Review

Pameran Legenda Batik Nusantara di Graha Manggala Siliwangi, 1 - 5 Februari 2017




Pameran Legenda Batik Nusantara di Graha Manggala Siliwangi 1 - 5 Februari 2017

Pameran Legenda Batik Nusantara digelar di Graha Manggala Siliwangi, Jln. Aceh, Bandung dari Rabu hingga Minggu, tanggal 1 - 5 Febuari 2017. Pameran dibuka langsung oleh Sekda Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dalam pameran ini ada 80 stand yang menghadirkan dari berbagai karya etnik seperti songket, tenun, bordir dan tentunya batik tulis khas Indonesia. Untuk tenun, misalnya, ada dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Bali. Sementara untuk bahkan ada di kisaran paling murah di harga Rp50.000.

Di area pameran, dibagi wilayah berupa zonasi untuk kawasan stand-stand dari yang biasa hingga premium. Adapun untuk yang premium posisi stand di depan sampai ke tengah. Sedangkan target untuk event yang digelar Maxindo ini yakni mendapat 20 ribu pengunjung dengan targetan pendapatan hingga Rp 10 milyar selama lima hari pameran digelar.

Daya tarik tarik lain yang disajikan dalam pameran ini adanya aneka kerajinan (handy craft) dan produk etnik. Tentunya pula, ekslusivitas produk-produk fashion seperti tenun khas Indonesia menjadi daya tarik pengunjung dalam pameran fashion di Bandung ini. Kekhasan hiasan dan tidak mudah untuk ditiru menjadi nilai lebih produk tenun khas Nusantara tersebut.

Ajang promosi dan penjualan batik
Pameran ini pun menjadi ajang untuk promosi produk khas Indonesia yang kini banyak digempur produk impor. Selain itu, event ini sebagai bukti bahwa produk batik Indonesia masih digemari para pemakai juga kolektor di luar negeri. Tingkat ekspor Indonesia yang saat ini lesu ternyata tidak berdampak banyak terhadap para pengrajin batik. Untuk nilai ekpor batik hanya da pada kisaran 20% dengan cakupan wilayah ekspor di Asia seperti Malaysia, Brunai, Thailand, Vietnam ,sampai Afrika.

Salah satu produk batik yang diprediksi bakal menarik minat para pembeli adalah Batik Wonogiri. Produk batik ini diprediksi bakal jadi trend fashion batik di tahun 2017. Selain batik yang diprodukai sedikit dan saat ini tengah dipacu untuk dikembangkan, warna-warna yang menyala dari Batik Wonogiri yang membuat karya batik yang satu ini diprediksi akan menjadi trand baru di 2017.

Bertahan di tengah gempuran batik impor
Produk lain yang dihadirkan adalah batik cetak (print). Selama ini, produk dari Tiongkok terus menggempur dengan ekspor dari negara Tirai Bambu tersebut ke Indonesia. Para perajin di Indonesia pun mulai mengadaptasi sistem tersebut untuk memenuhi kebutihan order batik yang tinggi. Bedanya, print batik Indonesia masih menggunakan sistem mesin manual. Adapun print batik di Tiongkok sudah per-rol dengan menggunakan mesin cetak khusus yang bisa produksi massal.

Untuk menghadapi gempuran batik dari luar, diharapkan para perajin dan pengusaha batik terus bertahan dengan banyaknya pesaing seperti karya karya batik instan yang diproduksi Tiongkok. Untuk membantu dan mendorong produk lokal, tentunya butuh dukungan para pembeli batik untuk menggunakan karya-karya lokal.