Review

Tokoh Publik yang Muncul di Sinetron Preman Pensiun





Kehadiran tokoh publik di sebuah tayangan sinetron menjadi daya tarik sendiri bagi sinetron tersebut. Hal ini kadang diselipkan sebagai  tokoh yang sepintas lewat namun masih ada benangnya dengan alur cerita. Di sinetron komedi Preman Pensiun, kehadiran para tokoh tersebut sudah beberapa kali muncul di beberapa episode. Adapun "pesan" yang dihadirkan melalui tokoh tersebut dari sosialiasi program pemerintah, seputar Persib, hingga toleransi beragama.

Berikut ini tokoh-tokoh publik yang pernah unjuk peran di sinetron Preman Pensiun.

1. Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil
Kang Emil ikut unjuk akting di sinetron Preman Pensiun sebagai sosok Wali Kota Bandung. Kemunculannya pada episode saat ia beraudiensi dengan warga Bandung. Dimana ia menerima laporan dari Agus (diperankan Nyno) yang mengadu pada Kang Emil karena ia kena teror preman yang menjadi backing developer apartemen yang menggusur rumahnya. 

Adegan lainnya yaitu saat Kang Emil berdialog langsung dengan Kang Bahar (Didi Petet) di halaman Balai Kota Bandung. Di depan patung badak putih, keduanya berbincang seputar pelayanan publik yang dikelola oleh Pemkot Bandung. Selain itu, Kang Emil pun mengajak Kang Bahar meninjau Command Center, tempat pangkalan data dan monitoring digital wilayah-wilayah di Kota Bandung.

2. Duta Besar Amerika Serikat, Robert O Black, Jr.
Duta Besar  Amerika ini muncul di Preman Pensiun sebagai turis yang mengunjungi Gedung Merdeka. Bersama penerjemahnya, Kang Robert bertemu dengan Kang Mus dan Dikdik yang kebetulan sedang berada di halaman Gedung Merdeka. Mereka pun kemudian foto selfie bersama dan muncul adegan lucu ketika senyum untuk dijepret foto, keduanya mengucapkan: "kicimpring!" bukan "say cheese". Kicimpring adalah makanan tradisional khas Sunda berbahan dasar sampeu (singkong) dibuat seperti keripik/opak.

Dialog yang muncul antara Kang Robert dan Kang Mus seputar toleransi umat beragama dan seputar menyambut bulan suci Ramadhan di Indonesia. Kang Robert pada 2009 - 2013 menjabat sebagai Asisten Menteri untuk Urusan Asia Selatan dan Tengah. Kang Robert pernah menjabat sebagai Duta Besar untuk Republik Sosialis Demokratik Sri Lanka merangkap Republik Maladewa pada 2006-2009. Sebelumnya, ia pernah bertugas di India, Tunisia, Aljazair, Mesir, dan Nigeria juga memegang berbagai posisi di Departemen Luar Negeri AS di Washington, D.C.

3. Panglima Kodam III Siliwangi, Mayjen. Dedi Kusnadi Thamim
Perwira tinggi TNI-AD yang sejak Agustus 2013 mengemban amanat sebagai Pangdam III/Siliwangi ini ikut main di Preman Pensiun saat meninjau tokoh Iwan Tyson (diperankan Maiza Fadly). Iwan yang sedang berlatih di sasana tinju Kodam III Siliwangi diceritakan ikut menjadi atlet yang terpilih ikut seleksi Porda. Pangdam pituin Bandung ini beradu akting dengan pelatih tinju dan para atlet yang berlatih di sasana.

4. Pelatih Persib Bandung, Djajang Nurjaman (Kang Djanur)
Pelatih kepala di skuad Persib Bandung ini pernah dua kali ikut berperan. Pada Preman Pensiun 1, ia berdialog dengan Kang Mus di depan Lapang Sidolig (Lapang Persib) Jln. Ahmad Yani, Bandung. Waktu itu, Kang Mus membicarakan legenda-legenda Persib. Termasuk salah satu legenda Persib yang sedang ia ajak bicara.

Pada Preman Pensiun 2, Kang Mus sengaja berkunjung ke tempat latihan skuad Persib di Lapang Sidolig. Pada adegan kali ini, para pemain pun ikut tersorot kamera. Kedatangan Kang Mus ke Kang Djanur ingin silaturahmi sekaligus ingin belajar mengenai sebuah teamwork dibangun ala klub sepak bola.

5. Budayawan Sunda, Aat Soeratin
Abah Aat berperan menjadi Kang Bagja, sahabat dekat Kang Bahar. Ia biasa menjadi teman curhat gegedug preman tersebut. Di Tatar Jawa Barat, Abah Aat dikenal sebagai budayawan Sunda juga yang peduli terhadap budaya Nusantara. Ia merupakan tokoh yang dulu sering membawa rombongan seniman Asmat, Papua, berkeliling dunia. Ia juga pada era '80-an bersama Rahmatullah Ading Affandie (RAF) menggarap sinetron Sunda Inohong di Bojongrangkong. Di sinetron tersebut, Bah Aat menjadi sutradara.

Bah Aat juga merupakan pendiri Yayasan Budaya Indonesia (1992), sebuah yayasan yang bergerak di bidang dokumentasi dan informasi budaya-budaya etnis di tanah air. Pada 1999, ia juga mendirikan Rumah Nusantara, sebuah ruang publik untuk pergelaran, diskusi, pameran, dan workshop. Ia juga bersama Kang Harry Roesli mendirikan Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB) pada 1975 dengan markas di rumah Kang Harry di Jln. Supratman, Bandung.