Review

Sambutan Masyarakat Bandung Saat Konferensi Asia Afrika 1955




Bandung waktu itu sedang mengadakan hajat besar. Bayangkan saja, ada sekitar 1000 orang anggota delegasi plus para wartawan meliput KAA 1955 tersebut. Adapun hotel yang digunakan antara lain:
- Hotel Homann
- Hotel Preanger
- Hotel Grand Lembang
- Verlop Centrum Ciumbuleuit

Hotel Savoy Homann, Preanger, dan Astoria, disediakan bagi para staf delegasi. Para Perdana Menteri ditempatkan di puluhan bungalow atau rumah besar. Panitia Sekretariat Bersama 5 negara sponsor juga mencari 143 mobil sedan, 30 taksi, dan 20 bus untuk peserta konferensi dan wartawan. Supir yang disiagakan sebanyak 230 orang. Jumlahnya ketika itu tergolong besar dan cukup sulit didapat

Foto koleksi wisatabdg.com
Bahkan, Gedung Pension Pondsen (Gedung Dana Pensiun/Gedung Dwi Warna) di Jalan Diponegoro dikosongkan untuk menerima tamu. Untuk hotel di tengah kota, Hotel Homman ditempati para pemimpin delegasi dan para stafnya di Hotel Preanger.  Sementara para wartawan menempati Hotel Swarha yang terletak di seberang Gedung Kantor Besar/sebelah Masjid Agung.

Pada waktu itu, delegasi Indonesia terdiri dari PM Ali Sastroamidjojo sebagai Ketua dan Wakil Ketua Menteri Luar Negeri Sunario. Di antara anggota delegasi terdapat Menteri Perekonomian Rooseno dan Menteri PPK Mohammad Yamin. Seluruhnya 17 orang delegasi ditambah 16 penasihat.

Masyarakat menyemut ingin menyaksikan dan melihat wajah para tamu. Masyarakat Bandung berjejal di tepi jalan dimuka Hotel Homman. Sementara, para murid dan pasukan militer berdiri berjejer di muka Gedung Merdeka membuka jalan bagi wakil- wakil negara.


Para pemimpin bangsa tersebut disambut antusias oleh masyarakat yang berderet di sepanjang Jalan Asia Afrika. Masyarakat bertepuk tangan dengan bersorak sorai riang gembira. Perjalanan para delegasi dari Hotel Homann dan Hotel Preanger ini kemudian dikenal dengan nama Langkah Bersejarah (The Bandung Walks). Kira-kira pukul 09.00 WIB, semua delegasi masuk ke dalam Gedung Merdeka. Tak lama kemudian rombongan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta, tiba di depan Gedung Merdeka dan disambut oleh rakyat dengan sorak-sorai dan pekik “merdeka”.

Di depan pintu gerbang Gedung Merdeka kedua pucuk pimpinan pemerintah Indonesia itu disambut oleh lima Perdana Menteri negara sponsor. Setelah diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia : “Indonesia Raya”, maka Presiden RI Ir. Soekarno membuka pidato pada pukul 10.20 yang berjudul “Let a New Asia dan New Africa be Born” (Lahirlah Asia Baru dan Afrika Baru.).

Rombongan demi rombongan delegasi dari Hotel Homman didampingi polisi bersegaram di kanan dan kiri berjalan menuju gedung konferensi. Mereka mengenakan pakaian nasional. Rombongan dari Kamboja mengenakan jas putih dan celana hitam, serta sepatu panjang. Rombongan dari Vietnam mengenakan jubah berwarna kuning.

Salah satu tamu agung yang menarik perhatian masyarakat waktu itu adalah pakaian Hon Kojo Botsio dari Pantai Emas (kini Ghana). Ia mengenakan pakaian berwarna kuning bercorak hijau.

Konferensi Asia-Afrika juga melibatkan 10 ribu pelajar Sekolah Lanjutan Atas di Kota Bandung yang mengadakan aubade pagi hari, 20 April 1955 di Lapangan Tegallega diiringi Korps Musik Polisi Negara dari Jakarta di bawah pimpinan Soedjasmin  dan disaksikan angota delegasi  peserta KAA.