Review

Di Balik Kisah Sejarah Penjara Sukamiskin



Sejarah gedung penjara Sukamiskin Bandung

Sukamiskin, 17 Mei 1931

Saudaraku!
Baru sekarang saya menulis dari Sukamiskin, karena orang tangkapan hanya boleh berkirim surat sekali dalam dua minggu. Sesudah masuk ke dalam rumah kurungan, hampir semua yang saya bawa dari rumah tahanan di Bandung, diambil. Setiap hari saya mesti bekerja keras. Malam hari, badan sudah letih sehingga belajar pun tak ada hasilnya.
...

Itulah petikan surat dari Presiden Pertama RI, Soekarno, yang ditulis dalam pengapnya penjara Sukamiskin. Kutipan tersebut merupakan bagian dari buku di Di Bawah Bendera Revolusi. Dia berkisah lewat tuisan bertajuk "Keadaan Dipendjara Sukamiskin, Bandung" yang dia tulis di Sukamiskin, 17 Mei 1931

begitu jeblos ke Sukamiskin, ia diwajibkan mengganti pakaian dengan seragam penjara warna biru. "Rambutku dipotong hampir gundul, dimilimeter dalam bahasa Belandanya. Hampir segala apa yang saya bawa dari rumah tahanan (Penjara Banceuy, Kota Bandung)--semuanya diambil (petugas)," tulis dia.

Bung Karno pun merasa penjara Sukamiskin lebih parah ketimbang penjara Banceuy, tempat dia ditahan saat masih menjalani persidangan di pengadilan. Di penjara Banceuy, dia masih bisa mempelajari sejarah lewat buku dan suratkabar meskipun dengan syarat yang berat.

Lapas Sukamiskin di Bandung Timur
Lokasi Lapas Sukamiskin sendiri berada di Bandung Timur. Rute ke Lapas ini bisa dari berbagai arah. Bila dari arah barat, keluar tol Pasteur - Jln. Suci - Cicaheum - Sukamiskin. Bila dari arah timur, keluar tol Cileunyi - Cinunuk - Cibiru - Cipadung - Ujungberung - Sukamiskin.

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin menyimpan catatan perjalanan sejarah panjang. Bangunan penjara ini dibangun pada tahun 1817 oleh arsitek Belanda, Wolff Schoemaker. Lapas Sukamiskin ini memiliki 522 ruangan, beberapa di antaranya berada di bawah tanah yang dikhususkan untuk tahanan berbahaya. Sebagai Lapas Kelas I, faktor keamanan di lapas ini juga sangat ketat.

Zaman Belanda, penjara Sukamiskin adalah Straftgevangenis voor intelectuelen atau Rumah Tahanan Politik. Schoemaker merancang penjara ini dengan desain kincir angin. Setiap blok mengarah sesuai mata angin, blok utara, blok selatan, blok barat dan blok timur. Setiap blok terdiri 2 lantai yang dihubungkan ke bangunan bundar paling tinggi di tengah.

Saksi bisu perjuangan Soekarno
Penjara seluas dua hektare tersebut pernah dihuni oleh presiden pertama Indonesia, Soekarno. Tahun 1930, Soekarno ditangkap oleh Belanda dan dipenjara di Penjara Banceuy karena aktivitasnya di Partai Nasional Indonesia (PNI). Lalu tahun 1930 dipindah ke Sukamiskin.

Di penjara ini pula, mantan Presiden Pertama RI, Soekarno, menjalani hukuman di salah satu sel dari 552 sel penjara Sukamiskin. Penjara dua lantai ini, menjadi penjara bersejarah di Bandung, selain penjara Banceuy, yang juga pernah menjadi tempat tahanan politik semasa pendudukan pemerintahan Belanda.

Presiden pertama Republik Indonesia tersebut pernah menghuni kamar nomor 1 Blok Timur Atas. Sekarang, sel tersebut bernomor TA01 yang merupakan singkatan dari Timur Atas 01. Kini, bekas sel penjara yang ditempati Proklamator itu diberi tulisan "Bekas Kamar Bung Karno".

Sebelumnya, Soekarno menghuni penjara Banceuy di kawasan Alun-Alun Bandung yang jaraknya sekitar 3,5 kilometer dari rumah Inggit Garnasih di Ciateul. Sementara Sukamiskin jaraknya sekitar 15 kilometer dari rumah di Jalan Ciateul Nomor 8, kediaman Inggit.

Saat itu, Inggit Garnasih biasa berjalan dari Ciateul ke Sukamiskin dengan berjalan kaki, lalu disambung dengan naik delman. Pada masa itu, Soekarno tidak boleh dijenguk siapa pun kecuali istrinya, Inggit Garnasih. Inggit dengan setia rutin menjenguk Soekarno yang biasa dipanggilnya dengan nama Engkus atau nama aslinya, Kusno. Inggit senantiasa membesarkan hati Soekarno.

Profil Lapas Sukamiskin
Sejak ditangani pemerintah Indonesia pasca kemerdekaan, secara fisik bentuk bangunan Lapas yang terletak di Jalan Jalan AH Nasution ini tidak banyak mengalami perubahan, kecuali beberapa bangunan tambahan untuk kantor sipir dan kepala lembaga pemasyarakatan serta patung seorang ibu yang sedang menggendong anaknya, di halaman depan gedung. Tidak ada catatan sejarah yang menyebutkan, penjara ini dibobol oleh tahanan dan narapidananya, baik sejak pemerintahan Hindia Belanda.

Dari bentuk bangunannya yang kokoh, yang dilengkapi dinding yang tinggi dan kuat, sulit tampaknya ada tahanan yang bisa lolos dari penjara Sukamiskin. Selain dilengkapi dengan sejumlah menara pengawas bagi petugas jaga yang memantau 4 blok timur, barat, atas, dan bawah, yang ada disana. Seperti layaknya sebuah lembaga pemasyarakatan, penjara Sukamiskin juga dilengkapi dengan berbagai sarana untuk para penghuninya termasuk sarana ibadah masjid dan sebuah lapangan sepak bola.

Pada tahun 2010, Lapas Sukamiskin diresmikan sebagai aset bersejarah Kota Bandung, sebagai bangunan cagar budaya. Tentunya, penjara ini diharapkan menjadi salah satu tujuan wisata bagi wisatawan yang singgah di Bandung. Menjadikan Lapas Sukamiskin sebagai bangunan cagar budaya tiada lain atas inisiatif dari Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan HAM Jawa Barat. Kini, Lapas di dekat Pasir Impun tersebut dikenal sebagai penjara para koruptor.

Bahkan kini, di Lapas Sukamiskin ada Taman Bung Karno. Lokasinya di sisi barat penjara Sukamiskin. Ada lukisan besar mantan presiden Sukarno di dinding bangunan utama. Bangunan utama itu berisi dua set sofa panjang dan enam meja bundar dengan kursi kayu. Taman itu dikelilingi 37 saung berdinding anyaman bambu dan beratap ijuk. Luas saung rata-rata 2 x 2,5 meter.

Profil gedung-gedung bersejarah lainnya LIHAT DI SINI.

share to whatsapp