokoh nasional seperti Dr. Tjipto Mangunkusumo, Mr. Sartono, Mr Iskaq Tjokrohadisuryo dan Mr Sunaryo mendirikan PNI. Selain itu para pelajar yang tergabung dalam Algemeene Studie Club (ASC) yang diketuai oleh Ir. Soekarno turut pula bergabung dengan partai ini. Sementara saat masih berkuasa, Presiden Soekarno mempunyai penjahit langganan di Jln. Braga yang bernama Savel Ful. Tempat lainnya yang menjadi tempat makan Soekarno ada di Jalan Dalem Kaum. Namanya Rumah Makan Madrawi kerap menjadi langganan Soekarno semasa menimba ilmu di Bandung hingga dirinya menjadi Presiden. Rumah makan yang menyediakan sate madura ini kini hanya tinggal kenangan alias sudah tidak ada.