Konsep Tempat Wisata di Bandung Kekinian yang Digemari Wisatawan




Konsep wisata Bandung kekinian

Bandung sebagai kota tujuan wisata memang selalu menghadirkan sesuatu yang banyak menarik wisatawan. Wisata di Bandung dari wisata alam, kuliner, belanja, hingga wisata event kerap jadi tujuan wisatawan saat melancong di Bandung. Mungkin ada ragam pertanyaan: mengapa tempat wisata di Bandung bisa menjadi magnet tersendiri bagi para pelancong? Memang, tidak semua tempat wisata di Bandung menjadi primadona. Ada beberapa hal terkait tempat wisata yang jadi tujuan favorit wisatawan.

Berikut ini beberapa hal terkait konsep wisata di Bandung  secara umum yang digemari wisatawan menurut pantauan dan analisis tim wisatabdg.com:

1. Sejuk dan nyaman
Inilah salah satu faktor mengapa wisatawan luar kota yang berkunjung ke Bandung. Kesejukan alam dan kenyamanan saat di lokasi wisata di Bandung memang jadi tujuan. Apalagi bagi para pelancong dari Jakarta, hawa sejuk Bandung memang menjadi sensasi sendiri tersendiri yang bisa bikin badan rileks dan bisa membuat otak refresh.

Tak heran bila tempat-tempat wisata di kawasan yang sejuk seperti di Lembang dan Ciwidey masih mendominasi jadi tujuan favorit, seperti: Kawah Putih, Situ Patenggang, The Logde Maribaya, Grafika Cikole, Dago Dream Park, De Ranch, Maribaya Resort, Floating Market Lembang, kawasan Punclut, dan lainnya.

2. Akses mudah dikunjungi
Untuk urusan ini, akses jalan ke tempat wisata di Bandung memang biasa jadi prioritas pelancong. Seperti kawasan Lembang dimana aksesnya dari arah keluar tol Pasteur lebih mudah. Ke arah sini tidak banyak jalan rute pendek atau bercabang, tinggal lurus saja dari arah Jln. Setia Budhi (Ledeng). Beda halnya dengan tempat wisata di kawasan pusat Kota Bandung, wisatawan masih saja ada yang suka kebingungan karena banyaknya jalan rute pendek dan bercabang-cabang. Namun, kehadiran peta online sekarang turut membantu kelancaran perjalanan wisatawan.

3. Instagramable
Di zaman medsos, menjadi keharusan bila tempat wisata tersebut instagramable banget alias pas buat sharing foto-foto. Maka, ketika ada tempat selfie baru di tempat wisata langsung jadi viral dan menarik kunjungan wisatawan. Sekarang, konsep spot buat selfie ini biasa jadi sajian di tempat-tempat wisata, misal di Farmhouse Susu Lembang (Rumah Hobbit), Taman Begonia, Floating Market Lembang, Tebing Keraton, The Lodge Maribaya, Caringin Tilu, perahu pinisi resto di Situ Patenggang, dan tempat lainnya.

Rupanya, bukan hanya tempat wisata konsep ini diusung. Sekarang ini, tempat-tempat kuliner di Bandung pun banyak yang menyajikan konsep yang instagramable, misalnya tempat kuliner di kawasan Puncak Ciumbuleuit (Punclut) atau tempat-tempat kuliner di pusat Kota Bandung.

4. Ramah wisata keluarga
Wisatawan yang berkunjung ke Bandung biasanya ngabring (berombongan) dengan keluarga. Tentulah kenyamanan bagi pengunjung menjadi prioritas. Misalnya bagi yang bawa anak kecil, sang orangtua tidak harus kerepotan saat menikmati rekreasi. Yakni dengan adanya playground atau kursi khusus anak. Apalagi bila sang pengelola menyiapkan petugas-petugas yang ramah dan selalu siap membantu kebutuhan pengunjung.

5. Wisata terpadu
Pelancong datang ke tempat wisata bukan hanya asyik rekreasi menikmati wahana atau fasilitas utama. Terkadang mereka setelah lelah bermain, ingin menikmati kuliner. Atau ingin bersantai, sholat, membeli oleh-oleh, dan lainnya. Bila semua bisa dilakukan di satu tempat, makin betahlah para wisatawan menikmati tempat wisata tersebut karena tidak harus ribet keluar dulu dari lokasi wisata.

6. Tersedia akses internet
Sudah jadi "tradisi" bila berkunjung ke tempat wisatawan tentunya ingin bereksis ria di media sosial dengan memposting foto. Namun, tidak semua kawasan wisata (terutama di pegunungan) sinyal selulernya bagus. Untuk itulah, kehadiran akses WiFi gratis bagi pengunjung punyai nilai plus tersendiri yang sangat bermanfaat dan makin memberi kenyamanan bagi pengunjung. Unsur manfaat pun dirasakan oleh pihak pengelola wisata.

Saat para pengunjung secara cepat update kegiatannya di tempat wisata tersebut, ini jadi promosi gratis. Dan inilah alasan mengapa tempat-tempat wisata di Bandung selalu saja ada yang viral dan menguasai jagat media sosial.

7. Mudah mendapatkan informasi
Bagi pengelola wisatawan yang "pelit" informasi seputar tempat wisatanya di jaringan dunia maya, agaknya harus berpikir dua kali. Kemudahan informasi dari lokasi wisata di Google Maps atau akun official di medsos akan memudahkan calon pengunjung untuk mengenali lebih dekat tempat wisata tersebut hingga akhirnya ia tertarik untuk datang.

Untuk itu, tempat wisata yang digemari oleh wisatawan bukan hanya tempat wisatanya yang menarik perhatian, tapi juga wisatawan bisa tahu profil, rute ke lokasi, jam buka, nomor telepon pengelola, galeri foto, fasilitas, hingga  harga tiket masuk/fasilitas. Apalagi bila ada admin khusus seperti media sosial yang siap menjawab setiap pertanyaan calon pengunjung di kolom komentarnya.

Untuk itu, pihak pengelola situs/medsos tempat wisata pun akan disenangi calon pengunjung bila selalu update mengenai harga tiket masuk terbaru, nomor kontak, sampai fasilitas teranyar. Memang, keramahan di media sosial pun jadi nilai lebih suatu tempat wisata. Review para local guides di Google Maps/Google Business dan situs review lainnya juga biasa jadi referensi awal calon pengunjung. Jadi, sebagus dan se-instagramable apapun tempat wisata, percuma bila tidak ramah alias bikin bingung calon pengunjung untuk mencari informasi di jagat maya.

8. Kenyamanan dan ketertiban
Bila tempat wisata dari arah tempat parkir saja sudah bermasalah, maka jangan disalahkan bila calon pengunjung jadi kapok. Ini yang kerap kami terima laporannya dari para wisatawan bila ada tempat wisata yang parkirannya bikin jengah si pengunjung. Hal ini bisa karena pengelolaannya yang tak tertib; diminta uang parkiran yang tidak wajar; atau kerap terjadi kehilangan barang di mobil saat parkir. Maka, kenyamanan mereka pun terganggu dan parahnya kesan ke tempat wisata pun jadi merembet imbasnya.

Kenyamanan dan ketertiban memang jadi poin tersendiri bagi tempat wisata. Termasuk juga di dalamnya. Misalnya bila ada tempat wisata kuliner yang makanannya enak dan tempatnya cozy, namun pelayannya kurang ramah dan lama, maka sudah jadi poin negatif di mata wisatawan. Atau tempatnya sih banyak pengunjung, namun kebersihannya kurang terjaga. Misal, sampah dimana-mana; toilet kotor dan bau; kabel melintang dan terbuka hingga mengganggu; saat makan pengamen keluar masuk silih berganti; dan lainnya yang bikin risih pengunjung.

9. Harga sesuai kualitas
Urusan ini memang sangat sensitif. Misalnya bila tempat wisata fasilitas dan wahananya biasa-biasa saja namun tiketnya mahal. Atau bisa juga tempat kuliner rasa makanannya biasa namun harganya di luar kewajaran. Bisa juga di tempat belanja yang menjual produk dengan harga tinggi, namun bahannya jauh dari harapan.

Jangan mentang-mentang momen libur panjang atau libur hari raya, misalnya, pihak pengelola menaikkan tarif/harga yang di luar kewajaran karena aji mumpung. Wisatawan pun akan memprioritaskan tempat wisata dimana uang yang mereka keluarkan sebanding dengan fasilitas dan layanan. Dan tempat wisata yang menganut faham "aji mumpung" tersebut biasanya bikin wisatawan enggan kembali datang ke tempat tersebut apalagi banyak embel-embel pembayaran plus lainya yang diluar kewajaran.

10. Ramah penyandang disabilitas
Untuk urusan ini, mungkin sebagian besar tempat wisata masih banyak yang belum memfasilitasi bagi penyandang disabilitas. Sehingga diharapkan kaum difabel dapat menikmati hak yang sama seperti masyarakat lainnya. Selama ini penyandang disabilitas tidak mau mengunjungi obyek wisata, karena akses untuk masuk ke tempat wisata itu sulit dilalui. Beberapa di antaranya dengan penyediaan akses khusus untuk penyandang disabilitas seperti toilet, tempat duduk, kursi roda, jalur masuk (gate), dan lainnya.

-----------

Baca info-info wisatabdg.com lainnya di GOOGLE NEWS