Review

Sekelumit Kisah di Balik Konferensi Asia Afrika 1955




Foto koleksi wisatabdg.com
Sabtu, 16 April 1955, sekitar pukul tujuh pagi, para wartawan dalam dan luar negeri sudah bersiaga di lapangan Terbang Andir, Bandung. Para wartawan akan mengabadikan kedatangan Presiden Soekarno beserta sang ibu negara, Fatmawati.

Selain itu, mereka juga dengan waswas menantikan Chou En- Lai (biasa juga ditulis Zhou Enlai), Perdana Menteri China. Kesaksian wartawan Indonesian Observer, Charlotte Clayton Maramis menyebutkan bahwa ia menjadi sosok penting karena tersiar kabar nyawa PM tersebut diincar oleh saudara sebangsanya sendiri. 

Tersebar berita bahwa pesawat yang ditumpangi Perdana Menteri China itu mengalami kecelakaan. Namun kemudian ada kabar bahwa Chou En-Lai tidak ada dalam pesawat itu karena dipindahkan ke pesawat lain. Hingga sore hari orang yang ditunggu tidak datang.

Menurut sumber yang beredar kemudian dikabarkan bahwa pesawat yang semula akan ditumpangi Zhou Enlai itu jenis Lockheed Constalation dengan nama Kashmir Princess, milik Air India yang dicharter oleh PRC untuk mengangkut delegasi mereka ke KAA di Bandung. Pesawat itu singgah di Hong Kong (masih merupakan koloni Inggris).

Agen-agen Taiwan berhasil menyelundup dan memasing bom waktu, yang meledak sewaktu pesawat itu masih terbang di atas laut Andaman. Mungkin dinas rahasaia PRC sudah mencium usaha Taiwan tersebut, sehingga memindahkan Zhou Enlai ke pesawat lain.

Orang yang ditunggu akhirnya baru datang kira-kira pukul 10 pagi, keesokkan harinya Minggu 17 April 1955. Chou En-Lai datang bersama 28 anggota delegasi RRC. Seorang pelajar pria SMP 2 Cihampelas Bandung mengalungkan karangan bunga ke lehernya. PM Zhou dan PM Indonesia Ali Sastroamidjojo bersalaman dan berpelukan. Mereka saling menyapa dengan semangat.

Foto koleksi wisatabdg.com
Ada juga utusan Presiden Filipina Ramon Magsasay, yaitu diplomat  Charles Romulo. Ia datang bersama Senator Emmanuel Pelaez (kelak menjadi Wakil Presiden Filipina pada 1961 - 1965) dan Sekretaris II dari Kementerian Luar Negeri Filipina Raul Manglapus. Merke disambut Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo juga Sanusi Hardjadinata, Gubernur Jawa Barat saat itu.

Sebelumnya, Filipina sempat diberitakan menolak menghadiri KAA. Keanggotaan negeri ini dalam SEATO (Pakta Pertahanan negara-negara Asia Tenggara) yang digagas AS dan isu politik bahwa KAA akan menjelma menjadi blok anti barat dan anti kulit putih. Negara lain yang ikut menandatangani SEATO adalah Negeri Gajah Putih, Thailand.