Review

Lebih Dekat Mengenal Masjid Al-Jabbar, Masjid Terapung di Gedebage

share to whatsapp



Profil Masjid Al-Jabbar Gedebage

Bila Kota Bandung sudah ada Masjid Raya Bandung atau dulu dikenal Masjid Agung, kini Jawa Barat bakal pun Masjid Al-Jabbar. Masjid bukan saja sebagai tempat ibada umat muslim, namun juga bisa jadi ikon di suatu wilayah. Dan sebelum membahas masjid raya Jawa Barat ini, kehadiran masjid besar ini menjadi bagian wajah Bandung di masa depan.

Seperti diketahui, masjid yang masih dalam tahap pembangunan ini berada di kawasan Gedebage, wilayah Bandung Timur yang sedang dikembangkan. Salah satunya dengan kehadiran Bandung teknopolis yakni perumahan elite Summarecon.

Selain itu, di sini pula ada kolam retensi dengan ukuran luas juga infrastruktur lainnya. Di sinilah nanti bakal jadi titik pembangunan kereta api cepat juga sambungan tol Cileunyi - Garut - Tasik. Sementara kehadiran Masjid Al-Jabbar menjadi destinasi baru wisata religi di Bandung. Masjid ini pun lokasinya dekat dengan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) dan nantinya bisa diakses langsung dari keluar tol Gedebage.

Berikut ini informasi seputar Masjid Al-Jabbar:

1. Penamaan "Al-Jabbar"
Didirikan di atas kolam retensi yang luas, Masjid Al-Jabbar akan menjadi ikon baru di Jawa Barat. Berdiri di area seluas 25,9879 hektare masjid ini mengambil nama dari 99 Asmaul Husna yang artinya 'Mahakuasa", "Mahahebat", "Mahaperkasa". Masjid ini dikenal juga dengna "masjid terapung" karena letaknya yang ada di tengah danau. Peletakan batu pertama masjid di kawasan Cimincrang, Gedebage berdekatan dengan stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) ini digelar pada Jumat 29 Desember 2017.

2. Pelaksanaan pembangunan
Pembangunan dilakukan oleh Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (BMPR) Provinsi Jawa Barat dengan waktu pengerjaan Tahun Jamak 2017-2018. Masjid seluas 11.238 meter persegi dan luas plaza luar masjid 16.239 meter persegi itu progres pembangunan sampai awal 2019 telah mendekati 80 persen. Proyek tersebut ditargetkan bisa selesai di tahun 2020 mendatang.

Adapun rancangan masjid tersebut merupakan hasil karya keroyokan arsitek yang berasal dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Gagasannya dari Gubernur (Aher), kemudian dilanjutkan oleh konsultan perencana PT Yodya Karya yang mewadahi TABG (tenaga ahli bangunan gedung) dan Ikatan Arsitek Indonesia dari ITB. Penentuan desain Masjid Al Jabbar butuh waktu cukup lama hingga akhirnya disetujui oleh Aher. Bahkan, pihak Pemprov waktu itu sempat ke Arab Saudi untuk mencari inspirasi untuk diadopsi ke masjid tersebut.

3. Masjid pemerintah terbesar
Masjid Al Jabbar akan menjadi masjid pemerintah yang terbesar di antara masjid-masjid yang telah ada dimana mampu menampung 60.000 jemaah, baik di dalam maupun di plazanya. Untuk di dalam masjid bisa menampung 33.000 jemaah, sisanya bisa tersebar hingga ke plaza.

4. Fasilitas dan bagian-bagian Masjid Al-Jabbar
Rencana kegiatan untuk pembangunan Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat terdiri atas bangunan utama, sarana penunjangnya, dan fasilitas ruang terbukanya. Di lantai dasar masjid ini akan dibangun pula museum sejarah Nabi Muhammad SAW, yang akan memperlengkap paket wisata religi di kawasan ini.

Museum sejarah Nabi Muhammad SAW mengulas berbagai sisi kehidupannya. Museum lainnya, adalah Asmaul Husna seperti yang ada di Madinah, Museum Al Quran, dan museum Tiga Masjid Suci, yakni Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsa. Empat museum ini akan dirancang secara modern, seperti Museum Gedung Sate.

5. Pembebasan tanah
 Pembebasan tanah telah dimulai sejak tahun 2015 dengan luas 4,5798 hektare oleh Biro PBD, tahun 2016 seluas 12,2066 hektare oleh Biro PBD, dan total tanah yang dibebaskan tahun 2017 seluas 3,3556 hektare oleh Dinas BMPR.

Awal tahun 2018 lalu, pembangunan masjid terapung itu sempat ada masalah karena belum ada Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Pembangunan dilakukan hanya atas dasar Surat Persetujuan Pemanfaatan Ruang (SPPR) yang diterbitkan pada tahun 2016 lalu. Dan pada awal 2019, IMB untuk Masjid Al Jabbar sudah ada.

6. Stuktur dan makna area Masjid Al-Jabbar
Masjid dibangun dengan struktur utama beton. Juga rangka atap dengan struktur baja bentang panjang 99 m. Plus penutup atap kaca dan alumunium solid panel dengan ketinggian 58 m. Ada pula menara sebanyak 4 buah dengan yang paling tinggi 99 meter. Juga seluruh bangunan berdiri di atas struktur pondasi tiang pancang.

Masjid di lahan seluas 21 hektare menandakan masjid ini yang dibangun di abad 21. Selain itu, ada 4 menara yang menggambarkan Jabar Masagi. Selain itu, menara ke 1, tingginya 33 meter, menara kedua 33 meter, dan menara ke 3 tingginya 33 meter. Kalau dijumlahkan 99 mencerminkan Asmaul Husna. Bangunan masjid berupa atap dan jendela bertumpuk mirip dengan penggunaan atap pada masjid-masjid tradisional di Jawa Barat.

7. Luas masjid
Masjid Raya Al-Jabbar akan dibangun dengan lantai dasar seluas 11.291 meter persegi. Sementara lantai I seluas 8.329 meter persegi, dan lantai Mezzanine seluas 2.232 meter persegi. Sedangkan ukuran ruang luar masjid 17.429,6 meter persegi. Masjid ini pun dibangun dengan nilai Engineer Estimate (EE) Rp. 913.874.490.000, termasuk PPN, tidak termasuk landscape dan Ma'Radh.

8. Tahap pembangunan
Dalam pembangunan Masjid Al Jabbar, pelaksanaan konstruksinya dilaksanakan secara bertahap, dengan tahap I sesuai dengan kontrak nomor 602/SPK.30/Pemb.MRJB/JAKON/2017 tanggal 21 Desember 2017, pembiayaan tahun jamak tahun anggaran 2017-2018 sebesar Rp. 511.000.000.000. Masjid tersebut akan dibangun oleh PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WIKA Gedung). Selama kurang lebih dua tahun dengan anggaran multiyears.

Pembangunan Masjid Raya Al-Jabbar atau masjid terapung di kawasan Gedebage hingga minggu ke-23 sejak dibangun pada awal Januari 2018 mencapai 40 persen. Masjid seluas 11.238 meter persegi dan luas plaza luar masjid 16.239 meter persegi itu ditargetkan rampung sesuai target pada Desember 2019.

9. Danau retensi
Di lokasi yang sama juga dibangun danau retensi yang dibangun oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum. Danau retensi dibangun supaya bila hujan di Gedebage tidak banjir dan kemarau tidak kekeringan, sehingga ada suplai air baku. Danau retensi ini berfungsi sebagai embung untuk mengendalikan banjir di Gedebage dan sekitarnya yang biasanya disebabkan oleh luapan anak-anak sungai Citarum.

Pengerukan untuk membangun danau retensi dilakukan dengan cara memindahkan tanah atau disposal dari lokasi pembangunan masjid ke atas lahan yang telah disetujui pemiliknya sebagai lokasi pembuangan tanah.




share to whatsapp