Review

Taman Radio, Tempat Ngumpul dan Event Para Pegiat Broadcasting di Jalan Dago




Taman Radio Jalan Dago Bandung

Pada tahun 2014, para pegiat di bidang broadcasting mengeluarkan masukan buat Pemkot Bandung agar di Bandung ada taman radio. Maklum saja, Bandung termasuk kota yang "populasi" stasiun radionya paling banyak di Indonesia, bahkan di dunia. Radio-radio tersebut mengusung ragam tema dan segmen masing-masing, dari segmen anak remaja, berita, hingga yang mengangkat seni budaya Sunda. Dan kini pada pertengahan Mei 2017, di Bandung ada Taman Radio.

Taman tersebut diklaim satu-satunya di Indonesia mungkin bahkan di dunia. Taman Radio ini berada di area pertigaan Jln. Ir. H Juanda (Dago) dan Jln. Ranggagading, sebelumnya area publik ini dikenal sebagai Taman Flexi. Taman ini diresmikan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil pada  Jumat (19/5/2017). Taman tersebut akan dikelola oleh komunitas radio di Kota Bandung yang tergabung dalam Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia (PRSSNI) Jawa Barat.

Salah satu fungsi taman ini sebagai ajang gelaran event off-air radio-radio yang ada di Bandung, salah satunya pada malam Minggu. Taman tersebut bisa dimanfaatkan oleh para pegiat radio se-Jabar khususnya yang ada di Kota Bandung untuk bertukar ilmu, mengadakan pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan dunia broadcast dan menjadi fasilitas belajar bagi masyarakat umum.

"Taman ini memang masih belum sempurna. Tapi ada area duduk, sehingga kegiatan di sini bisa lebih interaktif," terang Emil saat peresmian.

Dari liris Humas Pemkot Bandung, pada peresmian tersebut stasiun-stasiun radio itu, khususnya yang berada di wilayah Kota Bandung, menyatakan kehendak untuk membantu program pemerintah dalam mengampanyekan Rebo Nyunda dan Kamis English. Pernyataan kehendak itu ditandatangani langsung oleh Wali Kota Bandung dan Ketua PRSSNI Jawa Barat Joesoef Siregar.

Siaran mendukung Rebo Nyunda dan Kamis Inggris
Komitmen tersebut akan ditindaklanjuti oleh media-media radio se-Kota Bandung dengan mengadakan program siaran berbahasa Sunda setiap hari Rabu dan program berbahasa Inggris setiap hari Kamis. Bahkan, Ridwan sendiri sesekali akan ikut bersiaran di beberapa radio dengan berbahasa Sunda dan Inggris.

Bagi Ridwan, cara tersebut merupakan salah satu cara untuk melestarikan bahasa Sunda. Pasalnya, radio adalah salah satu media yang paling dekat dengan anak muda.

“Cara ini juga membuat orang Bandung bisa kompetitif, memahami bahwa jika ingin maju harus menguasai bahasa Inggris,” tuturnya.

Ia sangat ingin agar warga Bandung bisa menggunakan kedua bahasa tersebut dengan baik. Tujuannya agar bahasa Sunda tetap hidup dan tidak ditinggalkan, namun warga Bandung juga bisa mengikuti kebutuhan zaman dengan bahasa Inggris.

“Mudah-mudahan dengan program-program yang membuat inovasi ini warga Bandung bisa jauh lebih terdidik, lebih keren, lebih ngamumule budaya, juga lebih pintar dan kompetitif,” harapnya.

Siaran hiburan dan edukasi
Selain meminta agar menyiarkan program berbahasa Sunda dan Inggris, Ridwan juga menitipkan kepada awak media agar lebih menekankan tanggung jawab moral dalam menyiarkan informasi. Di tengah perkembangan teknologi dan situasi sosial politik dalam negeri yang tengah berdinamika, ia berharap insan radio bisa menjadi peneduh yang menenteramkan.

Siaran radio, selain memberikan berita dan hiburan, juga diharapkan bisa memberikan edukasi dan pesan-pesan moral kepada masyarakat. Radio juga bisa menjadi penyampai informasi yang kredibel dan bisa membawa masyarakat ke arah optimisme dalam pembangunan.

“Hari ini banyak berseliweran informasi yang kurang bisa dipertanggungjawabkan. Kita perlu lawan informasi tersebut dengan konten-konten yang positif dan mencerdaskan,” imbuhnya.