Review

Tayangan Perdana Preman Pensiun 2: Prolog Kisah Intrik dan Arah Hidup Para Preman




Sumber: screen capture Preman Pensiun 2 eps. 1 - RCTI
"Sekarang Muslihat naik takhta. Kita seperti kelapa: dikupas, diparut, diperas, lalu dibuang ke tempat sampah. Kita sampah! Kita harus bikin perhitungan!"  itulah kata-kata provokasi Bos Jamal kepada anak buahnya, Ujang dan Jupri dalam tayangan perdana sinetron Preman Pensiun season 2. Dendam yang membara dalam diri Bos Jamal memberi gambaran akan bagaimana konflik yang bakal terjadi berikut-berikutnya dalam kehidupan para preman yang kini di bawah komando Kang Mus.

Pada Senin, 25 Mei 2015, akhirnya sinetron Preman Pensiun 2 mulai tayang pada pukul 17.15 di layar RCTI. Sebagai opening setiap episode di season 2 ini,  digambarkan Kang Mus dan Bos Jamal berhadapan di depan Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Beda halnya dengan Preman Pensiun season 1, dimana opening-nya Kang Mus menunduk di depan Kang Bahar sebagai tanda penghormatan pada pimpinan. Kini, opening menyiratkan konflik dua bos preman.

Flashback Preman Pensiun 1
Setelah opening, tayangan berikutnya adalah in memoriam pada Didi Petet yang berperan Kang Bahar yang telah berpulang ke Rahmatullah pada 15 Mei kemarin. Sementara pada Preman Pensiun 1 sebelumnya, in memoriam ditujukan kepada Roy Chunonk (pemeran Kang Maman).

Selain itu, untuk membuka kembali ingatan penonton akan alur cerita di Preman Pensiun 1, ditayangkan juga flashback, antara lain: saat Khodijah, istri Kang Bahar akan wafat dan Kang Bahar terlihat menangis sedih. Juga adegan Kang Mus menonjok Bos Jamal sebagai awal dimulainya perseteruan kedua kubu. Begitu pula dari genk copet dimana Dewi dan Ubed memilih mundur dari dunia percopetan dan adegan episode terakhir saat copet Saep Tertangkap.

Serta tentunya saat anak buah Bos Jamal yakni Ujang yang disiksa beramai-ramai oleh para preman dari kubu Kang Mus. Dan adegan flashback paling dramatis yaitu saat  penyerahan kekuasaan Kang Bahar kepada Kang Mus dengan pemberian cincin batu akik kepada Kang Mus.