Review

Kongres Kesenian Indonesia III di Bandung, 1 - 5 Desember 2015




Kongres Kesenian Indonesia III di Bandung

Mulai Selasa, 01 Desember 2015 hingga Sabtu, 05 Desember 2015), Kota Bandung menjadi tuan rumah berlangsungnya Kongres Kesenian Indonesia III. Kongres ini diselenggarakan di Grand Royal Panghegar, Jalan Merdeka No. 2, Bandung, Jawa Barat.

Kongres yang diselenggarakan Direktorat Kesenian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) ini mengangkat tema "Kesenian dan Negara dalam Arus Perubahan". Sesuai dengan tema yang diangkat, kongres ini merupakan usaha negara dan para pelaku seni di Tanah Air untuk membaca arus perkembangan dan diharapkan memberikan sumbangan dalam kemajuan dunia.

Diikuti Stake Holder Kesenian
 Empat subtema yang akan digodok dalam kongres ini berkaitan dengan politik kesenian dalam perspektif negara; kesenian, negara, dan tantangan di tingkat global; pendidikan seni, media, dan kreativitas; dan subtema yang keempat adalah seni dalam pusaran kompleksitas kekinian.

Berbeda dengan dua kongres sebelumnya yang berlangsung pada tahun 1995 dan 2005, pada kongres kali ini semua stake holder kesenian dari seluruh Indonesia diundang. Dari kalangan seniman, peserta yang diundang antara lain pelaku seni, penari/korografer, sastrawan, musisi, perupa, dan lain-lain. Juga dihadiri pihak-pihak dan institusi yang terlibat dalam kesenian, seperti berbagai komunitas seni, instansi pemerintah daerah, anggota DPRD dan DPR, dan lain-lain. Diperkirakan ada sekitar 700 tamu undangan dalam kongres ini.

Anggaran 8 Miliar
Untuk menyelenggarakan acara ini, Kemendikbud menyiapkan biaya sebesar Rp 8 miliar. Menurut Sekretaris Jenderal Kongres Kesenian Indonesia, Koko Sondari, dana kongres ini dikelola secara swakelola oleh kementerian. Dana tersebut antara lain untuk uang saku selama kongres, biaya akomodasi, dan transportasi.

Kritikus dan pelaku seni senior Indonesia, Edi Sedyawati  mengatakan, tema kongres kali ini berkaitan dengan negara karena walaupun berdiri sendiri, seni juga berkaitan dengan kehidupan bernegara. Sebaliknya, negara pun harus berperan untuk membangun kesenian. Karena itu, kongres ini diharapkan melahirkan rekomendasi yang bisa menjadi acuan bagi pemerintah untuk menelurkan kebijakan.