Review

Kosakata Bahasa Sunda yang Berhubungan dengan Ramadan dan Lebaran

share to whatsapp



Kegiatan anak anak di bulan Ramadan

Seperti halnya masyarakat lain yang melaksanakan kewajiban ibadah puasa di bulan Ramadan, masyarakat Sunda pun menyambut datangnya bulan suci ini. Beberapa kegiatan pun biasa dilakukan, baik yang berhubungan dengan syariat agama maupun tradisi. Berikut ini beberapa kosakata dan istilah dalam bahasa Sunda yang berhubungan dengan bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri:

1. Munggahan
Tradisi ini biasa dilakukan masyarakat Sunda menjelang bulan suci Ramadan datang. Kegiatan ini selain ajang silaturahmi keluarga besar ataupun pertemanan. Orang di perantauan biasanya pulang kampung. Berkumpul bersama keluarga. Saling berkirim sesuatu dengan sanak keluarga atau tetangga. Berziarah ke makam, mandi, bermaaf-maafan, dan seterusnya.

Juga ajang untuk makan bersama. Istilah ini ada juga yang menyebutnya cucurak. Sementara untuk makan besar bersama-sama ada juga yang menggunakan istilah botram atau mayoran.

Kebiasaan botram dulu biasanya dilakukan dengan membawa makanan masing-masing dan kumpul di suatu tempat. Makanan biasanya dihampakan dengan alas daun pisan. Ada juga yang dilengkapi dengan ngaliwet. Namun, tradisi kekinian ngabotram biasa juga dilaksanakan di tempat wisata atau rumah makan. Intinya adalah kumpul bareng, silaturahmi, sambil makan bersama.

2. Adus
Adus adalah kegiatan mandi besar. Dulu biasanya dilakukan di sungai-sungai atau pancuran, dan kini biasa di kamar mandi saja. Ddengan membasahi seluruh badan dan keramas, tujuannya sebagai upaya membersihkan diri sekaligus persiapan niat sebelum besok menjalankan ibadah puasa.

3. Bulan puasa
Bagi masyarakat Sunda, bulan Ramadan lebih sering disebut dengan "bulan puasa". Intinya menahan lapar dan nafsu dari mulai puasa setelah sahur sampai buka puasa (adzan magrib).

4. Bedug
Beduk atau bedug dalam bahasa Indonesia merupakan alat musik tabuh seperti gendang. Bedug merupakan instrumen musik tradisional yang telah digunakan sejak ribuan tahun lalu, yang memiliki fungsi sebagai alat komunikasi tradisional,  salah satunya dalam ritual keagamaan sebagai penanda masuk waktu adzan dan dilanjutkan dengan kumandang suara adzan. Namun kini, hanya kumandang adzan di speaker kebanyakan sudah menggantikan bedug. Akan tetapi, di daerah-daerah bedug ini masih banyak yang menggunakan.

5. Ngabuburit
Ini yang paling dikenal hingga masuk istilah nasional. Ngabuburit biasa dilakukan sore hari, baik dengan jalan-jalan atau aktivitas lain sebagai bagian menunggu adzan magrib. Ngabuburit berasal dari kata "burit" yang berarti sore hari menjelang magrib. Zaman dulu, anak-anak kadanga ada yang ngabuburit sambil renang di sungai atau balong (kolam), tujuannya agar badan segar. Namun ada pula yang "modus" untuk sedikit minum air.

6. Tarawéh
Atau dalam bahasa Indonesia "tarawih", adalah salat sunnah yang dilakukan khusus hanya pada bulan Ramadan setelah salat Isya. Dulu, anak-anak biasanya tarawih sambil membawa "Buku Kegiatan Ramadan" yang ditugaskan dari sekolahnya.

7. Poé lilikuran
Adalah 10 hari menjelang Lebaran. Dari tanggal salikur (21), dua likur (22), tilu likur (23), dan seterusnya dimana sudah masuk kegiatan i’tikaf atau berdiam diri di masjid.

8. Godin
Entah apa arti istilah ini, tapi sepertinya diambil dari lafadz niat puasa, yaitu nawaitu shouma ghodin. Padahal dalam arti sebenarnya, ghodin berarti esok hari. Namun manasuka menjadi makna makan/minum atau kegiatan apapun yang bersifat membatalkan puasa secara sembunyi-sembunyi di siang hari alias batal puasa secara sengaja. Dan aktivitasnya disebut ngagodin.

9. Puasa bedug
Puasa setengah hari, atau hanya sampai waktu bedug/sholat, bisa sampai dzuhur atau ashar biasanya untuk anak-anak yang sedang belajar puasa.

10. Puasa ayakan
Artinya "sagala nu aya dihakan" (semua yang ada dimakan) jadi batas waktu puasanya adalah ketika ada makanan alias membatalkan puasa juga.

11. Ngadulag
Berasal dari kata dulag yang artinya bedug. jadi ngadulag berarti kegiatan menabuh bedug sehabis tarawih atau ketika membangunkan orang untuk sahur. Juga saat malam takbiran.

12. Baju dulag
Sekarang lebih dikenal dengan "baju lebaran". Artinya baju baru yang baru dibeli dan akan dipakai saat hari Lebaran.

13. Nadran
Diantara tradisi menjelang bulan Ramadhan (akhir Sya’ban) adalah ziarah kubur. Sebagian lain mengistilahkan tradisi ini sebagai nyekar.

14. Ngadu lodong
Ini bagi anak-anak dulu sangat favorit saat Ramadan. Lodong adalah meriam bambu yang bahan peledaknya dari karbit. Ngadu lodong biasa dilakukan anak-anak di persawahan atau lapangan. Mereka beradu suara lodong dengan tim lain atau kampung sebelah.

Beberapa permainan anak-anak lain yang populer di bulan puasa: ngadu gambar, nyeundeut (bakar) pepetasan, ucing sumput, galah asin, boyboyan, ngadu kaleci, main layangan, sampai bikin ledakan dari busi bekas.

15. Nganteuran
Tradisi nganteuran atau silih anteuran (saling mengirim) makanan sekarang semakin jarang. Esensi dari tradisi ini adalah lebih mempererat silaturahmi. Kadang mengirim makanan ini ke saudara yang tempatnya jauh dari tempat kita tinggal dengan ngider atau berkeliling kampung.

Kegiatan ini biasa dilakukan menjelang puasa dan sebelum Hari Raya Idul Fitri. Bila menjelang puasa biasanya makanan berat/lauk yang dimasukkan ke dalam rantang. Nanti isi rantang dipindahkan dan diisi kembali oleh makanan si empunya rumah yang dikirimi makanan. Kalau menjelang Lebaran, biasanya plus kue-kue hasil bikinan sendiri.