Review

Inilah Wajah Baru Lapangan Tegallega, Bandung




Foto terbaru lapangan Tegallega Bandung

Lapangan Tegallega adalah saksi bisu perjalanan Kota Bandung. Akan halnya lapangan luas lainnya seperti lapangan Alun-alun atau Lapangan Gasibu, Lapangan Tegallega dari zaman Belanda menjadi ruang publik yang jadi ikon Kota Bandung. Pada zaman Belanda, pada Sabtu, 9 September 1933, berlangsung upacara pembukaan Sportpark Tegallega Bandung.

Bekas arena pacuan kuda
Pembukaan waktu itu, selain dihadiri oleh priyayi-priyayi, juga dikunjungi oleh Burgemeester Bandung dan beberapa ambtenar Eropa. Kira-kira pukul 16.45, voorzitter (Ketua) Komite Sportpark Tegallega Bandung, tuan Enoch, berpidato singkat tentang riwayat pendirian Sportpark ini yang mengingat akan kepentingan dan kemajuan penduduk Bandung.

Selesai pembukaan Sportpark Tegallega waktu itu, kegiatan dimeriahkan dengan turnamen sepak bola antarkota (interstedelijke voetbal wedstrijden) yang diikuti oleh VIJ, Mosvia, dan tuan rumah PSIB. Lapangan ini pun biasa jadi tempat pacuan kuda. Dan lapangan di arah selatan Alun-Alun ini sampai kini menjadi ruang publik yang biasa dipakai untuk jogging hari Minggu ataupun event-event pentas musik.

Tenda Gongli
Di era '80-an, kawasan Lapangan Tegallega belum tertata rapi. Di balik megahnya monumen Bandung Lautan Api, di sekelilingnya penuh semak-semak. Dan di area lapangan inilah penyanyi Sunda Doel Sumbang pada era Regormasi pernah mengabadikan dalam lagu berjdul "Gongli" alias bagong lieur (babi hutan puyeng).

Sebuah lagu yang menggambarkan bagaimana tenda-tenda dadakan berdiri di semak-semak dan aktivitas para PSK kelas teri menghiasi Lapangan Tegallega waktu itu. Parahnya, tenda-tenda tersebut bahkan terlihat jelas dari arah jalan raya. Dan di siang hari, lapak-lapak PKL berdiri di luar sekeliling lapangan pinggir jalan raya Otista. Di dalamnya, kadang ada aktivitas latihan dari beberapa Sekolah Sepak Bola (SSB).

Revitalisasi di era Ridwan Kamil
Kini, di era Wali Kota Ridwan Kamil, lapangan yang juga berfungsi sebagai resapan air tersebut direvitalisasi. Setelah melalui proses sayembara di Tahun 2014 lalu desain revitalisasi Tegallega dibuat maket untuk dibangun. Pemenang sayembara desain Masterplan Taman Konservasi Tegallega adalah Sri Suryani dan lima temannya yang merupakan lulusan Arsitektur ITB 2007.

Pada Februari 2017, pembenahan Lapangan Tegallega dengan konsep "Future Park" sudah mulai terlihat.
Sarana yang adi di sana dibenahi tapi tidak mengubah kawasan konservasi. Plazanya diperbaiki, juga nanti ada menara. Di lapangan dengan luas 16 hektar tersebut, kini terlihat mentereng.

Proyek revitalisasi Lapangan Tegallega diperkirakan membutuhkan waktu sekitar empat tahun. Hal ini karena luasnya lahan sehingga tak bisa sekaligus tuntas dalam satu kali konstruksi. Pihak Pemkot Bandung pun terkendala dari segi biaya yang idealnya harus menyiapkan dana Rp88 miliar.

Replika dinosaurus di Taman Tegallega
Penataan taman konservasi Tegalega ini merupakan proyek pembangunan taman terbesar di Kota Bandung. Pada 2016 lalu, penataan baru selesai tahap I dan dilanjutkan 2017 ini untuk tahap II dari empat tahapan. Pada Februari 2017, pembenahan lapangan yang diapit tiga jalan utama ini sudah diganti menggunakan batu granit.

Pihak Pemkot pun menghiasi lapangan dengan hadirnya replika dinosaurus warna-warni. Replika hewan prasejarah tersebut berada di tengah taman berjumlah 20 dan berfungsi seperti lampion dan saat malam terlihat menyala. Nantinya, akan dibangun juga amphiteater. Taman Tegallega sendiri belum dibuka dan sementara hanya untuk lapangan upacara.

Adapun pembenahana lainnya dengan pembangunan fasilitas museum, perpustakaan, juga akan dibangun kolam-kolan kecil seperti di Taman Sejarah. Kolam dangkal ini nantinya bisa dipakai untuk anak-anak bermain air. Kolam dibuat dengan sistem rotasi air menggunakan mesin pompa. Pada tahap pertama ini, kini yang telah selesai adalah penataan pada jalur tengah yang menuju ke monumen dan lokasi untuk upacara.

Relokasi PKL
Dalam penataan Taman Tegallega empat tahap itu, lapangan akan dibaga dengan konsep zona kerja menjadi tiga bagian. Penataan tersebut mulai dari bagian plaza dan boulevard, bagian permainan anak-anak, area olahraga, dan lahan parkir. Hal lain yang diperhatikan pihak Pemkot Bandung adalah urusan pedagang kaki lima (PKL) yang sudah turun temurun mangkal di area Lapangan Tegallega.

Pemkot memutuskan untuk tidak melarang total aktivitas PKL. Sesuai desain revitalisasi, seluruh PKL akan ditempatkan di sisi barat Lapangan Tegallega (jalur Jln. Otista). Di sisi jalur itu juga akan dialokasikan untuk lahan parkir. Teknisnya, akan ada penjadwalan PKL dan pemilihan jenis jualan yakni hanya pedagang kuliner dan waktunya bergantian dengan parkir.

Foto-foto terbaru di Lapangan Tegallega lihat di sini.