Review

Kabupaten Bandung Akan Kembangkan Wisata Folklor




Wisata Legenda Kabupaten Bandung

Dalam bidang ilmu humaniora, salah satu garapannya adalah mengeai folklor. Folklor bisa meliputi legenda, musik, sejarah lisan, pepatah, lelucon, takhayul, dongeng, dan kebiasaan yang menjadi tradisi dalam masyarakat. Folklor juga merupakan serangkaian praktik yang menjadi sarana penyebaran berbagai tradisi budaya.  Folkor yang ada di masyarakat biasanya diwariskan turun temurun. Di sisi lain, bagian dari kebudayaan masyarakat tersebut bisa pula menjadi potensi dalam upaya pengembangan wisata.

Paduan Folkor dan Potensi Wisata
Inilah yang kemudian dibidik oleh Bupati Kabupaten Bandung, Dadang M. Naser.  Potensi wisata yang ada di Kabupaten Bandung akan diadumaniskeun alias dipadukan dengan keberadaan folkor di masyarakat tersebut. Dalam kolaborasi tersebut, potensi folklor seperti mitor, legenda, dongeng, atau adat istiadat setempat akan dikemas secara kreatif sehingga menjadi daya tarik dunia wisata di Kabupaten Bandung.

Memang, beberapa daerah di Indonesia sangat kental dengan aspek mitos atau legenda. Kita mengenal legenda batu Malin Kundang, terbentukya Danau Toba, hingga di kawasan Bandung sendiri ada legenda Sangkuriang. Sementara di beberapa kawasan di Kabupaten Bandung sendiri kaya akan unsur-unsur folklor tersebut. Misalnya, bagaimana kisah masyarakat setempat akan Situ Patengan/Patenggang atau beberapa cerita rakyat yang "membumbui" curug-curug atau air terjun yang ada di sekitaran Bandung.

Bahkan, kawasan Kawah Kamojang pun menyimpan cerita rakyat yang jika dikaitkan dengan kawasan wisata tersebut tentu akan lebih menarik pelancong. Juga beberapa cerita rakyat yang ada di kawasan wisata Ciwidey hingga Pangalengan. Penduduk memilik khazanah cerita rakyat setempat. Belum lagi dengan adat istiadat khas setempat yang jika diolah bisa menarik kunjungan wisata. Entah itu dengan program wisata ke desa atau dibentuknya desa-desa wisata.

Menggarap Kekayaan Adat
Untuk lebih memperkuat citra pariwisatanya, Dadang mengaku akan serius menggarap kekayaan adat desa-desa di Kabupaten Bandung. Desa yang diisi adat diyakini Dadang akan lebih disukai wisatawan lokal ataupun mancanegara. Ia mencontohkan di Bali yang sudah dikenal luas hingga kancah internasional karena punya ciri khas budaya dalam wisatanya. Budaya yang ada di Bali sudah menjadi industri. Sudah menjadi bahan jualan untuk menarik minat wisatawan.

Di mata orang nomor satu di Kabupaten Bandung tersebut, ia yakin wilayahnya punya banyak potensi budaya yang siap diindustrikan seperti Bali. Dadang mencontohkan, Kabupaten Bandung punya Rampak Kendang di Ciparay dan potensi seni budaya Sunda lainnya. Adapun untuk mempromosikan, tim kesenian tersebut bisa secara rutin tampil di Gedong Budaya Sabilulung. Dadang Naser pun menyebutkan pula ada Kampung Adat Cikondang, dimana kawasan itu bisa dikembangkan menjadi desa wisata dengan pendekatan 

Harus Memenuhi Persyaratan
Menanggapi hal tersebut, Menteri Pariwisata Menpar Arief Yahya menilai story line itu penting, sebagai content materi promosi. Ia mencontohkan Pulau Belitung yang bisa mengambil manfaay wisata dengan booming-nya buku dan film Laskar Pelangi. Contoh lain ada di luar negeri seperti  Selandia Baru dengan Lord of The Ring atau Jeju Island Korea dengan ceritanya.

Unsur pendukung Atraksi, Amenitas dan Akses merupakan syarat utama untuk pengembangan destinasi wisata di suatu wilayah. 

"Bandung termasuk lengkap, atraksinya banyak, kombinasi antara nature dan culture. Tidak perlu diragukan lagi," ujar Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya.

Hanya Menpar pun memberikan catatan akan aspek penunjang yang masih harus diperkuat, seperti bandara internasional, akses jalan, hingga upaya promosi yang melibatkan semua pihak. Apalagi di zaman internet sekarang ini dimana pemerintah daerah harus lebih melek dan lincah dalam menggarap promosi wisata melalui jalur internet, seperti pembuatan situs, kerja sama dengan blogger, hingga booster promosi dengan pegiat buzzer di media sosial.