Review

Nostalgia Wisata Keluarga di Kebun Binatang Bandung





Yeuh. Ayah di gigireun.
Heh nu gelo ulah gandeng. Nde Bobo.
Insya Allah enjing-enjing bade ngiring.
Jeung  ibuna naek kuda di Ganesha.
....

Itulah penggalan lirik lagu Budak Baheula dari band The Panas Dalam. Lirik terakhir tersebut menggambarkan bagaimana sebuah kebahagiaan tersendiri bagi keluarga yang pakansi alias jalan-jalan di kota sendiri, Kota Bandung. Jalan Ganesha menjadi tempat favorit bagi anak-anak untuk naik kuda. Arena sewa kuda di dekat kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut biasa menjadi wisata murah meriah bagi anak-anak yang dilakukan setelah berkunjung ke Kebun Binatang, Jalan Tamansari Bandung.

Tempat wisata ini dibangun pada zaman Kolonial (1930) oleh Bandung Zoological Park (BZP), yang dipelopori oleh Direktur Bank Dennis, Hoogland. Pengesahan pendirian Kebun Binatang ini diwenangi oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan pengesahannya dituangkan pada keputusan 12 April 1933 No.32. Pada saat Jepang menguasai daerah ini, tempat wisata ini kurang terkelola, hingga pada tahun 1948, dilakukan rehabilitasi untuk mengembalikan fungsi tempat wisata ini. Pada 1956, atas inisiatif dari Raden Ema Bratakusumah, Bandung Zoological Park dibubarkan dan berganti menjadi Yayasan Marga Satwa Tamansari (1957).

Sejak dulu, Kebun Binatang memang menjadi tempat wisata rekreasi favorit warga Bandung. Kawasan yang dikenal dengan derenten ini, kerap dijadikan tempat berkumpul keluarga. Apalagi saat menjelang Ramadhan, biasa dikunjungi untuk sekadar botram (makan bersama) dalam rangka munggahan. Bahkan pada era '80-an untuk urang Cigondewah, ada "tradisi" untuk berkunjung ke Derenten dengan ngabring naik delman. Rute yang biasa dilalui dari Cigondewah - Cijerah - Jln. Ciroyom - Jln. Pajajaran - Jln. Tamansari.

Sambil menggelar tikar yang dibawa sendiri ataupun menyewa, ruang terbuka di sekitar kandang-kadang binatang biasa menjadi lokasi untuk bercengkrama bersama keluarga. Tak peduli walau kadang ngahiliwir tercium bau-bau kotoran binatang. Selepas puas melihat-lihat binatang, anak-anak biasa membeli makanan ringan atau alat mainan yang biasa dijajakan di sekitaran Kebun Binatang. 

Kebun Binatang memang menjadi tempat yang "wajib" dikunjungi, apalagi saat liburan Lebaran. Tempat ini sudah pasti tumpah ruah oleh para pengunjung. Mereka bahkan ada yang datang dari luar Kota Bandung. Aneka satwa menjadi tontonan menarik terutama gajah, beruang, orang utan, tapir, maung (harimau), banteng, monyet, burung, dan sebagainya. Hanya kadang ada diantara pengunjung masih ada saja yang kurang peduli dengan kondisi binatang, misalnya melemparkan makanan bahkan mencoba melemparnya dengan botol plastik. Inilah kadang mengapa Kebun Binatang Bandung kerap dipenuhi sampah yang berserakan karena ulah sebagian pengunjung yang kurang sadar kebersihan.

Wahana naik gajah pun menjadi salah satu tempat favorit. Ya, di sinilah para pengunjung harus bersabar antre demi naik binatang asal tanan Timur Tengah tersebut. Sang pawang unta sepertinya sudah hafal betul karakter si unta. Ini kadang menjadi daya tarik tersendiri ketika sang pawang "berdialog" dengan hewan berpunduk tersebut.

Karena sesaknya oleh pengunjung, kadang ada anak yang terpisah dari keluarganya. Di sinilah tugas juru wawar untuk mengumumkan di speaker. Anak yang terpisah biasa "diamankan" di pos jaga dekat tempat pengumuman. Kebun Binatang memang menjadi magnet tersendiri untuk warga Bandung. Dan anak kecil zaman dulu, rasanya kurang lengkap kalau belum berfoto di Kebun Binatang.