Review

Melihat Suasana Bandung dari Zaman ke Zaman Melalui Film




Ridwan Kamil, Wali Kota Bandung yang akan menjadi Gubernur Jawa Barat baru ini, punya mimpi besar untuk menjadikan Bandung sebagai kota film. Hal itu diungkapkan Kang Emil saat menerima kunjungan para pemain film “13 The Haunted” di Pendopo Kota Bandung, Sabtu (21/7/2018). Menurutnya, Bandung memiliki paket lengkap bagi industri film dan patut menjadi kota film dan menjadi Hollywood atau Bollywoodnya Indonesia.

Kang Emil mengajak para produser dan industri film untuk selalu menjadikan Bandung sebagai top of mind kalau mau shooting. Ia pun mencontohkan, beberapa titik yang bisa menjadi referensi, seperti latar kota tua di Jalan Asia- Afrika, pegunungan di kawasan utara Bandung, hutan kota, hingga area sekolah zaman dulu.

***
Memang, untuk bidang film Bandung sudah dikenal sejak zaman kolonial. Bahkan film Loetoeng Kasaroeng, film bisu pertama yang diproduksi di Indonesia dirilis pada tahun 1926 oleh NV Java Film Company dan disutradarai oleh dua orang Belanda, G. Kruger dan L. Heuveldorp dan dibintangi oleh aktor-aktris pribumi, pemutaran perdananya di kota Bandung berlangsung dari tanggal 31 Desember 1926 sampai 6 Januari 1927 di dua bioskop terkenal Bioskop Metropole dan Bioskop Majestic.

Jangan dilupakan pula, masyarakat Bandung sejak zaman Walanda, dikenal sebagai penikmat film. Tak heran bila di Bandung terhitung banyak peninggalan bioskop. Walau sekarang bioskop-bioskop tersebut beralih fungsi atau jadi bangunan cagar budaya.Beberapa di antaranya seperti bioskop Panti Karya yang kini lokasinya di depan Bandung Indah Plaza (BIP) dan sudah berubah fungsi.

Lalu ada De Rex/Vanda Theater/Panti Budaya dekat Bank Indonesia seberang Taman Balai Kota (kini jadi Taman Vanda). Ada pula Pop Theater bersebelahan dengan rel kereta api, terdapat Gedung Landmark (dulu merupakan toko buku Van Dorp) yang ternyata pernah menjadi bioskop. Lalu, Di samping Gedung Merdeka terdapat gedung New Majestic yang dulunya merupakan bioskop Concordia di tahun 1900an awal. Bioskop lainnya ada Elita di sebelah Pendopo Kota Bandung (selatan Taman Alun-Alun) dan lainnya. 

Melihat dokumentasi Bandung dari zaman ke zaman bisa melalui jejak sejarah film di Kota Bandung. Salah satunya dari karya-karya Usmar Ismail. Film pertamanya yang juga menyajikan kisah Bandung adalah Darah dan Doa atau The Long March (of Siliwangi) yang tayang tahun 1950.  Film ini mengisahkan perjalanan panjang antara Yogyakarta dan Bandung atau Jawa Barat secara umum yang dilakukan Pasukan Divisi Siliwangi.  Lalu ada film Lewat Djam Malam yang diproduksi tahun 1954 yang ceritanya lebih khusus tentang Bandung. Film lainnya pada tahun 1961, Usmar Ismail melahirkan film bertajuk Toha, Pahlawan Bandung Selatan.

Untuk melihat Bandung jaman baheula, juga bisa dilihat di film Mat Peci. Film tentang sisi kelama penjahat kelas kakap ini dibuat tahun 1978 yang disutradarai oleh Abdi Wiyono dan dibintangi oleh Rachmat Hidayat dan Doris Callebaute. Lalu di era 90an, kisah  legendaris si Kabayan yang diperankan oleh almarhum Didi Petet dibuat dalam beberapa film dengan shooting di beberapa tempat ikonik di Bandung seperti tempat belanja di kawasan Alun-Alun, kawasan Dago, hingga Stadion Siliwangi.

Lalu, di era kekinian tak sedikit film yang mengambil lokasi shooting di Bandung dan berhasil di pasaran. Beberapa di antaranya film Jomblo, Heart, Perahu Kertas, Mama Cake, dll. Dan yang fenomenal tentunya film Pengabdi Setan yang mengambil lokasi shooting di kawasan Pangalaengan. Hingga film fenomenal yang terbaru yakni Dilan 1990 selain berhasil dari segi jumlah penonton juga nama Bandung pun ikut terangkat. Selain itu, bukan hanya film, ada sinetron pun yang khusus mengambil lokasi di beberapa tempat ngehits di Bandung yakni sinetron Preman Pensiun.

***
Memang, meledaknya suatu film kerap membawa nama kota yang jadi lokasi shooting. Kepenasaranan penonton untuk melihat langsung lokasi shooting memang berimbas bagi kunjungan wisatawan. Seperti halnya film Pengabdi Setan yang bikin penonton untuk melihat langsung rumah peninggalan Belanda di Pangalengan. Tentunya wisatawan bukan sekadar melihat rumah, mereka akan berwisata juga ke tempat-tempat wisata lainnya di Pangalengan.

Ragam sudut di Bandung memang menarik untuk dijadikan lokasi shooting. Bandung punya tempat-tempat eksotis sampai bernuansa seram untuk jadi tempat pengambilan gambar. Beberapa tempat eksotis dengan pemandanga alam di Ciwidey, Pangalengan, atau Lembang bisa jadi pilihan bagi yang akan memproduksi film. Bandung pun punya gedung-gedung atau rumah-rumah tua yang cocok buat shooting film horor. Bila ingin latar pengambilan gambar dengan suasana romantis dan kekinian, banyak tempat wisata atau tempat kuliner di Bandung yang punya view memesona buat latar film tema percintaan.

Dan yang pasti, jejak suasana Bandung dari zaman ke zaman secara tidak langsung terdokumentasikan lewat film-film tersebut. Ini akan menjadi petualangan mata tersendiri bagi yang suka sejarah atau tata kota. Mungkin saja tempat tersebut di adegan film ada, namun sekarang sudah tidak ada. Seperti lokasi shooting Gedung Palaguna di film si Kabayan yang sekarang sudah dibongkar.

Menonton kembali film-film lawas dengan mengambil lokasi shooting di Bandung akan jadi panineungan atau kenangan tersendiri bagi penikmatnya. Dan akan lebih baik bila lokasi-lokasi shooting tersebut semakin menambah kecintaan para wisatawan untuk lebih mengenal Bandung dari waktu ke waktu secara lebih dekat.





share to whatsapp