Review

Di Balik Peran Bobotoh: Persib sebagai Kebanggaan, Harga Diri, dan Hati





Sebutan "Bobotoh" sudah melekat pada Persib. Sayangnya, tidak sedikit yang memaknai sebutan tersebut sebagai julukan organisasi resmi. Maka, ketika ada permasalahan antarpendukung sepakbola, kata "Bobotoh" kadang dikaitkan seakan mewakili organisasi tertentu. Padahal, sebutan Bobotoh bermakna umum dan tidak terkait dengan organisasi mana pun.

Bobotoh dalam bahasa Sunda sejatinya mengandung makna 'orang-orang yang mempunyai kesamaan rasa untuk mendukung sesuatu'. Jadi pada makna sebenarnya, sebutan bobotoh ini sebetulnya lebih luas bukan hanya urusan dukung-mendukung Persib semata. Namun, seiring perkembangan sebutan ini memiliki makna menyempit.

Untuk memahami hal ini, kita rupanya perlu merujuk pada Kamus Basa Sunda (R. Satjadibrata), terbitan Kiblat:
- bobotoh: purah ngagedéan haté atawa ngahudang sumanget ka nu rék atawa keur ngadu jajatén artinya dalam bahasa Indonesia: 'pihak yang berperan membesarkan hati atau membangun semangat bagi mereka yang akan atau sedang berlomba atau bertarung'.
- ngabobotohan: ngalampahkeun pagawéan bobotoh. 'melakukan pekerjaan bobotoh'

Sudah jelas bukan? Jadi ketika Agustusan misalnya, ada rekan-rekan Anda yang akan mengikuti lomba panjat pinang, kemudian Anda berteriak-teriak menyemangati mereka, maka Anda bisa disebut bobotoh juga.

Bobotoh dan Sejarah Perjalanan Persib
Dulu tahun 1980-an ketika Persib sedang bertanding, para bobotoh sama seperti sekarang tumpah ruah di Stadion Siliwangi atau mereka pun datang ke pertandingan tandang Persib di kota lainnya. Tidak hanya mereka yang datang langsung menyaksikan pertandingan, bobotoh pun menyemangati Persib walau sekadar mendengarkan di radio transistor ataupun lalajo pertandingan yang disiarkan di TVRI. Sebelum adanya induk-induk organisasi, dahulu bobotoh datang adalah sama rata dan sama rasa tanpa embel-embel organisasi. Mereka cukup menamakan diri bobotoh yang  berasal dari daerah masing-masing, baik dari daerah Bandung sendiri maupun luar Bandung.

Bobotoh merupakan sekelompok suporter yang datang untuk mendukung Persib. Sejak awal-awal kelahiran Persib (dulu masih bernama BIVB), peran Bobotoh memiliki peran tersendiri. Apalagi pada zaman Revolusi Fisik, peran bobotoh sangat vital untuk mendukung keberlangsungan Persib. Maklum saja, Persib waktu itu dalam kondisi morat-marit akibat keadaan perang. Maka, Persib pun pernah membuat "cabang" di berbagai daerah seperti Tasikmalaya, Garut, Sumedang, hingga Yogyakarta untuk menjaga eksistensi karena tercerai berai akibat para pemain dan pengurus sedang dalam kondisi perang.

Maka jika kini banyak bobotoh dari berbagai daerah di luar Bandung, ya karena Persib dari dulu sudah menjadi bagian dari rakyat Jawa Barat. Apalagi dalam sejarah pendiriannya, Persib (BIVB) adalah harga diri bangsa pribumi. Waktu itu, Persib adalah klub pribumi yang berjibaku bersaing dengan klub binaan bangsa kolonial bernama VVBO. Hingga akhirnya Persib mampu merebut simpati rakyat, khususnya masyarakat Bandung dan umumnya masyarakat Tatar Jawa Barat. Untuk info tentang hal ini klik di sini.

Memaknai Kembali Makna Bobotoh
Entah karena pengaruh media yang ikut-ikutan memberi makna sempit pada sebutan "bobotoh" atau karena ketidaktahuan asal kata dari "bobotoh" itu sendiri, kini seakan-akan bobotoh identik dengan nama organisasi suporter pendukung Persib. Padahal, anak TK yang ikut pakai kaos Persib dan berteriak-teriak "Hidup Persib" adalah bobotoh dan dia tidak masuk organisasi manapun yang berafiliasi dalam urusan dukung-mendukung Persib. 

Bukan hanya peran media, bahkan sekelas ahli bahasa pun membuat sumir akan makna "bobotoh" ini. Buktinya, lema "bobotoh" terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Edisi IV. KBBI Edisi IV yang terbit pada tahun 2008, menyebut ”bobotoh” di hlm. 202 KBBI IV dengan arti kata 'sebutan untuk pendukung sepak bola' dengan kelas kata verba (kata kerja). Ini yang kemudian menjadi bias: pendukung sepak bola yang mana? Padahal jika merujuk pada sejarah pembentukan istilah tersebut, jika terjadi peminjaman kata bahasa Indonesia dari bahasa Sunda, arti "bobotoh" bisa lebih spesifik merujuk pada 'pendukung atau suporter klub Persib'. Ya, karena di KBBI makna sebutan "bobotoh" sebagai pendukung pun menjadi lebih spesifik merujuk ke bidang sepak bola. Padahal, dari makna kata dalam bahasa Sunda, makna pendukung tersebut lebih luas yakni pendukung aneka jenis lomba/pertandingan.

Pembentukan Organisasi Pendukung Persib oleh Para Bobotoh
Nah, yang kini perlu dipahami bahwa organisasi suporter Persib bukanlah bernama bobotoh. Tadi sudah disebut bobotoh adalah bersifat umum. Ketika media menyebut suporter Viking, itu baru organisasi suporter Persib. Viking pasti bagian dari bobotoh Persib, tapi bobotoh Persib belum tentu masuk Viking. Kecenderungan pembentukan organsisasi ini lahir pada era Liga Indonesia, dimana sebagian bobotoh kemudian mengorganisasikan diri ke dalam beberapa kelompok pencinta Persib seperti Viking, Bomber, Rebolan, Jurig Persib, Casper, Persib-1337, dan sebagainya.

Viking
Viking sendiri didirikan oleh Ayi Beutik, Heru Joko, Dodi “Pesa” Rokhdian, Hendra Bule, dan Aris Primat. Mereka mendirikan Viking pada 17 Juli 1993 di sebuah rumah di Jln. Kancra (dekat sekretariat Persib). Awalnya hanya segelintir Bobotoh yang setia menyaksikan Persib baik di laga kandang maupun tandang. Kini Viking sudah dikenal seantero Indonesia sebagai salah satu kelompok suporter terbesar.

Ladies Vikers
"Paras ayu, berhati biru" mungkin ini sebutan yang cocok untuk para anggota organisasi bobotoh afiliasi Viking yang dihuni para para perempuan pendukung Persib ini. Ladies Vikers mulai meramaikan dominasi mayoritas kaum adam yang menyaksikan pertandingan langsung di stadion. Tidak jarang kita melihat wajah-wajah cantik yang turut menghiasi tribun-tribun di Stadion Si Jalak Harupat maupun Stadion Siliwangi.


Bomber
Bomber atau Bobotoh Maung Bandung Bersatu mulai dirintis sejak 1997 tak kurang dari dua lusin perkumpulan bobotoh telah menyatakan sikap untuk berafiliasi dan akhirnya mendeklarasikan bomber di hotel SANTIKA Bandung pada tanggal 3 Agustus 2001. Dalam berdemokrasi bomber membebaskan perkumpulan yang berada dalam pondasi bomber untuk tetap memakai atribut kebesaran mereka masing-masing namun jika sudah berada di lapangan merekapun sepakat hanya akan mengibarkan bendera bomber.

Flower City Casual (FCC)
Flower City Casual (FCC) yang mengandung arti Casual dari Kota Bandung, merupakan satu dari sekian banyak kelompok suporter Persib yang selalu hadir Maung Bandung bertanding di kandang sendiri. Hadir dengan gaya casualnya dan tentu saja didasari kecintaannya terhadap Persib, FCC resmi berdiri pada tahun 2005 yang dipelopori oleh 3 orang pecinta Persib. Karena mempunyai kesamaan hobi dan kecintaan terhadap berbagai hal berbau Inggris atau British, FCC hadir diantara banyak kelompok suporter Persib dan memberikan dukungan positif kepada tim jagoannya. Pada dasarnya FCC ini sama dengan kelompok-kelompok suporter lainnya yang mendukung Persib, hanya saja yang membedakan mereka adalah dari penampilan yang apa adanya. *Abah

Lihat video: Viking Persib Club Euforia