Review

Inilah Asal Usul Nama-Nama Tempat di Bandung



Sejarah nama-nama tempat di Bandung

Bila Anda melancong ke Bandung, mungkin melewati atau sempat singgah di beberapa tempat. Akan lebih asyik bila Anda berkunjung ke Bandung sambil mengenal sisi sejarah asal-usul nama tempat tersebut. Berikut ini asal usul nama-nama tempat di Bandung yang kami rangkum dari berbagai sumber:

1. Jalan Pasteur
Tentunya Anda mengenal nama tempat ini bila menggunakan tol Cipularang - Padaleunyi menuju Bandung dan keluar dari gerbang Tol Pasteur. Jalan Pasteur berasal dari nama seorang kimiawan dan ahli biologi asal Perancis yang bernama Louis Pasteur. Beliau seorang ahli yang terkenal karena teknik pasteurisasinya.

Di jalan Pasteur ini bisa kita temui Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHA) dan Bio Farma. Dua badan usaha milik negara yang bergerak dibidang kesehatan. RSHS dikenal sebagai rumah sakit rujukan bagi warga Bandung yang butuh pelayan kesehatan. Bio Farma dikenal sebagai produsen vaksin virus (campak, polio, hepatitis B) dan vaksin bakteri (DTP, TT, DT, dan BCG) guna keperluan imunisasi ataupun pencegahan penyakit.

2. Rumah Sakit Hasan Sadikin
Sebelumnya rumah sakit ini dikenal warga Bandung dengan nama RS Rancabadak dengan logonya yang berupa gambar badak yang sedang berendam di ranca ('rawa' dalam bahasa Sunda). Nama Hasan Sadikin, yang mulai dipakai pada tahun 1967, berasal dari salah satu mantan direkturnya, yaitu Dr. Hasan Sadikin (kakak mantan Gubernur DKI Ali Sadikin). Ketika ia sedang menjabat menjadi direktur tersebut, menteri kesehatan pada saat itu memintanya untuk mengubah nama rumah sakit yang dipimpinnya.

3. Jalan ABC
Lokasinya tidak jauh dari Alun-Alun Bandung ke arah utara dan dikenal sebagai sentra elektronik. Dilansir dari group FB Bandung Social Community, sekitar tahun 1917, di Bandung diberlakukan kewajiban membangun pemukiman mengelompok secara etnis. Aturan inilah yang kelak berkembang menjadi nama geografi seperti: Pecinan, Kampung Arab, Pasirkoja, dsb.

Lalu kemudian 1926 pemerintah mengatur lagi penggolongan ini menjadi 3 golongan, yakni Eropa, Bumiputra, dan Timur asing (Tionghoa, Arab dan India). Golongan Timur asing ditempatkan di sebelah selatan stasiun kereta api Bandung dan di sekeliling Pasar Baru.

Jejak keberhasilan para saudagar ini terpatri menjadi nama-nama jalan di seputaran area tersebut Misalnya: Al Katiri, Gang Al Jabri, Jalan Tamim. Jalan Encek Azis, Soeniaradja, Pecinan, dll. Untuk nama Jalan ABC ini merupakan tempat bercampurnya para etnis tersebut. Di sanalah tempat berkumpulnya tiga etnis utama, yakni Arabieren (A), Boemipoetra (B), dan Chinezen (C). Sejak tahun 1892, nama ABC Straat (Jalan ABC) sudah dipetakan dalam Map of Bandoeng: The Mountain City of Netherland India. Di sini pun terdapat toko yang terkenal waktu itu, yakni: Toko ABC.

4. Jalan Dago
Nama ini lebih sering dipakai ketimbang nama versi formalnya yakni Jln. Ir. H. Juanda. Penyebutan nama Dago (artinyaa 'tunggu') konon dahulu kala pada masa kolonial Belanda, penduduk di kawasan Bandung Utara memiliki kebiasaan untuk saling menunggu sebelum pergi ke kota. Jalan yang digunakan masih berupa jalur setapak yang kala itu menjadi satu-satunya akses bagi penduduk ke pasar. Katanya pula, jalan menuju pasar di Kota Bandung ini masih dikuasai oleh para perampok serta rawan binatang buas, terutama di daerah hutan sekitar Terminal Dago.

Versi lainnya menyebutkan berasal karena dulu rakyat pribumi yang bekerja di sektor pertanian harus menunggu upah dari Belanda setiap hari tertentu. Aktivitas menunggu pribumi ini dilakukan di lokasi yang sekarang jadi Terminal Dago.

5. Jalan Pagarsih
Sekarang kawasan Jalan ini dikenal sebagai sentra percetakan di Bandung.  Era 1940-an masih berupa persawahan, kebun kangkung, dan kebun kelapa. Jalan yang kini dikenal dengan nama Pagarsih diperkirakan sudah ada sejak tahun 1930-an dan jalannya pun belum selebar seperti sekarang.

Konon, seorang tuan tanah pernah tinggal di wilayah ini, namanya Garsih. Karena termasuk orang terpandang dan berpengaruh di kawasan ini, masyarakat sekitar kerap memanggil dengan sebutan Pak Garsih (Sunda = Pa Garsih).

Ia bersama warga membuat pintu air (irigasi) yang melekuk ke arah Jln. Babakan Irigasi sekarang (Sunda = ulekan). Maka tak heran jika di wilayah ini terdapat pasar Ulekan (sekarang disebut Pasar Pagarsih).

6. Pasar Baru Bandung
Inilah salah satu pasar terbesar di Bandung yang biasa jadi tujuan para wisatawan berbelanja. Pasar ini sebetulnya merupakan lokasi pengganti pasar lama di daerah Ciguriang (sekitar pertokoan Kings, Jalan Kepatihan sekarang) yang terbakar akibat kerusuhan Munada pada tahun 1842. Di sekitar kawasan Kepatihan memang masih dapat ditemukan ruas jalan kecil bernama Ciguriang. Munada yang dendam pada tuannya membakar pasar lama ini.

Untuk menampung para pedagang yang tercerai-berai serta aktivitas pasar yang tidak teratur, maka pada tahun 1884 lokasi penampungan baru mulai dibuka di sisi barat kawasan Pecinan. Kawasan inilah yang kemudian hari dikenal sebagai kawasan Pasar Baru sekarang.

7.  Kawasan Ledeng
Ini merupakan kawasan dekat kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung yang dilintasi Jln. Setia Budhi namun lebih dikenal dengan Jalan Ledeng. Nama "Ledeng" sendiri berasal dari situs sejarah yang di zaman belanda dikenal dengan "Tjibadak". Nama ini pula yang jadi asal mula nama daerah Ledeng sebagai sumber mata air di zaman Belanda, yang kini menjadi Kelurahan Ledeng. Secara epistimologi, nama ‘Cibadak’ berarti ‘tempat berendam badak’ Sunda = pangguyangan badak. Di area inilah dari dulu hingga sekarang terdapat sumber air yang melimpah.

Oleh pemerintah Hindia, sumber mata air yang melimpah dari tempat ini dibuatkan bangunan pelindung untuk kemudian ditampung dan dialirkan melalui saluran pipa besar yang ditanam di dalam tanah. Bangunan pelindung itu dikenal dengan nama Gedong Cai. Pembangunan Tjibadak yang berlangsung ketika Bandung dipimpin oleh Bertus Coorps ini miliki beragam alasan.

Selain untuk mengaliri kebutuhan air ke seluruh kota dan perkebunan, pembangunan ini juga bertujuan dalam rangka mempersiapkan Bandung sebagai ibu kota Hindia Belanda. Waterleiding Tjibadak ini dikelilingi sejumlah pohon diantaranya aren, jambu, mahoni, dan tanaman keras lainnya. Benteng ini menghadap cekungan yang dipenuhi pepohonan dan bangunan mewah di daerah Cipaku, Ledeng, Bandung.

8. Lapangan Gasibu
Pastinya bila Anda berkunjung ke Gedung Sate, tahu dong lapangan yang terletak tepat di seberang Gedung Sate ini? Berdasarkan buku Album Bandung Tempoe Doeloe karya Sudarsono Katam, pada zaman Belanda, lapangan itu awalnya bernama Wilhelmina Plein (lapangan Wilhelmina), nama dari Ratu Belanda. Sekitar tahun 1950-an, nama lapangan berganti menjadi lapangan Diponegoro.

Namun, karena sering digunakan perkumpulan sepak bola Bandung Utara, masyarakat akhirnya mengenal lapangan itu sebagai Gasibu (Gabungan Sepak Bola Indonesia Bandung Utara). Untuk mengelolanya, saat itu dibentuk panitia kecil yang terdiri dari PORL (Persatuan Olahraga Rukun Luyu dari Balubur), PAKSI dari Sekeloa, PORAS dari Sadang Serang. Lapangan ini sempat menjadi kawasan tempat tinggal liar pada 1960-an. Lalu, pemerintah mengembalikan fungsinya sebagai tempat berlatih sepak bola.

9. Pertigaan Beatrix Lembang
Pertigaan ini merupakan persimpangan antara Jalan Raya Lembang dengan Jalan Kolonel Masturi. Pertigaan Beatrix menjadi populer di kalangan masyarakat konon karena persis di pertigaan itu terdapat villa yang bernama Beatrix. Pada masa kolonial Belanda, bangunan untuk villa biasanya diberi nama seperti Villa Isola. Konon, Villa Beatrix  sendiri berada di sudut sebelah utara Jalan Kolonel Masturi. Namun, sampai saat ini belum ada informasi yang valid mengenai sejarah pertigaan ini.

10. Dayeuhkolot
Kawasan ini berada di Bandung selatan, Kabupaten Bandung. Dayeuhkolot sebelumnya bernama Karapyak dan menjadi cikal bakal lahirnya Kota Bandung. Dayeuh sendiri dalam bahasa Sunda berarti 'kota' dan kolot berarti 'tua'. Sejarah kota Bandung pun tidak pernah lepas dari Dayeuhkolot.

Ialah seorang bupati Bandung yaitu R.A Wiranatakusumah II yang akhirnya memutuskan untuk memindahkan pendoponya dari Karapyak (Dayeuhkolot) ke tepi sungai Cikapundung (Alun-Alun Bandung sekarang). Sebelum dipindahkan ke tepi sungai Cikapundung,

Karapyak ini merupakan kediaman para bupati Bandung mulai dari bupati pertama yaitu Tumenggung Wira Angun-Angun (1641-1681) lalu bupati selanjutnya: Tumenggung Ardikusumah (1681-1704), Tumenggung Angadireja I (1704-1747), Tumenggung Angadireja II (1747-1763), R.Agadireja III (1763-1794) atau yang lebih dikenal dengan nama R.A Wiranatakusumah I dan RA Wiranatakusumah II  Pada masa pemerintahan RA Wiranatakusumah II tersebut, pendopo dipindah ke Alun-Alun Bandung sekarang pada tanggal 25 september 1810.





share to whatsapp