Review

Mawarga Faperta Unbar Gelar Pendidikan Anggota Baru




Diklat Mawarga Unbar Bandung

Dewan Pengurus Mahasiswa Pencinta Alam Fakultas Pertanian Universitas Bandung Raya (Faperta Unbar) Mawarga, kembali menggelar pendidikan dasar sebagai ajang perekrutan anggota baru. Proses pendidikan dan latihan tersebut saat ini sedang berlangsung dan baru akan berakhir pada 13 Desember 2015 mendatang.

“Sejak tanggal 28 November lalu, empat siswa yang dinyatakan lulus seleksi sedang berlatih, baik fisik maupun mental, agar memiliki kesamaan persepsi mengenai organisasi sekalgus memiliki pandangan yang sama mengenai hakikat berkegiatan di alam terbuka,” kata Komandan Latihan Pendidikan Dasar Mawarga 2015, Ayi Sofyan (M-086 Alsophylla glauca), disela-sela kegiatan apel pagi di kawasan Gunung Masigit-Kareumbi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Anggota lulusan Pendidikan Dasar Mawarga tahun 1986 ini, mengatakan, hakikat kegiatan di alam terbuka ini pada dasarnya adalan fun dan safety, yakni menyenangkan dan keselamatan. Karena unsur keselamatan menjadi sesuatu yang mendasar tersebut, Ayi mengaku, dari sebelumnya tercatat sebanyak 12 mahasiswa Faperta Unbar yang mendaftar, namun karena proses selektif itu tadi akhirnya hanya empat mahasiswa saja yang berhak disebut siswa dan mengikuti pendidikan dasar.

Taman Buru Masigit-Kareumbi dan Gunung Kerenceng
Di kesempatan berbeda, Ketua Umum Mawarga, Iip Taryana (M-083 Alsophylla glauca) menyebut, kawasan Taman Buru Masigit-Kareumbi dan Gunung Kerenceng di perbatasan Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Bandung ini dipilih, karena secara umum memiliki karakteristik yang cukup variatif untuk medan latihan. Masigit-Kareumbi, misalnya, kawasan yang ditetapkan sebagai Taman Buru ini merupakan kawasan hutan hujan dengan kondisi medan yang bervariatif, seperti banyak terdapat sungai kecil serta kawasan genangan air yang ditumbuhi rerumputan tinggi menyerupai daerah rawa.

Sedangkan kawasan Gunung Kerenceng yang berketinggian sekitar 1.736 meter di atas permukaan laut (mdpl) adalah kawasan dengan topografi bervaritif, dari mulai kemiringan lereng di bagian tengah kawasan antara 30 sampai 40 persen. “Dan di bagian atasnya, kemiringannya lebih curam hingga mencapai 20 persen. Kondisi ini cukup mewakili karakteristik gunung-gunung maupun hutan-hutan di Indonesia pada umumnya,” papar Iip.

Sejak tahun 1980 silam, saat pertama kali Mawarga yang berasal dari bahasa Sanskerta Padma, Wana dan Arga (bunga, hutan dan gunung) didirikan oleh sekelompok mahasiswa yang saat itu masih bernama Akademi Pertanian Nasional (Akpernas), sudah beranggotakan lebih dari 160 anggota. Meski tumbuh dan dibesarkan di kalangan mahasiswa berbagai jurusan disiplin ilmu pertanian, tetapi alumninya saat ini banyak yang merambah berbagai profesi di luar bidang kepertanian. Sebut saja, fotografer maupun wartawan, atau pengelola kegiatan pelatihan di alam terbuka maupun pemandu wisata alam bebas, surveyor hingga pemetaan, adalah profesi yang bagi mereka didapat ilmunya dari Mawarga ini.