Review

Bercengkrama dengan Kesejukan Alam di Gunung Puntang





Jika Anda ingin merasakan segarnya suasana alam pegunungan, cobalah sekali-kali mengadakan perkemahan di Gunung Puntang. Di sana, Anda bisa merasakan bagaimana sejuknya alam pegunungan di kawasan Bandung Selatan. Air mengalir masih jernih ditambah jika malam hari memandang langit akan terlihat jelas bintang bertaburan. Daerah camping ground ini masih termasuk bebas dari polusi. Tempat ini biasa dijadikan lokasi perkemahan terutama yang mengadakan kegiatan seperti kegiatan kantor, sekolah, atau komunitas. 

Kawasan Wanawisata ini bisa dicapai dengan rute yang ringkas dari pusat kota ke arah Banjaran, naik angkot berwarna cream dari stasiun Tegalega. Turun di terminal Banjaran, perjalanan dilanjutkan dengan angkot lain yang menuju ke arah Purtil/Cimaung, hingga mencapai gerbang area Gunung Puntang. Atau silakan mengambil rute sedikit berputar dari arah Cimahi menuju Soeang, dilanjut ke arah Banjaran, lalu disambung dengan angkot menuju Purtil/Cimaung.

1. Puing-Puing Sisa Bangunan Stasiun Pemancar Radio Malabar

Di sini, Anda bisa hiburan kembali ke alam bebas sekaligus juga wisata sejarah. Di sini tersisa puing-puing bangunan peninggalan zaman kolonial Belanda. Ya, pada masa pemeintahan Hindia Belanda, tepatnya pada periode 1917- 1929, di kawasan Gunung Puntang pernah berdiri stasiun pemancar Radio Malabar. Konon, siaran radio dari tempat ini dapat terdengar hingga ke negeri Belanda yang berjarak 12.000 km jauhnya. Yang menjadi ikon di tempat ini, salah satunya adalah sisa struktur dinding kolam berbentuk hati yang kini dikenal dengan nama Kolam Cinta.

Selain bangunan utama stasiun pemancar yang dirintis De Groot, dibangun pula area komplek perkantoran dan rumah dinas yang dulu dihuni para awak radio. Keberadaan rumah-rumah dinas itu membuat kawasan ini dahulu pernah dikenal dengan nama Kampung Radio atau Radio Dorf dalam bahasa Belanda. Perkampungan ini dilengkapi fasilitas yang cukup lengkap, diantaranya beruupa lapangan tenis dan bioskop yang diperuntukkan bagi orang-orang Belanda yang tinggal di dalamnya.

Menurut catatan sejarah, hanya tiga putra bangsa yang pernah tinggal di komplek Kampung Radio Gunung Puntang,. Mereka adalah Djukanda, Sudjono, danSopandi. Saat ini, lokasi tempat Radio Dorf pernah berdiri digunakan sebagai area Bumi Perkemahan Gunung Puntang. 

2. Peninggalan Gua Belanda
Di Gunung Puntang juga terdapat satu gua peninggalan Belanda. Total panjang gua yang teerdapat di kawasan Wanawisata Gunung Puntang ini sekitar 200 meter. Pada bagian tengah gua terdapat jalan bercabang yang saling berhubungan membentuk jalur segi empat. Konon, gua ini tembus hingga lokasi Curug Siliwangi. Sejarah lain menyebutkan, pada masa Hindia Belanda, gua ini digunakan sebagai tempat untuk menyimpan peralatan dan perlengkapan yang diperlukan Stasiun Pemancar Radio Malabar.

3. Curug Siliwangi
Konon, air terjun ini merupakan tempat pelarian ketika Sang Prabu dikejar oleh musuh. Untuk mencapai Curug Siliwangi, pengunjung harus menempuh medan jalan yang menanjak sejauh empat kilometer dengan berjalan kaki dari gerbang masuk wanawisata Gunung Puntang.

4. Taman Bougenville
Di daerah Gunung Puntang, Anda juga bisa berkunjuang ke Taman Bougenville yakni  Resort rekreasi yang berhawa sejuk, terletak di kaki Gunung Puntang, tepatnya di Jln. Gunung Puntang, Desa Campaka Mulya, Kec. Cimaung, Banjaran-Pangalengan Kab. Bandung. Di sini, Anda bisa menikmati suasana alam dengan hutan pegunungan, sawah, ladang yang memberikan nuansa asri, alami yang menentramkan hati setiap pengunjung.

Taman Bougenville akan menyatukan diri kita dengan alam, meninggalkan rutinitas, menghilangkan kejenuhan, sekaligus membangun kembali kesegaran jasmani dan rohani secara alamiah.
Taman Bougenville sangat pas untuk acara keluarga, reuni, familly gathering, camping, outbound adventures dan masih banyak lagi. Berikut adalah fasilitas yang dapat dinikmati oleh pengunjung Taman Bougenville dengan membayar tiket masuk:
a. Taman Alam.
b. Kolam Renang.
c. Alur Luncur & Waterboom.
d. Arena bermain anak.