Review

Sinetron Preman Pensiun yang Menyentuh Semua Lapisan Masyarakat





Tak dapat dipungkiri, animo masyarakat terhadap sinetron Preman Pensiun menjadikan sinetron ini dipikameumeut alias disukai masyarakat. Bukan hanya masyarakat Bandung dan Jawa Barat, sinetron garapan Aris Nugraha ini pun digemari hingga pelosok Nusantara. Hal ini terbukti dari rating penayangan sinetron ini yang terus berada di posisi teratas. Dengan konsep lebih membumi dan cerita yang tak menjauhkan dari realita di masyarakat, sinetron ini lebih mudah diterima para penonton Indonesia. Maklum saja, saat ini kondisi persinetronan di negara ini tengah musim dengan sinetron yang menjual mimpi, hedonis, hingga alur cerita yang terlalu dibuat-buat dan kadang tak masuk akal.

Kedekatan Emosi Masyarakat dengan Sinetron Preman Pensiun
Karena sinetron ini konsepnya memasyarakat, selain isinya yang gampang dicerna dan tak terlalu menggurui, juga para pemain pun kebanyakan dari orang yang biasa-biasa. Malah, latar belakangnya jauh dari dunia seni peran. Latar belakang pemain ada dari preman asli, pelajar, tukang servis gas, ketua RT, bisa satu frame dengan pemain sekelas Didi Petet dan Epy Kusnandar. Begitu pula untuk Bandung dan Jawa Barat sendiri, kedekatan emosi masyarakat dengan sinetron ini bukan saja urusan menonton belaka. Interaksi masyarakat dengan kru dan pemain terjalin harmonis.

Hal ini bisa terlihat dari tak hentinya kunjungan masyarakat ke basecamp para pemain dan kru Preman Pensiun dari season 1 hingga season 2 sekarang. Mereka banyak yang ingin bertemu langsung dengan pemain, walau sekadar ingin salaman, berfoto bersama, membeli kaos, bahkan curhat sekalipun. Konsep kebersamaan tanpa batas antara pesohor dengan masyarakat ini begitu melekat. Maka tak heran jika penyuka sinetron ini mulai dari kalangan anak-anak, ABG, hingga para sepuh. Berbaurnya para pemain dan masyarakat untuk di Bandung sendiri seperti hal yang jamak. Para pemain dan penggemar kadang terlihat makan bersama atau sekadar ngopi di warung, membicarakan seputar batu akik, atau sekadar gogonjokan ngalor ngidul.

Apalagi, branding Preman Pensiun pun melekat di kaos yang banyak digunakan oleh masyarakat sebagai identitas bahwa mereka adalah penggemar Preman Pensiun fanatik. Begitu pula kegiatan-kegitan jumpa penggemar pun dilakoni para talent Preman Pensiun tanpa memandang status sosial atau kemeriahan event. Jumpa fans di hajatan, acara reuni, panggung di pinggir kali, makan bersama, kunjungan ke panti asuhan, hingga event hotel berbintang pun mereka lakoni tanpa ada jarak batas antar pemain dan penggemar. Bahkan, para pemain yang numpang main pun kadang melibatkan masyarakat yang ada di sekitar lokasi shooting.

Selama tim Wisata Bandung mengikuti perjalanan para pemain di sinetron ini. Mereka tak pernah menampilkan diri sebagai sosok pesohor yang sedang disorot karena boomingnya sinetron produksi MNC Pictures ini. Mereka bersikap biasa dengan para penggemar. Misalnya jika ada penggemar yang datang ke basecamp, langsung disambut ramah. Ketika diundang untuk mengisi acara pun, mereka tak pilih-pilih; dari event sekaliber perusahaan besar hingga kegiatan warga RT. Para pemain pun tak risih ketika makan di pinggir kali Cikapundung dan dilihat banyak warga. Atau saat mereka naik motor sedang berhenti di stopan pun tak sungkan membalas sapaan para penggemar yang kebetulan mengenalinya.