Review

Sejarah Balai Perguruan Putri (Van Deventerschool)





Bila Anda berkunjung ke kawasan Bandung utara, ada salah satu bangunan peninggalan Belanda di Bandung adalah lembaga pendidikan Van Deventer Vereeniging Vor West Java. Kini bangunan tersebut dikenal dengan BPP (Balai Perguruan Putri) di Jalan Van Deventer No 14, Bandung. Sekolah ini didirikan untuk mengenang jasa Mr. Conrad Theodore van Deventer. Sekolah ini kemudian dikenal dengan nama Balai Perguruan Putri. Ini merupakan sebuah sekolah guru putri (meisjenormaalschool) pada zaman kolonial Belanda. 

Mencetak Guru-Guru Putri
Sementara sosok Van Deventer sendiri ialah orang ahli hukum dari negeri Kincir Angin yang memprakarsai politik etis (politik balas budi Belanda kepada pribumi). Untuk itu, keluarga Van Deventer mendirikan Van Deventerschool di Bandung, beberapa tahun kemudian van Deventer meninggal. Van Deventerschooldiresmikan pada 24 Juli 1919 oleh istri Gubernur Jenderal Ny. Gravin van Limburg Stirum Sminia. 

Van Deventerschool/Van Deventer Vereeniging Vor West Java telah mencetak guru-guru putri hampir dua puluh tahun lamanya. Murid-muridnya pun berasal dari berbagai daerah. Hal ini karena Van Deventerschool tak ada di semua wilayah Hindia Belanda. Murid-muridnya pun tak terbatas pada kalangan bangsawan saja. Sayangnya, keadaan itu harus berubah saat pendudukan Jepang pada tahun 1942. Van Deventerschool Bandung harus dibubarkan. 

Dijadikan Markas Tentara Hingga Wisma

Sekolah itu lalu dijadikan markas tentara, sedangkan murid-muridnya terpaksa diungsikan ke Sekolah Guru Putri Yogyakarta. Van Deventerschool harus pindah ke Belanda. Bangunan warisan Belanda ini pun pernah digunakan ITB (Institut Teknologi Bandung) dan STO (Sekolah Tinggi Olahraga). Namun, pada 1952, perwakilan dari Belanda menyerahkan Van Deventerschool, termasuk semua kekayaan, bangunan sekolah dan tanahnya kepada sejumlah alumni dan tokoh pendidikan di Jawa Barat. Atas keputusan bersama, nama sekolah ikut berganti pada 1953, yakni menjadi Balai Perguruan Putri (BPP).

Sampai kini bangunan itu masih berfungsi sebagai sekolah. Terdapat 3 tingkatan pendidikan yang menempati kompleks tersebut: Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Taman Kanak-kanak (TK).  Bangunan bersejarah ini sebagian besar masih menggunakan bangunan lama peninggalan Belanda. Namun, ada beberapa bangunan baru dan bangunan lama direnovasi. Khusus untuk bangunan lama, tak ada sedikit pun yang diubah secara drastis. Termasuk dalam kompleks tersebut terdapat wisma yang sekarang diberi nama Wisma Van Deventer. 

Wisma ini terbilang baru meskipun bangunannya menggunakan bangunan lama. Wisma ini diresmikan 11 Desember 2006 oleh istri Danny Setiawan, Gubernur Jawa Barat saat itu. Wisma berkapasitas 150 tamu itu disewakan kepada masyarakat, lalu hasil sewanya digunakan untuk menunjang operasional sekolah