Review

Sejarah Warung Nasi Ampera





Bagi Anda para penikmat kuliner di Kota Bandung pasti sudah tidak asing dengan Warung Nasi Ampera. Rumah makan dengan logo "a" ini sudah dikenal lama oleh masyarakat Kota Bandung. Sajiannya beragam jenis, dari ikan, daging ayam bakar dan goreng, peuteuy, jeroan, tahu-tempe, telur, dan aneka minuman. Di Bandung sendiri, Warung Nasi Ampera ini sudah banyak berdiri di beberapa titik. Sebut saja WN Ampera yang ada di Jln. Soekarno-Hatta,  Dalem Kaum, King's, OTISTA, Cibabat, Padalarang, Suci, Buah Batu, Pajajaran,  Arcamanik, Terminal Leuwipanjang, hingga di daerah Bojongsoang Kab. Bandung. 

Sekarang pun cabang Warung Nasi Ampera sudah merambah ke kota-kota lain di luar Bandung. Warung Nasi ini menyediakan aneka makanan khas Sunda dengan konsep parasmanan. Suasana ala Sunda memang sangat kental dari mulai antre mengambil nasi dan lauknya hingga makan ala botram. Tentunya untuk menu yang kalah penting ciri khas sambal dan lalapannya. Tidak heran jika setiap hari pengunjungnya selalu penuh, apalagi saat weekend terlebih lagi saat buka puasa.

Di balik pesatnya perkembangan bisnis WN Ampera, adalah terminal Kebon Kelapa Bandung (sekarang menjadi ITC Kebun Kelapa) pada tahun 1963 yang menjadi saksi sejarah tumbuh kembangnya WN  Ampera. RM Ampera didirikan oleh H. Tatang Sujani S.Sos beserta istri, Hj. St.E. Rochaety (alm) merintis usaha warung nasi yang menyajikan masakan khas Sunda. Konsep warungnya sendiri seperti halnya warteg. Dan sampai sekarang pun tetap digunakan sebutan "Warung Nasi Ampera", bukan "Rumah Makan". Jika Anda generasi 80-an mungkin pernah merasakan makan di warung nasi Ampera. Warung nasi ini dikenal dengan aneka sajian lauk pauk dan tentunya harganya yang murah meriah. Berbagai kalangan bisa menikmati makanan di warung nasi Ampera.

Waktu itu, para pelanggannya kebanyakan adalah para sopir angkot, sopir bis, calo terminal, hingga tukang becak. Biasanya mereka mampir untuk makan siang. Adapun sajian dilakukan dengan model "geksor" alias barang gek langsung golosor (ketika duduk, pesan makan, langsung disajikan). Ya, tidak beda jauh dengan warung nasi pada umumnya. Selain itu, pada waktu itu di Terminal Kebon Kalapa banyak juga warung nasi serupa. Para pelanggan dapat menikmati suasana  WN Ampera yang lebih akrab. Tentunya pula dengan "diiringi" hingar bingar suara deru mesin kendaraan umum dari angkot hingga bus. Namun, kenikmatan santap di warung nasi Ampera sangat terasa. Apalagi dengan ditemani minuman teh hangat yang menjadi ciri khasnya.

Seiring dengan perjalanan waktu, terminal Kebon Kelapa semakin ramai dan pelanggan WN Ampera pun semakin banyak. Selain para sopir, pelanggan WN Ampera berkembang dari berbagai kalangan baik yang hanya singgah maupun dari masyarakat Bandung sendiri yang sengaja datang ke WN Ampera untuk mengisi perut. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari mutu masakan, pelayanan prima serta harga masakan yang dijual di WN Ampera yang cukup murah.

Dengan kondisi seperti tersebut di atas, WN Ampera di Kebon Kelapa yang tidak seberapa besar tidak mampu lagi menampung para pengunjung, sehingga pada pertengahan tahun 1984 akhirnya WN Ampera membuka rumah makan cabang pertama di Jalan Astana Anyar Bandung yang jaraknya hanya sekitar 1 km dari Kebon Kelapa.

Usaha WN Ampera pada awal tahun 1994 mulai menunjukkan perkembangan yang sangat pesat dan sangat menjanjikan. Sehingga pada saat ini lebih dari 80 cabang Warung Nasi Ampera telah tersebar di wilayah Indonesia. Restoran /rumah makan WN Ampera yang mempertahankan cita rasa khas Sunda yang merupakan resep para leluhur Urang Sunda dengan selalu mengutamakan mutu dan dengan dukungan manajemen sederhana mulai mengepakkan sayapnya.