Review

Pergelaran Opera Angklung "Ciung Wanara" Kabumi UPI di Dago Tea House




Orkestra Ciung Wanara Kabumi UPI

Pada tahun 2010 Kabumi UPI pernah sukses mempergelarkan opera angklung “Sangkuriang”. Dan pada Kamis, 20 April 2017 Kabumi kembali menyajikan opera angklung yang berjudul “Ciung Wanara”. Pertunjukan angklung orkestra ini dikombinasikan dengan drama dan tari tradisional, mengusung kisah dramatis namun dibalut komedi jenaka dan pesan moral yang mendidik. Ciung Wanara, sebuah legenda yang berasal dari Tanah Sunda.

Event ini akan digelar di Teater Tertutup Dago Tea House (Taman Budaya Jabar)  pukul 19.00 WIB. Adapun harga tiket masuknya untuk presale tahap II  Rp50.000 (s.d. 19 April 2017) dan on the spot: Rp60.000. Kontak pemesanan tiket: 0821-4400-0229.

Sinopsis:
Cerita berlatar di Kerajaan Galuh yang berada di Kota Ciamis. Menceritakan tentang seorang putra kerajaan anak dari Dewi Naganingrum yang sangat tampan dan gagah. Ketampanan putra kerajaan ini sudah terlihat sejak dia lahir yang menyebabkan ibu tirinya yang bernama Dewi Pangrenyep merasa ketakutan. Ia khawatir saat besar putra kerajaan akan menggeserkan posisi putranya yang bernama Hariang Banga untuk menguasai Kerajaan Galuh.

Dewi Pangrenyep pun memfitnah Dewi Naganingrum melahirkan anak anjing yang menjadi aib bagi Kerajaan Galuh. Buah fitnah tersebut menyebabkan Dewi Naganingrum diusir dari kerajaan dan putranya dihanyutkan ke Cungai Citanduy bersama satu telur ayam jago.

Putra Dewi Naganingrum ini diasuh oleh sepasang suami istri yang tidak bertetangga dan tidak dikaruniai anak, putra kerajaan ini diberi nama Ciung Wanara. Ciung Wanara ini memiliki seekor ayam jago yang kesaktiannya itu dikenal luas. Suatu saat, Kerajaan Galuh mengadakan suatu perlombaan adu ayam. Bagaimana kelanjutan ceritanya? Apakah ayam ciung wanara akan menang melawan ayam raja? Apakah Ciung Wanara akan bertemu dengan kedua orang tuanya?

Profil Kabumi UPI
Keluarga Besar Bumi Siliwangi atau biasa disingkat Kabumi dideklarasikan di luar Indonesia, yakni di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), di Kota Bonn, Ibu Kota Republik Federal Jerman, 1 Oktober 1985. Pada tanggal tersebut, selepas staf KBRI memperingati Hari Kesaktian Pancasila, Duta Besar Laksamana Ashadi Cahyadi, dan atase Pendidikan Dr. Soedijarto, mengusulkan kepada Rektor IKIP Bandung (1978-1987) Prof. H. M. Nu’man Somantri, M.Sc., untuk mendirikan grup “Orchestra Angklung” dan menampilkannya di Jerman dan negara-negara Eropa lainnya. Usul itu di dasarkan pada kenyataan bahwa masyarakat Eropa pada umumnya hanya mengenal tari Jawa dan Bali sebagai citra seni budaya Indonesia.

Pada awalnya, Kabumi merupakan unit kegiatan kesenian Sunda yang diperuntukkan bagi seluruh anggota keluarga besar IKIP Bandung, sehingga dinamakan Keluarga Besar Bumi Siliwangi. Anggotanya sendiri terdiri atas dosen, staf, dan anggota keluarga IKIP . Pada waktu itu, dari luar kampus IKIP pun dapat menjadi anggota.

Pada tahun 1998, Kabumi UPI terdaftar sebagai bagian dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kebudayaan UPI. Sesuai dengan kebijakan Rektor UPI pada tahun 2011, Kabumi ditetapkan sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Dengan perubahan ini, secara otomotis keanggotaan pun hanya mahasiswa UPI.