Mengenal Konteks dan Pengunaan Kata-Kata Bahasa Kasar dalam Bahasa Sunda




Emosi dan marah adalah naluriah manusia dimanapun berada. Ini bisa disebabkan beragam penyebab yang memicu seseorang terpancing amarahnya, entah itu karena ucapan, tindakan, atau kejadian. Imbas dari kemarahan tersebut lahirlah istilah atau kosakata yang uniknya setiap penutur bahasa di manapun memilikinya. Tak terkecuali penutur bahasa Sunda.

Yang pertama mungkin harus kita pahami dalam penggunaan bahasa kasar dalam bahasa Sunda bukan sekadar ketika terjadi kemarahan. Namun, dalam suasana sangat akrab menjadi ciri khas jurus kata dan istilah bahasa kasar tersebut muncul. Eit, namun ada juga yang wajib dipahami bahwa untuk bisa berbahasa kasar kepada orang lain dalam bahasa Sunda wajib menerapkan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Tambahan, setiap wilayah di Tatar Sunda punya ciri khas istilah dan kosakata kasar yang mungkin tidak bisa dimaknai samai di daerah lainnya. Atau, bisa saja ada istilah/kata yang di daerah A sih termasuk bahasa akrab/pergaulan tapi di daerah D itu termasuk bahasa kasar.

Beberapa di antaranya penggunaan bahasa kasar dilakukan kepada orang lain dalam bahasa Sunda harus merunut pada sikon berikut:
1. Untuk suasana pergaulan, harus benar-benar akrab banget sehingga salah satunya tidak sakit hati mau dikatain binatang pun. Contoh prosesnya:
- Si A dan Si B adalah remaja cowok seumuran yang baru berkenalan karena dikenalkan teman si A. Pertemuan pertama mereka ngobrol agak halus.
- Pertemuan selanjutnya di minggu depan Si A dan Si B mulai menggunakan bahasa akrab sambil ngomongin pertandingan Persib tadi malam.
- Pertemuan-pertemuan selanjutnya mereka makin intens bertemu, malam bisa saling pinjam barang atau uang. Nah, di sinilah kepercayaan sudah terbentuk Si A dan Si B sudah tak sungkan menggunakan bahasa kasar.

2. Walaupun sudah akrab dan menggunakan bahasa kasar, tapi tolong lihat juga sekeliling. Jangan sampai gerah orang di sekeliling yang mendengarkan percakapan kamu dan teman. Terutama di lingkungan atau orang yang belum dikenal. Apalagi ada para orang tua. Kalau mau pakai bahasa kasar, mending melipir dulu lah daripada kedengaran garihal alias kurang enak didengar. Satu lagi, bicara kasar seorang lelaki kepada perempuan Sunda (walaupun seumuran) kadang suka dianggap agak gimana gitu. Enaknya bahasa akrab atau halus.

3. Hal lainnya selain saat emosi atau marah, penggunaan bahasa kasar juga digunakan saat ngabanyol atau heureuy (bercanda). Ngabanyol dalam  konteks urang Sunda memang lebih pas menggunakan bahasa akrab atau kadang cenderung kasar biar feel-nya dapet.

***
Sebagai penambah pengetahuan, dalam penggunaan istilah atau kata-kata kasar bahasa Sunda bukan saja yang biasa saja digunakan yang memang bahasa kasar murni. Namun juga kata-kata yang memiliki arti halus dan akrab pun punya istilah tersendiri dalam bahasa Sunda.

Berikut beberapa istilah atau kata-kata kasar dalam bahasa yang biasa digunakan:
Kéhéd
Arti kata "kéhéd" itu sendiri. Dalam Kamus Basa Sunda yang disusun R. Satjadibrata, "kéhéd" mengandung arti 'sirit' alias alat kel*min lelaki. 
Belegug, artinya tidak tahu tatakrama.
Goblog, dalam Kamus Basa Sunda yang disusun R.  Satjadibrata artinya tuli.
Bebel, dalam Kamus Basa Sunda yang disusun R. Satjadibrata artinya kepala alat kel*min lelaki.
Koplok, kondisi telinga anjing yang menjuntai.

Bahasa kasar lainnya yang berupa makian yang sebenarnya kata itu sendiri punya arti halus-akrab-kasar atapun sebutan mandiri, contoh di antaranya:
- Molor: untuk menyebut bahasa kasar 'tidur' yang bahasa Sunda halusnya kulem dan bahasa Sunda akrab saré.
- Deuleu: bahasa kasar 'lihat', bahasa Sunda halus tingal, bahasa akrab pelong.
- Ngajedog: bahasa kasar 'diam'. Bahasa Sunda halus/akrab cicing.
Anjing: biasa variasi jadi ajirajiganying, atau anyir.
- Polontong: bahasa kasar untuk 'banyak gaya'/loba gaya.
Monyét: biasa variasi jadi kunyuk.
Gélo: artinya gila.
- Gogobrog: bahasa kasar 'rumah'. Bahasa Sunda halus bumi, bahasa akrab imah
Eusleum: rada gila
- Jebrog: bahasa Sunda kasar 'sudah gede/dewasa'. Bahasa Sunda halus tos ageung alias usia sudah dewasa. Bahasa akrab geus gede.
- Mumul: untuk bahasa kasar 'tidak mau'. Bahasa Sunda halus alim, bahasa akrab embung.
Jurig: artinya hantu
Boloho: artinya bodoh
- Montong: bahasa kasar 'jangan'. Bahasa Sunda halus teu kénging, bahasa akrabnya ulah.
Sia dan aing: sebutan 'kamu' dan 'saya' bahasa kasar.
Bagong: artinya babi hutan.
- Bangkawarah: artinya orang yang kurang ajar. (bangkar = tiada hasil, warah = pengajaran)
Bebengok: kata kasar 'wajah', bahasa akrab beungeut, bahasa halusnya raray
Teu gableg cedo: artinya tak punya pertimbangan antara baik dan buruk.
Cucungik: hidung, bahasa akrabnya irung, bahasa halusnya pangambung
Babangus: bahasa paling kasar dari 'mulut', diterapakan misalnya pada mulut anjing, bahasa akrabnya baham, kasar sungut
Lebok: makan, bahasa akrabnya 'dahar' dan bahasa halusnya 'tuang'
Nurustunjung: kelakuan jelek seseorang yang dilakukan bukan sekali saja dan berbeda-beda kasus
Babadog: bahasa paling kasar untuk mencuri (bahasa akrabnya maok, maling, ngabangsat)
Lolodok: makan (digunakan kepada binatang seperti bebek) bahasa akrabnya dahar dan halusnya tuang
Modar: bahasa paling kasar untuk meninggal/mati, bahasa kasar lainnya paéh (untuk benda/binatang), bahasa akrabnya maot, bahasa halusnya ngantunkeun
- Mantog: untuk menyuruh orang yang dibenci 'pergi' yang bahasa halusnya angkat dan bahasa akrabnya indit.

----------
Artikel lainnya seputar bahasa Sunda LIHAT DI SINI