Review

Sinetron Komedi Preman Pensiun, Bandung Pisan Euy!




Sumber: rcti.tv

Pada awal tahun 2015, masyarakat mendapatkan hiburan baru setiap hari Senin - Sabtu mulai pukul 17.00 - 18.00. Sinetron komedi yang mengambil setting di Bandung ini disuguhkan di sebuah stasiun RCTI. Sambutan masyarakat, khususnya di Bandung begitu terasa, dibuktikan dengan antusiasme di media sosial hingga ajang meet and greet yang selalu dipenuhi para penggemar dari ragam kalangan.

Langsung Disambut Hangat Masyarakat
Sitkom ini ditayangkan perdana pada 12 Januari 2015. Pada season 1, sinetron ini menyajikan 36 episode dan berakhir pada 24 Februari 2015. Selanjutnya, sinetron ini disambung dengan season 2. Inilah mungkin sinetron yang menjadi media hiburan baru masyarakat ditengah tayangan-tayangan televisi yang sekarang ini lebih menonjolkan tayangan pertarungan elite politik; sitkom yang lebay; ataupun bencana dan musibah yang tak kunjung henti.

Tapi sudahlah, mending kita membahas tentang sinetron "Preman Pensiun ini. Serial bergenre komedi yang unik dan menarik karya MNC Pictures, "Preman Pensiun" dihadirkan kepada para penonton di layar kaca pada awal tahun 2015 langsung menyedot perhatian. Mungkin karena sajian dalam sinetron ini sangat membumi dan seakan menceritakan kisah nyata kehidupan di Kota Bandung. Misalnya, untuk Bandung sendiri urusan dunia preman ini sepertinya sudah tak asing, hingga dikenal adanya "nagara beling" yang identik dengan kawasan premanisme. Begitu pula dengan banyolan-banyolan disajikan dengan gaya banyol urang Sunda, namun dengan penyajian yang apik juga bisa diterima oleh kalangan di luar Sunda.

Sinetron "Preman Pensiun" dan Dokumentasi Seputar Bandung

Mat Drajat (Komar) dan Epy Kusnandar (Kang Mus)

Di sinetron komedi ini ada suatu hal yang patut dicermati mengenai pengaruh sinetron ini bagi Bandung sendiri. Sebagai media visual, film sebenarnya mempunyai manfaat lain dalam mendokumentasikan kota secara tidak langsung. Misalnya dulu, sang pemeran Bahar, Didi Petet pernah bermain dalam film "Kabayan Saba Kota". Dalam film tersebut jika diputar kembali, masyarakat Bandung akan merasakan perbedaan yang kentara antara suasana Bandung tahun 1980-an dengan keadaan di era Android ini. 

Dulu ketika Kang Didi Petet main jadi si Kabayan, terekam situasi Alun-Alun Bandung plus tempat perbelanjaannya, seperti Palaguna Nusantara yang kini sudah tinggal kenangan atau Parahyangan Plaza yang kini berubah jadi sentra kaos distro. Begitu pula pada sinetron ini, wajah Bandung masa kini terekam dalam kamera. Ketika sudut-sudut Bandung dari Jalan Burangrang, Terminal Cicaheum, hingga Bus Bandros suatu saat akan menjadi cerita tersendiri bagi generasi sekarang di masa yang akan datang. Entah sengaja atau tidak momentum Bandung kekinian era kepemimpinan Kang Emil "dimanfaatkan" untuk lebih "menjual" sinetron ini.

Di balik strategi penerapan cerita hingga segi marketing sinetron ini patut diacungi jempol. Biasanya sinetron-sinetron semacam FTV lebih banyak mengambil Bandung hanya sebagai set saja. Memang jalan-jalan, gedung-gedung peninggalan kolonial, hingga tempat wisata Bandung menjadi setting. Akan tetapi, "ruh" Bandung sebenarnya agak kurang terasa dalam FTV atau sinetron yang menjadikan Bandung sekadar disorot kamera semata. Untuk sinetron ini ada kekecualian, para pemain dan situasinya Bandung pisan pokona mah.

Pertama, dari segi pemilihan pemain yang pantas menggunakan dialek Sunda-nya begitu kentara dan tidak dibuat-buat. Untuk sinetron lain mungkin pemainnya dipaksa untuk berdialek ala Bandung dengan memaksakan kata panganteb (penguat) dalam bahasa Sunda: "mah", "teh", atau, "euy" tanpa kurang larap pada dialog yang diucapkan. Untuk "Preman Pensiun" rasanya kita lagi menonton urang Bandung ngabanyol. Mereka lebih lepas berdialog dan dibarengi ekspresi  muka dan gestur yang memang ciri khas urang Sunda.

Kedua, pemilihan setting yang Bandung pisan terlihat dari bangunan, jalan, hingga kawasan-kawasan publik. Lihat saja bagaimana preman yang sosorongot alias marah-marah di tengah terminal. Atau juga ketika Vespa yang dikendarai Kang Epy Kusnandar anteng melaju di tengah keramaian jalanan Kota Bandung. Saat lalajo, penonton mungkin akan mencoba mengingat: "Eh.. itu mah di jalan ini ya?".

Atau juga ikon kendaraan wisata Kota Bandung yakni Bus Bandros yang lagi ngetrend demi hasrat selfie sebagian para penumpangnya, dijungkirbalikkan imajinasi oleh sang nenek yang ingin selfie dengan anak muda plus bonusnya: Bus Bandros itu dipapangan alias si nenek ngompol di atas bus warna merah itu. Inilah cerdiknya sang penulis skenario Aris Nugraha yang memang piawai dalam membuat efek kejutan-kejutan di sitkom produksinya.

Ketiga, efek tontonan yang mengambil set suatu kota sejatinya bisa dijadikan media promosi yang efektif. Seperti di Barat sana, banyak tempat bekas syuting yang akhirnya jadi tempat wisata. Untuk Bandung, mengapa tidak? Ini mungkin cerdas-cerdasnya para pengurus kota untuk kerja sama dengan pihak produksi sinetron dalam menyelipkan momen dan objek-objek khas Bandung. Jika Ridwan Kamil yang lagi populer di medsos dijadikan cameo, apa salahnya?

Jadwal Tayang
Tayang Setiap Hari Senin - Sabtu pukul 17.00 WIB di RCTI

Seputar sinetron "Preman Pensiun":
- Video Youtube event: Klik di sini
- Akun Twitter para pemain:  Klik di sini