Review

Persib Juara ISL 2014: Bandung pun Menjadi Lautan Biru




Pada awal November 2014, tercipta sejarah di Bandung ketika Persib menjuarai ISL 2014. Pertandingan final diselenggarakan di Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring, Palembang.Kemenangan punggawa Persib yang berhasil menaklukkan tim kuat Persipura lewat adu penalti, menjadi sejarah tersendiri. Setelah 19 tahun masa penantian puasa gelar, akhirnya para Bobotoh pun asa bucat bisul. Persib pun berhasil merengkuh trofi ISL 2014 dan menjadi gelar kedua bagi tim Maung Bandung.

Rasa kebanggaan dan rasa cinta pada Persib tumpah di Kota Kembang. Sebelumnya, ribuan Bobotoh sampai rela jauh-jauh ke Palembang demi menyaksikan laga akhir penentuan nasib punggawa Maung Bandung ini. Tetes air mata kegembiraan dan sorak-sorai tak terbendung. Kegembiraan pun meluap bukan di Bandung saja. Tatar Sunda merasakan euforia yang sama ketika tim kameumeut rakyat Jawa Barat ini menjadi kampiun liga paling bergengsi di Indonesia ini.

Maka, euforia pun melanda Bandung. Sang Wali Kota Ridwan Kamil pun rela menggunduli kepalanya sebagai bentuk nazar atas kemenangan Persib. Kota Bandung gegap gempita menyambut tim kesayangan yang baru turun di Bandara Husein Sastranegara. Persib adalah ikon sekaligus identitas warga Bandung yang selama ini diharapkan untuk bisa membuktikan bahwa tim ini adalah yang terbaik di Indonesia. 


Kota Bandung pun ingar bingar dengan perayaan-perayaan yang tiada henti hingga puncaknya pada Minggu, 9 November 2014. Masyarakat Bandung tumpah ruah ke jalan demi melihat tim kesayangannya diarak dengan melewati beberapa titik di Kota Bandung. Maka, pada hari itu beberapa titik di Kota Bandung menjadikan Bandung lautan biru. Pusat perayaannya sendiri dilaksanakan di Lapangan Gasibu, Gedung Sate, Bandung. 

Dengan menggunakan Bus Bandros, trofil ISL dan para pemain Persib diarak dengan rencana melewati rute  start dari Cibiru - Cicaheum - Kiara Condong - Flyover Kircon - Jalan Gatot Subroto - Jalan Asia Afrika - Jalan Sudirman - Jalan Rajawali - Jalan Pajajaran - Jalan Merdeka - Jalan Lembong - Jalan Kosambi - Jalan A Yani - Jalan Supratman. Namun, karena para pemain kelelahan jalur Kiara Condong pun di-cancel. Ini memang sedikit mengecewakan masyarakat dan bobotoh yang sudah dari siang menunggu di pinggir jalan untuk menyambut dan mengeluk-elukkan para pemain Persib dan ofisial.


Di tengah persiapan penyambutan dan arak-arakan, ada insiden yang mencederai sepak bola Indonesia. Ketika para Bobotoh pulang dari Palembang dan melewati daerah Jakarta, mereka diserang oleh oknum suporter The Jak. Ini sempat menimbulkan kekhawatiran. Maklum saja, kebringasan The Jak ini terbukti dengan hancurnya bus-bus pengangkut rombongan Bobotoh. Tidak sedikit pula para Bobotoh yang terluka dalam insiden di perjalanan di Ibu Kota tersebut. Titik kumpul di Gasibu menjadi saksi bagaimana wajah-wajah lelah Bobotoh bercampur dengan rasa khawatir karena simpang siurnya informasi mengenai nasib tercecernya sebagian Bobotoh yang masih di perjalanan menuju Bandung. 

Hal tersebut sempat menjadi trending topic di media sosial dimana pada Minggu dinihari, update informasi dan laporan terus berseliweran di ranah microblogging Twitter. Bahkan, hal tersebut sempat menimbulkan rembetan di Kota Bandung sendiri dimana sebagian oknum Bobotoh melakukan tindakan "balasan" yang kurang terpuji dengan merusak sebagian mobil plat B yang melintas di jalanan. Kasus-kasus tersebut setidaknya menjadi corengan tersendiri dan menjadi pekerjaan rumah bersama semua pihak yang peduli dengan perkembangan jagat sepak bola di Indonesia.

Lihat video: Bobotoh Raungan Tanpa Batas

Lihat dokumentasi video : Raungan Bobotoh Tanpa Batas

Lihat dokumentasi video : Raungan Bobotoh Tanpa Batas