Bank BJB

Bank BJB

Ini Asyiknya Mabar Anak-Anak Bandung Era 80-90an




Tulisan ini hanya mulangkeun panineungan alias mengenang kembali masa-masa Bandung jaman baheula. Bagi Anda kaum milenial, bisa memberikan gambaran tentang suasana Bandung zaman dulu. Sekaligus bisa jadi pembanding bagaimana keadaan zaman dulu dengan era zaman sekarang yang sudah serba gadget dan internet. Adapun bagi para orang tua yang pernah hidup di era 1980-1990an, semoga bisa menggali kembali masa-masa indah tersebut.

1. Mabar permainan tradisional
Kalo generasi zaman sekarang, mabar alias 'main bareng' identik dengan main games secara berjamaah, baik itu menggunakan smartphone, PC, atau laptop. Bagi anak-anak era '80-'90an, mabar biasanya berupa aktivitas fisik, salah satunya dengan permainan tradisional. Maklum, jaman harita area publik seperti lapangan atau halaman masih banyak tersebar di beberapa titik di kawasan Bandung.

Kegiatan mabar generasi '80-'90an biasanya pada sore hari atau saat liburan sekolah. Sebelum mandi sore (menjelang magrib), anak-anak satu kampung biasa kumpul di halaman luas atau lapangan. Betapa asyiknya main gobak sodor, bebentengan, boyboyan, main kaleci (kelereng), atau main layangan. Sementara bagi anak-anak perempuan, main anjang-anjangan atau sapintrong dengan untaian karet sama mengasyikannya.

Permainan lain yang lebih asyik bagi anak laki-laki tentunya main bola sepak dengan bola plastik bikin seru. Dengan gawang dari sandal jepit atau batu, tak menghalangi keseruan. Tak ada aturan resmi ataupun wasit. Dan yang jadi patokan berhentinya permainan bila ngong adzan magrib berkumandang. Main sepak bola seperti ini tentunya lebih mantap lagi bila saat musim hujan.

Dan bila musim kemarau (biasanya saat bulan Juli/masa liburan sekolah), permainan layang-layang jadi pilihan anak-anak di berbagai kawasan di Bandung. Dari anak-anak kawasan Pasirkoja, Panyileukan, hingga Cileunyi memanfaatkan tanah lapang atau area persawahan sebagai lapak bermain. Mengadu langlayangan dengan aneka gelasan, dari gelasan sirit sampai gelasan bajra bikin seru permainan.

Adapun hal yang paling menegangkan saat moro atau berburu layang-layang yang putus. Fisik, mental, serta strategi harus jadi dorongan utama. Tak heran, para pemburu layangan putus tersebut berani menanggung segala resiko, dari telapak kaki kena pecahan beling, jatuh, baju sobek kena pagar, bahkan yang parah ada yang sampai tertabrak motor.

2. Main games generasi '80-'90an
Namanya game watch sampai konsol Sega, Atari, dan Nintendo termasuk barang langka dan mahal. Kalo main game watch sih masih bisa dengan sewa di si Mang-Mang di sekolahan seharga Rp50. Itu pun dengan aturan ketat dari sang penyewa berupa konsol game watch yang dipasangin rantai agar si pemain tidak terlalu jauh atau malah dibawa kabur.

Sementara yang rada tajir, bisa mabar di rumahnya untuk main konsol Nintendo atau Sega. Itu pun dengan aturan ketat, jangan sampai mesin player, kaset, atau stick cepat rusak. Maklum harga kaset games sendiri zaman itu terbilang mahal. Grafiknya sendiri jangan bandingkan dengan 3D era sekarang. Permainan masih tampilan dengan grafik seadanya alias lempeng.

Bagaimana mau main games murah meriah? Siapkan saja uang koin 100 perakan untuk main Dingdong. Beberapa tempat keramaian di Bandung (terutama di pusat kota) biasa jadi ajang mabar games anak-anak era '80-'90an. Dari games perang-perangan, pesawat, sampai fighting kayak Street Fighter bisa dijajal. Bila jago, bisa terus naik level dan uang koin yang dimasukkan bertahan aman. Bila sering kalah, harus siap masukin lagi koin per koin seratus perakan tadi. Dan ini jadi candu tersendiri bagi anak-anak Bandung era '80-'90an.

3. Nobar
Kegiatan main bareng yang pernah menghiasi generasi era '80-'90an adalah nonton bareng. Beberapa diantaranya nonton film video. Beda dengan zaman sekarang yang bisa lalajo film di ragam aplikasi dan media seperti streaming internet. Dulu nonton film harus susah payah dengan menyediakan video player seperti Betamax yang dicolokin ke TV. Untuk kaset video berupa pita harus udunan sewa di tempat penyewaan khusus kaset video yang tidak selalu ada di setiap lembur.

Nobar lain adalah lalajo film layar tancap. Untuk nonton jenis ini, biasanya ada di pasar malam kalo akhir pekan dan tidak rutin yang digelar di lapangan kampung/desa. Beruntung kalo ada yang ngadain seperti yang ngegelar hajatan atau seremoni 17 Agustusan. Sementara bagi anak-anak sekolah, bisa nonton bareng di GOR atau ruang publik lainnya untuk wajib nonton film layar lebar "Pengkhianatan G30S" atau "Janur Kuning". Ini bentuk propaganda jaman harita, ketika anak-anak dicekoki film-film perjuangan yang digagas rezim waktu itu.

Tentunya nobar yang paling murah adalah nonton televisi. Sayangnya, waktu itu baru ada TVRI yang siarannya pun dimulai dari sore hari. Nobar televisi ini biasanya anak-anak kumpul malam Minggu atau hari Minggu. Lalajo Aneka Ria Safari, Album Minggu Kita, atau serial Rumah Masa Depan, Jendela Rumah Kita, atau Si Unyil jadi favorit. Dominasi TVRI kemudian tumbang dengan hadirnya stasiun televisi TPI (sekarang MNCTV), RCTI, SCTV, dan lainnya. Anak-anak generasi 90an pun mulai banyak pilihan nonton acara, walau di Bandung sendiri dulu untuk nonton RCTI awalnya harus pake decoder.

Selain nobar, dengerin radio bareng-bareng pun biasa jadi tradisi tersendiri. Anak-anak dan orang tua bareng dengerin siaran radio favorit seperti Sempal Guyon Parahyangan Si Kundang, dongeng Sunda Si Rawing (Wa Kepoh), dongeng Mang Barna, drama radio Saur Sepuh dan Tutur Tinular, serta siaran favorit lainnya.

4. Main ke Alun-Alun Bandung
Tak "sah" rasanya bila jadi anak-anak generasi era '80-'90an bila gak main ke kawasan Alun-Alun Bandung. Alun-alun waktu itu adalah denyut nadi Bandung dimana aneka hiburan, tempat belanja, sampai tempat nongkrong biasa jadi pilihan. Nama Romano Plaza, Taman Alun-Alun, Parahyangan Plaza, Palaguna Nusantara, King's dan lainnya jadi favorit buat dikunjungi.

Salah satu "tradisi" adalah nongkrong atau berfoto di depan air mancur Taman Alun-Alun Bandung. Sisanya, bisa menghabiskan main di Romano Plaza atau Parahyangan Plaza, buat main dingdong atau permainan anak-anak. Syukur-syukur kalo diajak orangtuanya belanja di Robinson, Ramayana, Cimol, Gang Tamim, atau diajak nonton film di bioskop yang ada di kawasan Alun-Alun (Palaguna Nusantara, Galaxy Theater, bioskop Dian, dll).