Review

Kenikmatan dan Keharuman Kopi Jawa Barat Siap Mendunia




West Java Coffee

Setelah lama "tertidur", kopi khas Jawa Barat kini bangkit kembali. Dalam catatan sejarah, di masa kolonial Belanda, kopi di wilayah Priangan pertama kali ditanam pada tahun 1696. Waktu itu, VOC mulai ekspor ke Belanda dan masuk Eropa pada tahun 1711. Dalam dunia perdagangan kopi, dikenal Java Coffee Preanger dan orang asing lebih sering menyebutnya a cup of Java.

Namun, serangan penyakit karat daun melanda pada tahun 1878.  Waktu itu, sebagian besar perkebunan di seluruh Nusantara terkena hama penyakit kopi Hemileia Vasatrix. Parahnya, Jawa Barat merupakan wilayah terparah akibat serangan hama penyakit karat daun tersebut. Padahal, kopi Java Preanger dahulu pernah terkenal di kancah dunia dan karena cita rasanya yang berbeda dengan kopi yang lain.

Membangkitkan Java Preanger Coffe
Kini, upaya untuk mengembangkannya pun intens dilakukan. Salah satunya pada 20 - 22 November 2015 diadakan festival kopi Jawa Barat di Trans Studio Mall, Bandung. Lewat kegiatan Festival Kopi ini, sajian kopi Java Preanger Cofee   yang berasal dari 11 gunung di Jawa Barat diperkenalkan kepada pengunjung. Dalam kegiatan tersebut disajikan kopi gratis juga digelar worksop dan lomba menyeduh kopi.

Bukan hanya itu, kopi yang berasal dari 11 gunung di Jawa Barat itu pun kini telah didaftarkan pada Direktorat Jenderal HKI untuk mendapat pengakuan Indikasi Geografis, Java Preanger Coffee. Diantaranya asal Gunung Manglayang, Gunung Tangkubanparahu, dan Gunung Cikuray. Kopi dari gunung-gunung tersebut dikenal dengan kekhasannya. Selain untuk konsumsi dalam negeri, kopi khas Jawa Barat pun diproyeksikan untuk ekspor ke luar negeri. Kini, dengan penataan dan pengolahan yang baik, nilai jual kopi asal Tatar Sunda tersebut mulai dikenal di perdagangan kopi internasional.

Potensi Kopi Jawa Barat
Di tatar Jawa Barat seluas 30.620 Ha membentang perkebunan kopi. Ada 30.205 Ha (98,64%) merupakan perkebunan kopi milik rakyat serta sekitar 415 Ha (1,36%) adalah perkebunan milik perusahaan swasta. Perkebunan kopi tersebut tersebar di 18 Kabupaten/Kota se Jawa Barat. Potensi lahan pengembangan kopi arabika di Jawa Barat berdasarkan kajian Indikasi Geografis sekitar 600.000 Ha. 

Keadaan tanah vulkanik yang terbentang di Jawa Barat yakni di sebelas gunung yang subur (rata-rata ketinggian di atas 1000 m DPL) menyimpan potensi besar.  Jawa Barat bisa memanfaatkan potensi lahan pengembangan kopi tersebut secara optimal. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membentuk “Clearing House Kopi Jawa Barat” yang merupakan kumpulan stakeholders kopi, dimana bersinergi dalam pengembangan sistem perdagangan kopi di Jawa Barat. Adapun pengelolaannya dilakukan secara akuntabel, transparan, plus terpadu. Diharapkan ke depannya, kopi asal Jawa Barat bisa diperhitungkan di kancah perkopian internasional.

Kopi asal Jawa Barat sangan berpeluang untuk diekspor. Hal ini terlihat dari data Badan Pusat Statistik sejak tahun 2012 hingga September 2015 dimana nilai ekspor produk olahan kopi mencapai US$ 7,09 juta dengan volume 150 ton. Sementara ekspor roasted dan green bean kopi pada kurun waktu yang sama volumenya mencapai 187,7 ton dengan nilai ekspor sebesar US$ 1,3 juta.

Sementara dalam Festival Kopi di Trans Studio Mall kemarin, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengajak pengusaha hotel, restoran, kafe, dan warung di seputaran Jawa Barat untuk menyajikan kopi. Hal ini sebagai upaya untuk lebih mempromosikan dan mengembangkan kopi khas Jawa Barat kepada masyarakat maupun kepada wisatawan.