Review

Peran Serta Masyarakat dalam Mewujudkan Bandung yang Genah, Merenah, Tur Tumaninah




Sumber: Twitter @ridwankamil
Ada yang sareukseuk alias kurang sedap dipandang ketika peringatan KAA ke-60 di Kota Bandung usai dilaksanakan. Tak sedikit fasilitas publik yang rusak, dari bangku-bangku di trotoar; hiasan bendera-bendera kecil yang dicabut; payung-payung di Jln. Otista yang didudut paksa; hingga emblem nama-nama negara di monumen bola dunia yang turut juga dicabut. Belum lagi urusan sampah yang berserakan setelah perhelatan akbar tersebut diselenggarakan.

Ada apa ini gerangan? Oknum-oknum masyarakat yang berkunjung ke area-area yang telah dibenahi tersebut setidaknya telah mencoreng keindahan Kota Bandung. Ketika sang Wali Kota ingin membuat indeks kebahagiaan warga Kota Bandung terus digenjot, tapi di sisi lain ada ketimpangan yang jauh panggang dari api. Ya, walaupun mungkin "sang tersangka" bukan orang Bandung sorangan. Namun, hal ini urusan tanggung jawab semua. Entah itu urang Bandung sendiri maupun para pelancong/pendatang sementara yang ingin ikut dalam euforia keramaian atau event yang digelar di Kota Bandung.

Hukum Media Sosial

Berita pengrusakan-pengrusakan fasilitas publik mungkin tidak cepat terangkat ke permukaan jika saja di media sosial tidak ramai dibicarakan. Ribuan kicauan di Twitter ikut "mengutuk" kelakuan oknum-oknum yang telah membuat sareukseuk Kota Bandung tersebut. Hal ini dari mulai ungkapan rasa miris hingga umpatan-umpatan. Laporan dari jejaring virtual tersebut menyebar secara viral dan sang Wali Kota pun ikut juga berkicau ikut menyesalkan kelakuan-kelakuan kurang merenah tersebut.

Sumber: Twitter @erwinmadmoron
Tindakan penyebaran foto oknum yang melakukan pengrusakan hingga tindakan kurang terpuji terus dilakukan, misalnya foto si ganteng yang seenaknya naik ke atas bangku. Memang pada akhirnya, sikap kebersamaan ini menumbukna semangat kebersamaan baru di Kota Bandung. Intinya, masyarakat ingin fasilitas publik dijaga dengan baik dan kelakuan para oknum bisa menjadi contoh bagi yang lain. Bandung yang sedang dibangun, hendaknya dibarengi dengan sikap warganya yang ikut juga beradab dan punya semangat menjaga kota tercinta ini.

Efek "penghukuman" di media sosial ini ternyata ada hasilnya juga. Penyebaran foto plus wajah lengkap sang pelaku akhirnya ada juga yang kemudian meminta maaf secara gentle. Pelaku meminta maaf dengan surat terbuka yang disampaikan kepada warga Bandung serta Kang Emil. Sikap sportif pelaku juga ditunjukkan dengan siap menerima "hukuman".

Sikap ini mendapat apresiasi dari warga yang lain. Adapun "hukuman" yang diberikan salah satunya beberesih di Jalan Braga. Pada akhirnya, kegiatan beberesih di Jalan Braga tersebut, bukan hanya si pelaku, tapi turut pula memancing warga lain untuk ikut serta. Inilah Bandung, dengan memegang prinsip duduluran, semua bisa diselesaikan dengan sikap arif dan bijaksana serta dengan niat rempug jukung sauyunan.

Membentuk Mental Masyarakat

Entah, mungkin bukan hanya di Bandung. Kebiasaan masyarakat untuk cuek bebek atau tuturut munding mengikuti tindakan yang salah, kerap jadi penyakit mental sosial yang masih perlu dibenahi. Sikap acuh tak acuh alias kumaha aing,  menimbulkan sisi egoisme yang menjadi duri dalam daging bagi namanya pembangunan. Untuk itulah, memang miris dimana kondisi sudah makin modern, namun sikap sebagian masyarakat masih saja ada yang kurang beradab. Intinya, masyarakat tong hayang ngeunahna wae. Dalam artian, hendaknya ada sisi rasa memiliki terhadap K3 di kota ini.

Untuk itulah, pola pendidikan dengan saling mengawasi bersama Kota Bandung mutlak sangat dibutuhkan untuk kemajuan kota ini. Percuma saja ide dan banyaknya fasilitas yang disediakan bagi masyarakat, namun jika masyarakatnya masih jalan di tempat, ya keneh kehed. Dalam hal ini, masyarakat pun punya tanggung jawab lebih untuk menjaga aset Kota Bandung. Untunglah, kehadiran media sosial sekarang ini mampu memperlihatkan bagaimana watak warga Bandung yang sebenarnya ingin Bandung genah, merenah, tur tumaninah.

Sumber: Twitter @farhanyulfan

Akhirnya, ini semua baru dimulai. Bahwa pembangunan fisik harus juga sejalan dengan pembangunan mental masyarakat. Untuk itu, jika sekarang ada tindakan-tindakan yang kurang merenah, siap-siap saja masyarakat Bandung telah jadi "CCTV". Maka, jika Anda buang sampah sembarangan dari mobil; merusak fasiliats publik/vandalisme; parkir sembarangan; menghentikan mobil di area RHK; atau sangeunahna memacu motor di trotoar, siap-siap saja wajah atau nomor polisi kendaraan Anda akan nampang di media sosial.

Dan Anda pun harus siap diwarah alias "di-bully"  oleh warga virtual. Mau? Namun yang pasti, teguran-terguran secara langsung di lapangan akan lebih baik dilakukan dibanding di virtual. Jadi tak perlu segala hal harus lapor wae ka Kang Emil di media sosial. Karena kalau segala hal yang harus laporan di media sosial, terkadang sulit membedakan mana yang ingin benar-benar laporan, mana yang hanya ingin numpang eksis. Jadi, jika Anda warga Bandung, lakukan yang terbaik dan semampu yang Anda bisa untuk ikut membenahi dan menjaga kota ini. Ini demi Kota Bandung tercinta. Jangan sampai pas kejadian, baru ribut alias pola represif. Rupanya tindakan preventif dari warga Bandung sendiri pun sudah mulai dibudayakan. Da, lamun lain ku urang, rek ku saha deui? Maenya, mun satiap aya masalah rek nyalahkeun ka tukang celep? (Nu teu ngarti, berarti lain balad Kang Ibing).

* (Tulisan kiriman: Abah, penulis lepas, editor, blogger Bandung).