Review

Contoh Ungkapan Sehari-Hari dalam Bahasa Sunda




Contoh ungkapan bahasa Sunda

Ungkapan adalah kelompok kata atau gabungan kata yang menyatakan makna khusus. Hal ini lebih pada ekspresi dan emosi yang disampaikan agar konteksnya lebih kuat. Ungkapan-ungkapan yang muncul di masyarakat Sunda tak lepas juga dari pengaruh pergaulan dan hal lainnya.

Bagi yang sedang belajar Bahasa Sunda, setidaknya adanya ungkapan-ungkapan tersebut bisa menambah perbendaharaan kata. Lebih dari itu, mengenal ungkapan dalam bahasa Sunda sehari-hari bisa lebih memahami makna dan konteks hubungan sosial di masyarakat.

Berikut ini beberapa ungkapan dalam bahasa Sunda beserta arti dan konteks yang ada di dalamnya:

1. Kuma manéh wé!
Ungkapan ini lengkapnya dari kumaha manéh wé! mengandung arti "bagaimana kamu saja lah", "gimana kamu saja", atau "terserah elu!". Dalam bahasa Sunda lebih kasar biasa diungkapkan "kuma sia we!" Konteksnya adanya percakapan antara dua orang yang setara/seumuran menggunakan bahasa loma (biasa) ataupun kasar. Mengandung makna, dimana si pengungkap menyerahkan keputusan kepada si lawan bicara. Ini bisa karena sudah kesal atau memang si pengungkap sudah tidak mau peduli.

Contoh:
A: Ceuk urang mah, tibatan manéh nganggur mending nyoba nyieun usaha leuleutikan.
B: Ah, lieur. Nyieun usaha mah kudu aya modal. Jeung bingung rék usaha naon?
A: Dibéré saran téh sok kitu manéh mah. Nya kuma manéh wé lah!

A. Menurutku, daripada kamu menganggur lebih baik coba bikin usaha kecil-kecilan.
B. Ah, pusing. Bikin usaha kan harus ada modal. Dan bingung mau usaha apa?
A: Dikasih saran kamu suka begitu. Ya, gimana kamu saja lah!

2. Buktos sanés waos
Ungkapan ini mengandung arti "bukti bukan omongan saja" dimana dalam bahasa Sunda kasarnya "bukti lain huntu". Ini ungkapan semacam sindiran kepada orang yang terlalu banyak janji/omong daripada memberi bukti. "Ngawaos" sendiri dalam bahasa Sunda mengandung makna banyak omong.

Contoh:
A: Salaku calon pamingpin, kuring rék nyejahterakeun rahayat, moal korupsi, jeung rék nyadiakeun lowongan gawé.
B: Buktos sanés waos, Pa. Geus bosen ngadéngéna hayoh wé ngan jangji-jangji!

A: Selaku calon pemimpin, saya akan menyejahterakan rakyat, tidak akan korupsi, dan akan menyediakan lapangan kerja.
B. Bukti bukan omongan doang, Pak. Sudah bosan mendengar cuman janji dan janji saja!

3. Ulah kabawa sakaba-kaba
Ungkapan ini artinya "ulah kabawakeun teu puguh lampah ku batur, ulah kapangaruhan ku batur nu teu pati eucereug"  dalam bahasa Indonesia mengandung makna "Jangan terbawa oleh orang lain akan hal yang tidak baik". Misalkan anak sekolah yang ikut-ikutan tawuran atau pergaulan remaja yang terlalu bebas. Bila terbawa pada hal yang kurang baik tersebut, maka akibatnya akan buruk pada semua.

4. Tong pareumeun obor
Ini harti harfiahnya"Jangan padam obor" dimana mengandung makna bahwa sebagai manusia jangan kehilangan arah atau pedoman, jangan sampai kehilangan pedoman agama, negara, seni budaya, atau tata nilai-nilai kehidupan. Bisa juga pada akar kehidupan, contohnya: barudak kiwari tong pareumeun obor, nepi ngagunakeun bahasa Sunda gé mimiti ditaringgalkeun (anak muda sekarang jangan kehilangan akar, sampai menggunakan bahasa Sunda pun mulai ditinggalkan).

5. Hirup mah heuheuy jeung deudeuh
Ungkapan lengkapnya dalam bahasa Sunda “Hirup mah heuheuy jeung deudeuh! Mun keur seuri cape seuri mun keur ceurik capé ceurik” artinya hidup itu selalu diwarnai kesenangan dan kesedihan silih berganti. Hidup seperti roda yang berputar, ada kalanya mendapatkan kegembiraan, ada kalanya juga harus menghadapi kesedihan.

6. Dulur jadi batur, batur jadi dulur
Artinya "Saudara/kerabat sendiri jadi orang lain, orang lain jadi saudara". Ungkapan ini mengandung makna dimana orang yang terdekat/keluarga ketika ada masalah menjauhi. Sedangkan orang lain yang tidak ada hubungan keluarga (teman/sahabat/orang jauh) malah sangat peduli dan membantu apa yang kita alami.

7. Mérégéhésé Cap Jahé
Sekilas seperti kalimat dalam bahasa India. Ungkapan ini menggambarkan orang yang pelit (Sunda = pedit). Aslinya dari Méré gé hésé = memberi saja sulit. Cap jahé = jahe menggambarkan tangan yang kaku/susah menolong. Kalau dalam bahasa Sunda ada juga ungkapan dengan makna sama yakni "buntut kasiran", menggambarkan ujung rambut di atas belakang leher (buntut kasir/ekor kasir). Kasir sendiri serangga sejenis jangkrik dimana ekornya persis seperti ujung rambut yang pendek di belakang leher). Ini artinya menggambarkan tangan atau hati seseorang yang sangat "pendek" alias sulit dalam urusan tolong menolong. Ungkapan ini sejenis dengan hésé barang béré = susah memberi.

8. Cik atuh mikir!
Dipadankan pada ungkapan/umpatan untuk seseorang yang sangat susah diberitahu, mengandung makna "mikir dong!". Misalnya ada seseorang yang hidupnya glamour tetapi sebetulnya hidupnya sangat seret alias miskin namun walau diingatkan, tetap tak bisa mengubah gayanya.

9. Paduli teuing!
Ungkapan ini disampaikan kepada orang yang susah diajak pada kebaikan atau seseorang yang egois. Mengandung makna "peduli amat" atau "bodo amat" Menggambarkan sikap apatis terhadap keadaan atau sesuatu, misalnya: "Rék salamet, rek cilaka.... paduli teuing! Tuda geus sering diomongan tong naék motor  kekebutan gééh angger wé teu nurut!" (Mau selamat... mau celaka peduli amat! Sudah sering diomongin jangan naik motor kebut-kebutan, eh tetap saja tidak nurut).

10. Engke ge aya wawalesna!
Ungkapan ini semacam karma, bahwa hal  kurang baik yang diperbuat kepada orang lain, suatu waktu pasti bakal ada balasannya. Lebih jauh untuk kehidupan akhirat nanti, dalam bahasa Sunda ada ungkapan "Manusa maot mah salain bilatungan ogé balitungan", artinya "manusia yang meninggal, selain jasadnya dimakan belatung juga akan ada perhitungan (amal)".