Review

Wyata Guna, Panti Tunanetra Tertua dan Terbesar di Indonesia





Letaknya persis di seberang GOR Pajajaran. Panti yang didirikan pada 1901 tersebut berdiri di atas tanah seluas 4,5 hektare. Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Wyata Guna Bandung lahir atas keprihatinan seorang dokter Belanda terhadap kaum pribumi yang tunanetra. Dokter Belanda tersebut bernama Cha Westhoff. Sampai sekarang, tempat yang mempunyai makna wadah atau tempat yang berguna tersebut menjadi tumpuan para kaum tunanetra. Di sini, aneka fasilitas dan pelatihan terbilang lengkap. Masyarakat umum pun tak sedikit yang ikut memberikan sumbangsih, dari sumbangan, pemikiran, hingga sumbangan tenaga.

Sejarah Panti Wyata Guna
Sebelumnya, tempat ini bernama Yayasan Rumah Buta Bandung. Di sini, para penghuni panti diberi berbagai pelatihan, seperti membuat anyaman, keset, dan berbagai keahlian lain. Pada 1942, atau saat pendudukan Jepang, Yayasan Rumah Buta Bandung diambil alih Pemerintah. Pada masa kemerdekaan hingga 1963, Yayasan Rumah Buta Bandung diserahkan pengelolaannya kepada warga pribumi. Pada 1963, pengelolaannya kemudian diserahkan ke Departemen Sosial dan berganti nama menjadi Wyata Guna.

Sejak itu, pengelolaan Wyata Guna beberapa kali berpindah tangan. Kini, PSBN Wyata Guna dikelola Kementerian Sosial RI Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial. Wyata Guna sendiri diyakini sebagai salah satu panti tunanetra terbesar di Asia Tenggara. Di tempat yang bisa menampung hingga 250 orang ini, para penyandang cacat netra diberi bimbingan, pelayanan, serta rehabilitasi. Adapun layanan pendidikan yang diberikan ada dua jenis, formal dan nonformal. Untuk pendidikan formal, ada sekolah setingkat SD hingga SMA. Sementara pendidikan nonformal ada beberapa pelatihan, mulai dari pelatihan pijat, kursus Alquran braile, hingga kelas musik. Di sini pun disediakan asrama.

Percetakan Al-Quran Braille
Di sini, terdapat juga Percetakan Yayasan Penyantun Wyata Guna (YPWG). YPWG merupakan satu-satunya percetakan yang mencetak Al-Quran Braille dengan mesin konvensional. Pendirinya ialah Sri Sudarsono  (B.J. Habibie) dan Rosikin, seorang tunanetra serta beberapa orang lainnya. Al-Quran Braille tersebut dicetak dengan mesin tua, Braille Press. Konon mesin tersebut merupakan mesin cetak Al-Quran Braille tertua dan satu-satunya yang masih berfungsi di dunia hingga kini. Mesin cetak khusus tersebut hanya ada 6 di dunia.

Beda denga Al-Quran biasa, Al-Quran Braille tersebut dibaca dari kiri ke kanan. Satu set Al-Quran Braille yang dicetak di sini dibanderol dengan harga Rp 1,5 - Rp 1,8 juta (berat hingga 25 kilogram/set). Di tempat percetakan ini, bisa ditiga sampai empat set Al-Quran Braille. 1.000 set Al-Quran bisa dicetak di sini. Sementara untuk distribusi biasa disebar ke seluruh Indonesia dan diekspor ke beberapa negara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Kuwait, dan Iran.

Panti Pijat Wyata Guna
Bagi Anda yang mencari tempat layanan pijat bisa datang ker Wiyata Guna. Panti pijat di sini resmi dan dikelola oleh Depsos. Di Wiyata Guna semua pemijat adalah tuna netra.Untuk laki-laki dipijat oleh pemijat laki-laki, perempuan dipijat oleh pemijat perempuan. Pemijat di Wiyata Guna sebagian besar adalah siswa magang dari sekolah pijat di dalam panti. Di Wiyata Guna terdapat sekolah pijat berijazah bagi para tunaetra.

Kita bisa memilih dipijat selama satu jam atau satu setengah jam atau dua jam. Kalau sudah cocok dengan seorang pemijat, kita bisa memintanya untuk memijat kembali jika suatu saat kita datang ke sana lagi pada kunjungan berikutnya. Di Wiyata Guna ada dua tempat pijat, pertama pijat tradisonil (massage) yang sudah umum, kedua pijat shiatsu.

PSBN Wyata Guna
Jln. Pajajaran No. 52, Bandung
[lihat peta lokasi]

Telepon: (022) 4203148
Faximile: (022) 4205214