Review

Akun Media Sosial dan Gaya Banyolan Ala Ridwan Kamil




Akun media sosial Wali Kota Bandung Ridwan Kamil

Di tengah segala permasalahan bangsa yang mendera sekarang ini, rasanya kita perlu rehat sejenak mengendurkan urat saraf supaya tidak terlalu tegang. Salah satunya, Anda bisa mencoba melongok koleksi gambar dan caption di akun media sosial yang dikelola oleh Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil. Sosok yang biasa dipanggil Kang Emil ini mengelola sendiri akun Instagram, Twitter, dan Facebook. Kang Emil termasuk pemimpin yang rajin memposting status bahkan hingga berkomen ria dengan para followers-nya di akun media sosial.

Serius Tapi Santai
Wali Kota Bandung ke-23 ini kerap menghadirkan postingan atau status yang serius tapi santai. Maka istilah "jomblo", "ditikung", "baper", hingga nama Afgan, Raisa, Isyana Sarasvati, juga istilah anak muda zaman kiwari biasa diselipkan oleh Wali Kota alumni Arsitektur ITB ini. Mungkin karena di Instagram penggunanya kebanyakan anak muda. Inilah yang menarik para komentator di postingannya untuk betah lama-lama membaca komentar-komentar yang ada.

Dengan "pancingan" yang bikin tersenyum hingga tertawa pembacanya, Kang Emil bertindak jadi juru wawar yang memberikan seputar informasi terkini di Bandung juga sukses jadi tukang ngabanyol yang mampu membikin pembaca (warganya) séséréngéhan sendiri. Saat mengunggah foto atau video pendek di Instagram, Ada saja ide-ide kata-kata di caption dari suami Atalia Kamil ini. Sang istri sendiri biasa disebut "Si Cinta" oleh Kang Emil dan kadang bikin "kecemburuan virtual" para pengikutnya di Instagram. Ya, para komentator tak sedikit yang curhat berharap ingin punya jodoh layaknya rumah tangga Kang Emil dan "Si Cinta".

Komentar Curhat hingga Laporan Kondisi Wilayah
 Lihat saja bagaimana di akun Instagram Kang Emil, para pengguna medsos ini yang kebanyakan anak muda dan para ABG betah berlama-lama untuk membaca atau saling témbal alias saling jawab komen di akun orang nomor satu di Kota Bandung ini. Mereka tak segan untuk memberi tanda (tag) temannya, baik hanya memberi informasi atau mengajak temannya untuk ikut meramaikan komen di akun Instagram Ridwan Kamil. Bukan hanya anak Bandung atau seputaran Jawa Barat, bahkan dari luar Pulau Jawa pun banyak yang ikut-ikutan komentar di akun Kang Emil. Ya, walau kadang ada juga yang minta diterjemahkan karena terkadang Kang Emil pun menuliskan kata atau istilah dalam bahasa Sunda. Kang Emil pun kadang tak sungkan untuk me-regram (repost) postingan para followers-nya.

Di akun Instagram maupun di Facebook Kang Emil, status yang ditulisnya seakan jadi "pintu gerbang" bagi para komentator untuk mengembangkan imajinasi leuwih ngacapruk atau lebih ngalor ngidur. Tak heran, di status Kang Emil selalu saja penuh oleh komentar-komentar maupun mereka yang memberi tanda Like. Namun, tak jarang pula edisi curhat sampai laporan kondisi wilayah pun kerap menyerbu di komen-komen tersebut. Dari curhat para jomblo, curhat ibu hamil, hingga warga yang laporan tentang kondisi di wilayahnya yang meminta perhatian dari sang Wali Kota juga jajarannya untuk ditindaklanjuti.

Media Berbagi Informasi dan Komunikasi dengan Warga
Tak hanya itu, kadang status dan ramainya komen di akun Instagram Kang Emil menjadi ruang promosi bagi mereka yang bisnis di ranah virtual. Inilah kadang yang menggelikan, ketika ramai membahas tema di status, eh nyelonong iklan. Tak jarang hal ini bikin komentator lain bahkan sang empunya akun merasa risih. Kelucuan-kelucuan memang bukan hanya dipicu oleh Kang Emil saja, para komentatornya pun terbawa ngacapruk yang bisa bikin ngakak pembacanya. Inilah mungkin salah satu hiburan sekaligus media komunikasi dengan warga di era digital, dimana ruang dan jarak antara pemimpin dan warga tidak mengalami sekat yang kaku.

Informasi dan laporan bisa disuguhkan secara realtime, apalagi dengan dikuatkan dengan bukti foto. Jadi, cara laporan dan komunikasi pun lebih terarah dan bukan hanya ngutruk (menggerutu) belaka sambil umbar link tanpa check and re-check terlebih dahulu. Kang Emil hanya mensyaratkan pengaduan masyarakat disertai bukti plus disampaikan dengan bahasa yang santun. Hal ini agar bisa ditindaklanjuti lebih cepat, misalnya Kang Emil meminta jajaran terkait untuk segera turun tangan.

Gagap Batas Wilayah Kota Bandung
Namun, di sini pun kadang timbul kelucuan ketika ada saja masyarakat yang gagap geografis. Misalnya ada komentator yang marah-marah atau minta perhatian dari Pemkot Bandung atau Kang Emil sendiri sebagai pemimpin, namun apa yang menjadi masalah sejatinya berada di Kab. Bandung, Kab. Bandung Barat, dan tempat lainnya yang nyata-nyata berada di luar batas wilayah teritori Kang Emil (Kota Bandung). Rupanya rasa "kepemilikan" terhadap Kang Emil sampai menembus di luar batas wilayah Kota Bandung. Untunglah, para komentator lain biasa membantu bahwa apa yang disampaikan oleh komentator "salah sasaran" tersebut. Bahwa apa yang disampaikan, tindak lanjutnya bukan menjadi tanggung jawab Kang Emil; karena bukan ranah wilayah pemerintahan Kang Emil.

Di balik kelucuan atau humor-humor ala Kang Ridwan Kamil ada sesuatu yang bisa dijadikan contoh. Bahwa dengan keadaan sekarang, sebaiknya pemimpin bisa miindung ka waktu mibapa ka jaman, alias menyesuaikan diri dengan keadaan zaman. Dengan hadirnya Kang Emil di dunia maya setidaknya masyarakat tahu program-program apa yang sedang atau akan digarap oleh Pemkot Bandung. Termasuk juga bagaimana sosialisasi kepada masyarakat bisa terjembatani. Hal itu pula yang bisa menjadi ruang bagi warga untuk bisa menilai sekaligus menyampaikan saran dan masukannya.

Pemimpin dan Masyarakat Cerdas Bermedia Sosial
Untuk itu, di zaman sekarang dimana informasi dan komunikasi berada dalam genggaman tangan seyogiayanya bisa dimanfaatkan oleh para pemimpin untuk lebih dekat dengan masyarakat. Hal ini suatu realita yang tidak bisa dikesampingkan. Masyarakat zaman kekinian semakin terbuka dengan aneka update informasi plus butuh media untuk berkomunikasi dengan pemimpinnya. Ruang media sosial inilah yang salah satunya sebaiknya bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh para pemimpin di era internet sekarang ini.

Namun, hal tersebut juga bergantung bagaimana pemimpin bisa mengelola medianya, serta masyarakat yang menggunakan komputer, laptop, atau smartphone pun dituntut lebih smart dalam menyampaikan aspirasi. Dalam artian, tetap memperhatikan nilai-nilai dan tatakrama bermedia sosial yang mencerminkan masyarakat yang beradab. Media sosial bukan tong sampah yang hanya bisa mencaci dan memaki tanpa bukti atau sekadar latah ikut-ikutan menghujat membabi buta. Kritik dan saran bisa disampaikan di media sosial dengan santun hingga akhirnya timbul budaya diskusi di dunia maya yang genah, merenah, tur tumaninah alias tanpa harus dengan kepala panas dan rentetan kata-kata kasar berhamburan tanpa menghiraukan perasaan orang lain.

Nah, bagi Anda yang ingin melihat bagaimana keseruan plus info-info seputar Bandung bisa mengunjungi akun media sosial berikut yang dikelola Kang Emil.