Review

Humor Bandung: Dari Dadang Konelo, Asep Balon, hingga Olegun




Wajah Asli Dadang Konelo, Olegun, Asep Balon

Kami menuntut Walikota Bandung Bpk. @ridwankamil agar segera memberikan jodoh yang layak bagi kami. #ForumMasyarakatKurangKasihSayang *maaf demonya tidak mengerahkan masa, takut macet sebandung, cukup perwakilan saja kami berdua*

Itulah caption di akun Instagram, Man Jasad salah satu personil band Karinding Attack dan Jasad.  Pria yang lahir di Cimahi pada 12 Januari 1978 ini juga merangkap Presiden Republik Gaban yang aktif berkegiatan di bidang seni dan budaya Sunda. Entah apa maksudnya, apakah hanya sekadar sentilan pada petisi sebelumnya yang menginginkan ada pantai buatan di Bandung yang digagas #KoalisiMasyarakatKurangPiknik.

Namun yang pasti inilah Bandung. Dimana masyaraktnya tak harus selalu berkerut kening dalam mengutarakan sesuatu, apalagi harus sampai rusuh. Media sosial menjadi ruang bagi penyampaian kreativitas. Memang, sisi heureuy alias humor ala urang Bandung ini bisa dimaknai secara langsung maupun tersirat. Ini hanya sekadar ungkapan yang bebas mau dimaknai apa saja. Bahkan umpan dari warganya tersebut, ditangkap juga oleh sang Wali Kota Bandung dengan me-repost kiriman Man Jasad dengan memberi caption:
Gusti.., masalah petisi pantai buatan belum kelar, sudah ada masalah baru.

Begitulah umpan balik dari Ridwan Kamil di akun Instagram-nya. Tentunya pula jangan terlalu dimaknai super serius. Ini hanyalah bentuk ungkapan-ungkapan yang kemudian bisa menimbulkan kelucuan-kelucuan. Apalagi jika Anda membaca komentar-komentar di bawahnya.

Ya, inilah Bandung. Kota dengan ciri masyarakatnya yang selalu terlihat gembira. Dan salah satunya dimunculkan melalui celetukan-celetukan humor di media sosial. Jadi bagi Anda yang ingin hiburan, tak melulu harus datang ke tempat wisata atau tempat hiburan lainnya. Untuk sekadar meregangkan urat syaraf, buka saja akun-akun media sosial yang biasa menyajikan heureuy ala urang Bandung tersebut. Apalagi jika Anda paham bahasa Sunda. Ungkapan-ungkapan: "Aku Mah Apa Atuh", "Sanguan!", "Boa Edan", "Jomblo Militan", dan yang lainnya lahir dari kreativitas-kreativitas tukang banyol ala Bandung di media sosial.

Sisi Bisnis
Kreativitas humor di era media sosial tersebut bukan sekadar mengumpulkan pengikut atau berbagi kelucuan. Di sisi lain ada nilai positifnya. Bagi pembaca, ini bisa menjadi obat hati yang sedang galau. Bagi pemilik akun, bisa diberdayakan untuk penghasilan dengan jual produk sendiri maupun orang lain. Baik itu jualan kaos, jualan buku humor, atau jadi buzzer bagi para pengiklan. Bahkan mereka pun kerap jadi MC atau siaran bersama di radio. Memang, budaya heureuy ini sudah menjadi ciri untuk warga Bandung atau di Tatar Sunda yang terus ada regenerasi.

Ya, seperti halnya kiriman foto dari Man Jasad di atas. Bahkan Wali Kota Bandung pun di akun Instagram yang dikelola dirinya pun tak lepas dari guyon-guyon ala urang Sunda. Namun tentunya ini disesuaikan juga dengan segmentasi. Anda bisa membandingkannya antara status-status Kang Emil di akun Instagram dengan di akun Facebook miliknya. Untuk akun Instagram disegmentasikan untuk kalangan anak muda dan Facebook untuk lebih urusan laporan kerja sehari-hari Kang Emil. Inilah Bandung, kota dengan sejuta kebahagiaan!

Akun-Akun Humor Sunda
Ada beberapa akun di media sosial yang konsisten jadi "aktifis" tukang ngacapruk alias tukang banyol. Misalnya di Twitter ada akun Olegunnn yang dibaca dibalik "Nu Gelo" alias orang gila. Juga ada Dadang Konelo (@infosebel), Asep Balon (@infocapruk), @caprukBDG, dan yang lainnya  Mereka adalah selebritas medsos yang tak merasa sebagai pesohor. Dilihat dari kicauan-kicauannya, mereka tanpa beban berbanyol ria tanpa terkesan ingin dibuat-buat lucu. Sementara di Twitter ada @komiklieur,

Mereka ngacapruk apa adanya hanya bekreasi beberapa kata dalam tulisan tweet. Dan demi menjaga stabilitas mood mereka ngacapruk, mereka menyembunyikan identitas diri. Ya, beruntunglah bagi Anda yang tahu wajah dan siapa mereka sebenarnya. Namun toh, yang penting bagi mereka adalah berkarya dan kenal beungeut mah nomor sekian. Jadi, daripada mencari sosok jatidiri mereka sebenarnya, mending nikmati saja karya-karya sabulangbentor-nya di kicuan mereka.

Untuk yang ngacapruk di blog, ada Mikiran Yayat, Banyolan Sunda, dan yang lainnya. Adapun di Facebook ada Majalah Cakakak yang dikelola Kang Taufik Faturohman (Komunitas Sulap Dongeng/Sudong). Juga ada Comic Sunda yang aktif di Youtube dan Facebook. Dan sekarang humor ala Sunda dari luar Bandung ada yang sedang naik daun yakni dubbing film dengan menggunakan bahasa Sunda dari Sukabumi  yakni di Facebook Bazit Creative Present.

Jumlah pengikut (followers) jangan tanya, mungkin bisa untuk modal tanda tangan masaa sebagai syarat nyalonin jadi caleg mah. Untuk bahasa, mereka bebas bertutur gaya anak muda. Kadang bahasa Sunda biasa, kasar, atau dicampur dengan bahasa Indonesia. Yang pasti, jika membaca kicauan-kicauan mereka, Anda akan senyum-senyum sendiri. Dan komentar antara pengikut dengan pengelola akun pun seakan tanpa sekat: bisa saling ledek hingga curhat.