Review

Tips Berlatih Melafalkan Kata-Kata dalam Bahasa Sunda




Kadang timbul hal lucu ketika orang luar suku Sunda mengucapkan kata-kata dalam bahasa Sunda. Utamanya dalam pengucapan huruf vokal. Misalnya saat ramai berita banjir di daerah Dayeuhkolot, tak jarang para pembawa berita  di televisi mengatakan nama kampung Cienteng yang harusnya Cieunteung. Atau contoh lain pelafalan peyem yang seharusnya peuyeum; Cicahem seharusnya Cicaheum; Ciberem harusnya Cibeureum. Inilah kadang yang bikin susah dalam melafalkan kata-kata dalam bahasa Sunda.

Tak heran, jangankan orang luar Sunda, orang Suku Sunda sendiri yang sehari-hari menggunakan bahasa Sunda kadang tidak baku dalam menuliskan kata-kata dalam bahasa Sunda. Misalnya dalam status-status atau komentar di media sosial. Para pengguna media sosial tak sedikit yang menulis huruf tidak baku dalam penulisan kata-kata bahasa Sunda. Misalnya:
a. Wilujeung siang sadayana. (Selamat siang semua)
 seharusnya wilujeng
b. Punteun abdi mah teu teurang. (Maaf saya tidak tahu)
seharusnya punten dan terang.
c.  Urang geleh pisan nempona gé. (Saya sangat benci melihatnya juga)
seharusnya: geuleuh
d.  Urang kehel pisan ku kalakuan manéh! (Saya benci/marah banget sama kelakuanmu!)
seharusnya: keuheul

Abjad Latin dalam bahasa Sunda sama halnya dengan aksara (huruf) Latin (A-Z), namun ditambah dengan adanya aksara ny-, ng-, é (e curek), dan eu. Misalnya untuk ny- dan ng- dalam kata:
- Nyangu (asal kata dasar "sangu" artinya "nasi". Yang artinya menanak nasi).
- Nyeupah (asal kata dasar seupah, atau dalam bahasa Indonesia [daun] sirih)
- Ngarit (asal kata dasar ‘arit’ artinya sedang mengarit.)
- Ngodok (asal kata kodok, memasukkan tangan ke lubang)

Terkadang,yang membedakan cara bicara orang Sunda dengan orang luar Sunda adalah penggunaan é, e (e pepet), dan eu. Pengucapan é caranya dengan menarik pipi sehingga bibir seperti tersenyum. Sedangkan pengucapan eu caranya dengan kepala agak didongakkan ke atas, seperti kita ingin teurab (sendawa). 

Untuk melatih pelafalan kata-kata dalam bahasa Sunda, coba bedakan pengucapan kata-kata berikut :
1. Huruf É : témpé,Rancaékék, pélét, lélét, ménta, hésé, tétéh, Palémbang, motor bébék, céngék, pépés ikan,kasép, korék api, héhéhéhé,
2. Huruf E: Sumedang,pedang, gelas, Jember, kebon, ganteng, Semarang, seseg. merekedeweng
3. Huruf EU: Leuwipanjang,Cibeureum, heureuy, geulis, hideung, beuteung, beuheung, beungeut, seuneu, deudeuh, seuseuh, geuleuh, beubeut, ceuceuleuweungan, seueul, meungpeung, leuleus, ceurik, ceudeum.

Coba latih dengan membedakan pengucapan kalimat berikut:
- Tétéh caket treuk hideung (artinya: ‘Teteh dekat truk hitam’)
- Tétéh cakeutreuk hideung (artinya: ‘Teteh sangat hitam sekali’)

Ket. :
Tétéh = kakak perempuan/panggilan kepada perempuan yang lebih tua usianya dari kita.

Kesulitan penggunaan e dan é di keyboard komputer atau di keypad memang menjadi salah satu faktor. Maka penulisan huruf é sekarang ini lebih banyak ditinggalkan utamanya oleh penurut bahasa Sunda di media-media sosial. Kesulitan lainnya adalah adanya undak-unduk basa (tata krama berbahasa) dalam bahasa Sunda yang membuat penuturnya harus ekstra lagi dalam memilih kata-kata yang hendak disampaikan. Misalnya dalam bahasa Sunda penggunan kata datang saja ada versi untuk pribadi dan orang lain. Contoh penggunaan:
- Untuk pribadi: Abdi tos dongkap ti tadi siang. (Saya sudah datang dari tadi siang)
- Untuk orang lain: Saurna Pa Wali Kota badé sumping ka kantor kacamatan. (Katanya Pak Wali Kota mau datang ke kantor kecamatan)

Tambahan lainnya, ada juga kata-kata dalam bahasa Sunda yang pengucapannya hampir sama dengan bahasa Indonesia. Misalnya dalam pelafalan bahasa Indonesia rampok dalam bahasa Sunda rampog.  Atau ojek dalam bahasa Sunda jadi ojeg.

Untuk lebih memahami khazanah bahasa Sunda lainnya, silakan lihat link artikel-artikel yang ada di bawah. Hatur nuhun. *(A-001)