Review

Mengenal Contoh Babasan dan Paribasa Sunda





Sama halnya dengan bahasa Indonesia, ungkapan dan peribahasa ada juga dalam bahasa Sunda. Di Sunda dikenal dengan babasan dan paribasa. Babasan dan paribasa (peribahasa) sebenarnya mempunyai tujuan sama. Babasan merupakan ucapan yang lebih pada aspek konotasi. Dalam babasan sudah pasti patokannya (bahasa pakeman) serta digunakan pada arti pinjaman. Dengan demikian, bukan arti yang sebenarnya alias lebih pada perbandingan dari sifatnya satu benda atau keadaan dan sudah menjadi satu kesatuan kalimat. Babasan diucapkan dalam situasi tertentu sebagai pangeling (pengingat) akan perilaku yang sebaiknya dilakukan ataupun mencegah perilaku yang dilarang. Misalnya, saat ada orang yang pernah berbuat kesalahan kepada kita namun kemudian ia mendatangi lagi kita tanpa adanya rasa malu, maka ucapan kepada orang tersebut: "Dasar jelema kandel kulit beungeut! (Dasar manusia tidak punya rasa malu!)

Sedangkan paribasa lebih kepada perumpamaan yang menitikberatkan pada hal berbuat baik, melarang perbuatan buruk, ataupun hal lainnya yang berisi petuah nilai-nilai kehidupan.

Berikut ini beberapa contoh babasan dan paribasa.

Babasan
1. Panjang leungeun: panjang tangan
Artinya: suka mencuri
2. Bisa lolondokan: bisa seperti bunglon.
Artinya: bisa mengikuti atau menempatkan diri dengan kebiasaan orang lain supaya akrab.
3. Nyalindung ka gelung: berlindung pada sanggul.
Artinya: suami yang dinafkahi istrinya.
4. Ngadu angklung: mengadu angklung
Artinya: banyak saling omong yang tiada gunanya.
5.Hampang birit: ringan bokong
Artinya: tidak malas, mudah disuruh

Contoh babasan lainnya:
- Biwir nyiru rombéngeun (tepian nyiru rusak): cerewet, semua rahasia diceritakan.
- Bobot pangayon timbang taraju: hukuman yang adil (pengadilan).
- Buburuh nyatu diupah emas: belajar tetapi sambil minta diberi upah padahal gunanya untuk dirinya sendiri.
- Buntut kasiran: pelit.
- Élmu tumbila (tumbila = kutu busuk): pribumi merugikan tamu.
- Hadé gogog, hadé tagog: halus bahasanya dan baik sikapnya.
- Heuras létah (keras lidah): hatinya keras, omongannya kasar.
- Heurin ku létah: yang perlu diomongkan susah untuk diucapkan.
- Ieu aing (ini aku): merasa diri paling pintar, gagah, dan sebagainya.
- Kalapa bijil ti cungap: rahasianya terbuka dengan sendirinya.
- Kandel kulit beungeut (tebal kulit muka): Tidak punya rasa malu.
- Katuliskeun jurig (jurig = hantu): asalnya main-main jadi serius.
- Katurug katutuh: sedang celaka bertambah lagi kemalangannya (sudah jatuh tertimpa tangga).
- Kudu boga pikir kadua leutik: Kudu boga pikir rangkepan.
- Lungguh tutut (pendiam keong): Sepertinya pendiam padahal liar/nakal.
- Malapah gedang: ngomong basa basi dulu kesana kemari, tidak langsung ke topik utama.
- Meungpeun carang: dia yang mencuri tetapi pura-pura ikut mencari, atau tahu tapi pura-pura tidak tahu.
- Pindah cai pindah tampian (pindah air, pindah tempat mandi): pindah tempat pindah adat, menyesuaikan dengan adat dan kebiasaan di tempat baru (lain padang lain ilalang).

Paribasa:
1. Ati mungkir beungeut nyanghareup: hati menolak, wajah di depan.
Artinya: Pura-pura. Di hadapan seperti bersikap baik, tetapi di belakang sebaliknya.
2. Caina hérang, laukna beunang: airnya bening, ikannya dapat.
Artinya: Semua bisa berhasil tanpa menimbulkan masalah.
3. Halodo sataun lantis ku hujan sapoé: kemarau setahun, hilang oleh hujan sehari.
Artinya: Kebaikan yang sangat banyak hilang gara-gara satu kali melakukan perbuatan jelek.
4. Jati kasilih ku junti (junti = serupa jati kecil): pohon jati kalah oleh pohon junti.
Artinya: pribumi kalah oleh pendatang.
5. Uyah tara téés ka luhur (garam tidak mencair ke atas).
Artinya: Sifat orang tua turun ke anak (buah jatuh tidak jauh dari pohonnya/air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan).

Contoh paribasa lainnya:
- Adéan ku kuda beureum: sombong dengan milik orang lain, bisa juga berpenampilan gaya dengan hasil minjam.
- Alak-alak cumampaka (alak-alak = bunga seperti cempaka / alak-alak menyerupai cempaka): orang bodoh merasa sama dengan orang pintar.
- Anjing ngagogogan kalong (anjing mengonggong kalong): ingin kepada yang tidak layak, atau mengangankan yang tidak mungkin terjadi (bagai pungguk merindukan bulan).
- Ari umur tunggang gunung, angen-angen pecat sawed: Orang tua yang berperilaku seperti anak muda.
- Asa aing uyah kidul: merasa paling gagah, pintar, tampan, dan sebagainya.
- Aya bagja teu daulat: mau dapat untung tetapi tidak jadi.
- Aya jalan komo meuntas: mau berbuat sesuatu, kebetulan dapat jalannya.
- Balung kulit kotok meuting: sakit hati yang dulu tidak hilang.
- Batok bulu eusi madu: luarnya jelek, dalamnya bagus. Seperti orang bodoh padahal pintar.
- Buluan belut, jangjangan oray (belut berbulu, ular bersayap): Sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
- Cara kuda leupas ti gedogan: seperti kuda lepas dari kandang, liar.
- Daék macok embung dipacok (mau mematuk tidak mau dipatuk): mau diberi tidak mau memberi.
- Dagang oncom rancatan emas (dagang oncom pemikulnya terbuat dari emas): Hasilnya sedikit tapi modalnya besar.
- Dipiamis buah gintung: memiliki rasa disayang oleh orang tua, sahabat, atau atasan.
- Ditiung geus hujan (dikerudung setelah hujan): Bersikap hati-hati setelah celaka.
- Dogong-dogong tulak cau, geus gedé dipelak batur: ungkapan untuk orang yang menandai perempuan sejak kecil, dengan memberi apa saja supaya nanti bisa dinikahi. Tetapi ketika dewasa malah dinikahi oleh orang lain
- Hambur bacot murah congcot: suka melarang/marah tapi sembari memberi.
- Hirup ulah manggih tungtung, paéh ulah aya béja (hidup jangan menemukan ujung, meninggal jangan ada kabar): hidup harus selalu berbuat kebaikan.
- Hulu dugul dihihidan (kepala gundul dikipas): yang untung bertambah untung.
- Indung lembu bapa banténg (ibu sapi bapak banteng): keturunan gagah, keturunan bangsawan.
- Ka cai jadi saleuwi, ka darat jadi salebak: bersama-sama dalam persatuan dan kesatuan.
- Kajeun panas tonggong, asal tiis beuteung (tak peduli panas punggung, asal dingin perut): rajin bekerja, supaya dapat upah/bisa makan.
- Katempuhan buntut maung: jadi pengganti kesusahan orang lain.
- Kéjo asak, angeun datang (nasi matang, sayur datang): cepat yang dimaksud/tidak dilama-lama.
- Kokoro manggih mulud, puasa manggih lebaran: orang yang ajimumpung, serakah dan tidak tahu batas.
- Kudu nyaho lautanana kudu nyaho tatambanganana: harus tahu apa kesukaannya, perilakunya, kebiasannya, dan sebagainya.
- Lauk buruk milu mijah, piritan milu endogan: Ikut-ikutan bicara padahal tidak berhak bicara.
- Mangkok emas eusi madu: orang yang baik budi dan bahasanya.
- Marebutkeun balung tanpa eusi: Memperebutkan sesuatu yang tidak ada hasilnya (merebutkan pepesan kosong).
- Mihapé hayam ka heulang (menitipkan ayam ke elang): menitipkan harta kepada pencuri/tidak dipercaya.
- Monyét kapalingan jagong: pencuri jadi korban pencurian, penipu yang tertipu.
- Monyét ngagugulung kalapa: mempunyai sesuatu tetapi tidak tahu cara menggunakannya.
- Mopo méméh nanggung (lelah sebelum memikul): merasa tidak sanggup berbuat padahal belum dikerjakan, bisa juga kuméok méméh dipacok (kalah sebelum dipatuk/kalah sebelum perang).
- Moro julang ngaleupaskeun peusing: meninggalkan sesuatu yang sudah pasti, untuk mencari sesuatu yang belum pasti berhasil.
- Mun teu ngarah moal ngarih (kalau tidak berupaya tidak akan bisa menanak nasi): harus mau berusaha supaya berhasil.
- Ngagandong kéjo susah nyatu (menggendong nasi, susah makan): banyak yang harus dikerjakan, tapi tidak ada satupun yang bisa disuruh
- Agul ku payung butut (sombong dengan payung jeleknya): menyombongkan orang tua, leluhurnya sendiri.
- Nyiduh ka langit (meludah ke langit): memberi nasihat kepada orang yang lebih tua umurnya.
- Pipilih nyiar nu leuwih, kocéplak meunang nu pécak: berharap dapat yang paling bagus, dapatnya malah paling jelek.
- Pupulur méméh mantun: minta upah sebelum kerja.
- Sagalak-galakna macan, moal ngahakan anakna: meski jahat tidak akan membunuh anaknya sendiri.
- Sahérang-hérang béas: sebersih-bersihnya hati kepada musuh, tidak akan bersih sekali.