Review

Ungkapan Rasa Syukur Masyarakat di Festival Cihideung, Parongpong




Musim kemarau yang terjadi pada 2015 ini cukup panjang dan sebagian wilayah mengalami kekeringan. Di tengah kondisi tersebut, di bagian Bandung Barat, masyarakat Cihideung merayakan berkah air yang masih melimpah di kawasan tersebut. Sebagai ungkapan rasa syukur atas anugerah Tuhan tersebut, masyarakat di wilayah Kecamatan Parongpong, Kab. Bandung Barat tersebut merayakannya dengan gelaran Cihideung Festival. Selama ini, kawasan Cihideung dikenal sebagai pusat aneka tanaman hias di daerah Bandung utara.


Kegiatan ini digelar setiap tahun oleh masyarakat Desa Cihideung. PihakKementerian Pariwisata Indonesia dan Disbudpar Kab. Bandung Barat turut ngarojong (mendukung) event ini dalam rangka program Pesona Budaya Indonesia. Selain ajang promosi wisata serta pelestaraian seni dan budaya tradisional, Cihideung Festival juga merupakan upaya kampanye lingkungan hidup. Dalam hal ini, khususnya penyelamatan mata air yang sangat penting bagi kehidupan, seperti pada Ritual Irung-irung.

Event ini sekaligus juga bisa menjadi salah satu agenda event wisata di kawasan Bandung Barat. Untuk tahun ini, acara Cihideung Festival digelar pada Sabtu dan Minggu, 24 - 25 Oktober 2015. Acara yang mulai digelar pada 2008 ini dipusatkan Kavling Strawberi RT 03/10, Jalan Sersan Bajuri, Kampung Panyairan, Desa Cihideung, Kec. Parongpong, Kab. Bandung Barat.

Rangkaian Acara
Acara yang digelar selama dua hari tersebut menyajikan aneka kegiatan yang berkaitan dengan seni, budaya, dan pelestarian lingkungan. Cihideung Festival pun  digelar sebagai upaya presentasi produk tanaman hias lengkap dengan seni dan budayanya agar tetap lestari. Selain itu, aneka potensi setempat pun turut dihadirkan dalam kegiatan ini. 

Berbagai potensi unggulan masyarakat Cihideung digelar: Ritual Irung-irung, Ngajayak Kembang, Helaran Sasapian, Motor Hias, hingga Jaipongan. Rangkaian acara Cihideung Festival diawali pada Sabtu, 24 Oktober 2105 yang diawali dengan tradisi upacara Irung-irung (tempat keluarnya mata air) diiringi arak-arakan seni budaya, puluhan anak-anak dan para gadis berkostum bunga, perang cai, sasapian, serta lainnya. Salah satu yang unik dalam upacara Irung-Irung adalah perang air antar penduduk. Setelah itu diselenggarakan pertunjukan seni budaya Sunda di Kampung Wisata Bunga, Jln. Sersan Bajuri.

Irung-Irung sendiri berasal dari irung (hidung) yang bermakna keluarnya air dari mata air seperti keluar dari dua lubang hidung. Aliran dua mata air dari Cihideung ini sampai ke daerah Gegerkalong Girang. Sementara pada besoknya, Minggu, 25 Oktober 2015 digelar acara Ngajayak Kembang, ibing kembang laras, helaran karnaval tanaman hias, lomba merangkai kembang, pameran batu akik, dan gelar berbagai kesenian Sunda. Festival ini sekaligus juga untuk pangeling (mengingatkan) kembali untuk menjaga kelestarian alam, salah satunya masalah air. Dimana kini mata air sudah banyak yang hilang keberadaannya karena tertutup pembangunan atau dikuasai oleh pihak-pihak tertentu.