Review

Mengenal Kosakata Bahasa Sunda dari Nama-Nama Tempat di Bandung




Arti nama-nama tempat dan jalan di Bandung

Bagi Anda wisatawan yang biasa berkunjung ke Bandung, mungkin sudah terbiasa dengan nama-nama tempat seperti Cihampelas, Cibaduyut, Lembang, dan sebagainya. Bila Anda ingin mengenal lebih banyak perbendaharaan kata atau istilah dalam bahasa Sunda, sebenarnya bisa menguasainya dengan mengenal arti dari nama-nama tempat yang biasa dikunjungi saat melancong ke Bandung.

Berikut ini kami uraikan nama-nama tempat dan jenis makanan khas Bandung yang kiranya bisa menambah perbendaharaan Anda dalam bahasa Sunda. Adapun kata-kata atau istilah yang disajikan kami terjemahkan dengan melihat artinya dalam kamus bahasa Sunda. Namun kami mohon maaf bila, penjelasan lebih lengkap dan ilmiah belum sesuai data dan fakta seutuhnya. Apa yang diartikan dari kata dan istilah adalah saujratna atau apa adanya dan berasal dari berbagai sumber.

Berikut ini daftar arti kata dan istilah kosakata dalam Bahasa Sunda dari nama-nama tempat.

1. Sungai Cikapundung
Walungan atau Sungai Cikapundung berasal dari nama sebuah pohon kapundung atau Baccaurea racemosa. Dalam Kamus Bahasa Sunda karya R. Satjadibrata, Kapundung mempunyai arti 'sarupa bencoy' yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama 'kepundung' atau 'menteng'.

Ini sejenis pohon atau perdu dengan tinggi antara 15-25 m dengan diameter 25-70 cm, berkulit kasar, dan berwarna keputihan. Daunnya lebih banyak terkumpul di ujung ranting, berbentuk lonjong dengan tepi bergerigi dan ujung yang lancip. Daun Menteng mempunyai panjang 7-20 cm, lebar 3-7,5 cm. Mungkin dulunya di sepanjang Cikapundung banyak tanaman Kapundung tersebut.

2. Jln. Braga
Versi almarhum Haryoto Kunto (Kuncen Bandung) berpendapat bahwa kata Braga berasal dari bahasa Sunda “ngabar raga = ngabaraga” yang artinya pamer tubuh, bergaya, nampang, atau mejeng. Versi lain Braga diambil dari nama perkumpulan seni sandiwara asal Belanda yang terkenal di daerah itu yaitu Toneelvereniging Braga yang didirikan pada tanggal 18 Juni 1882.

3. Jalan Wastukancana
Pada era Kolonial, jalan ini dikenal dengan nama jalan Engelbert Van Bevervoordeweg. Jl. Wastukancana sering disingkat menjadi Wastu. Nama ini diambil dari nama seorang Raja Pajajaran bernama Niskala Wastukancana. Pada saat perang Bubat, Wastukancana masih berumur 9 tahun. Ayah dan kakak Wastukancana, Prabu Linggabuana dan Dyah Pitaloka, gugur di medan Bubat. Wastukancana naik takhta saat umurnya 23 tahun. Beliau memegang singgasana Pajajaran selama 103 tahun 6 bulan dan 15 hari.

4. Jalan Banceuy
Ini nama jalan di pusat Kota Bandung. Dalam Kamus Umum Basa Sunda (KKUBS), Banceuy diartikan sebagai kampung yang bersatu dengan istal (kandang kuda). Kampung disini artinya tempat tinggal pera pengurus kuda (dan keretanya).  Kawasan Banceuy dulu pernah dijadikan tempat peristirahatan dan tempat mengganti kuda, khususnya untuk keperluan transportasi dan penyampaian benda-benda pos.

5. Jalan Cihampelas
Ci = Cai, yang artinya air dan hampelas = nama jenis pohon yang daunnya kasar, seperti kertas amril (ampelas) yang digunakan untuk menggosok atau menghaluskan besi dan kayu. Mungkin dulunya di kawasan ini banyak pohon hampelas.

6. Cibaduyut
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), baduyut mempunyai arti 'tumbuhan merambat (Trichosanthes villosa)'.

7. Leuwipanjang
Leuwi = sabagian walungan nu lebah jero (bagain sungai yang lebih dalam). Panjang = panjang.

8. Jalan Lengkong
Jalan yang pada masa pemerintahan kolonial bernama Groote Lengkong ini mengandung arti "teluk". Kawasan ini pada jaman dahulu merupakan sebuah teluk yang besar (hal ini berkaitan dengan asal muasal Bandung sebagai sebuah danau raksasa, danau purba). Ketika danau Bandung surut, ada beberapa wilayah yang masih tergenang air. Satu diantaranya disebut Lengkong.

9. Situ Patenggang
Nama populer yang digunakan sebagai nama danau ini sebenarnya ada 2, pertama yaitu “Situ Patengan” dan yang kedua adalah “Situ Patenggang”. Kedua nama tersebut memiliki pilosofi tersendiri yang menunjukan identitas situ serta saling memiliki keterkaitan . Apabila wisatawan menyebutnya “Situ Patengan” hal ini mengacu kepada nama desa dimana danau ini berada. Nama “Patengan” sendiri berasal dari bahasa Sunda “Pateangan” yang artinya saling mencari. Sedangkan nama “Patenggang” sendiri yang juga dari bahasa Sunda yang artinya terpisah dari jarah ataupun waktu.

10. Gunung Tangkuban Parahu
Tangkuban Parahu artinya adalah 'perahu yang terbalik'. Diberi nama seperti karena bentuknya memang menyerupai perahu yang terbalik. Konon menurut cerita rakyat Parahyangan gunung itu memang merupakan perahu yang terbalik dalam kisah legenda Sangkuring.

11. Punclut
Nama Punclut diperkirakan merupakan kependekan dari Puncak Ciumbuleuit. Konon. sebelum penjajah masuk ke Bandung, Ciumbuleuit telah ada dengan nama Sumbuleuit. Sumbu = pusat atau puser, sedangkan leuit = lumbung padi atau tempat menyimpan padi. Katanya, dahulu kala ada satu daerah dimana daerah tersebut banyak berdiri lumbung-lumbung padi (leuit) yang jumlahnya mencapai 625 lumbung padi atau yang lebih dikenal dengan sebutan Leuit Salawe Jajar (lumbung padi 25 baris). Adapun pendiri dan pemilik lumbung padi (leuit) tersebut merupakan seorang juragan (bangsawan) yang bernama Embah Hasim Gagak Rongkat Panimbang Jaya.

12. Cikudapateuh
Cikudapateuh merupakan nama kawasan istal kuda (dalam bahasa Sunda disebut "banceuy") yang khusus menampung kuda-kuda cacat. Dalam bahasa Sunda "pateuh" memiliki arti cacat yang biasanya diakibatkan karena patah tulang.

13. Bojongsoang
Bojong berarti 'suatu tanah atau daratan yang menjorok ke tengah perairan (sungai/laut)' dan soang berarti 'angsa' Dalam Bahasa Indonesia bojong sama dengan tanjung. Di Bandung banyak kawasan dengan diawali nama bojong, seperti Bojongloa (loa = nama buah/ficus glomerata), Bojongkoneng (koneng = kuning),  dll.

14. Lembang
Dalam Kamus Bahasa Sunda, Lembang mempunyai  ngaran sarupa jukut (nama jenis rumput). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai arti 'lembah atau tanah rendah'.

15. Rancaekek
Berasal dari kata ‘Ranca’ dan ‘Ekek’, ‘Ranca’ artinya rawa atau situ alam yang biasanya menyimpan air dan tidak akan pernah kering serta banyak ikannya tanpa dibudidayakan oleh masyarakat. Kemudian ‘Ekek’ berasal dari nama jenis burung yang berparuh kokoh dan tebal serta mempunyai bulu yang indah sebagai penghuni alami pada pohon di daerah ranca, dimana sifat dari burung tersebut adalah sering bergerombol.

16. Kebon Kalapa
Ini nama kawasan terminal di selatan Alun-Alun Bandung. Kebon mempunyai arti 'kebun' dan kalapa = 'kalapa'. Tempat lainnya ada Kebon Kawung (kawung = pohon enau), Kebon Gedang (gedang = pepaya), Kebon Jati,  Kebon Pisang (sekitar Jl. Sunda), Kebon Waru, Kebon Pisang, Kebon Jayanti (Kiaracondong), Kebon Karet, Kebon Jukut, Kebon Coklat (Pungkur), Kebon Sirih,Kebon Manggu (sekitar Pajagalan), Kebon Salak (antara Jl. Sudirman dan Cibadak), Kebon Kopi, Kebon Sawo (timur Jl. Garuda), Kebon Sayur (timur Kebon Sawo), Kebon Tangkil.

17. Cigondewah
Ini kawasan wisata belanja sentra tekstil di Bandung selatan (dekat Jln. Kopo dan Jln. Holis). Berasal dari gondewa yang dalam Kamus Basa Sunda mempunyai arti 'awi paranti mentang jamparing' (bambu untuk membentangkan panah).

18.  Lapangan Tegallega
Taman kota yang merupakan salah satu tempat wisata di Bandung yang memiliki luas mencapai 16 hektare. Tegallega dalam bahasa Sunda tegal = ladang, lega = luas yang berarti 'ladang yang luas'.

19. Jalan Pungkur
Pungkur dalam bahasa Sunda artinya 'belakang'. Mungkin karena lokasinya yang berada di belakang pusat pemerintahan/Pendopo Bandung tempo doeloe.

20. Astana Anyar
Pada zaman Belanda, lahir undang-undang pembangunan Kota Bandung dimana warga tidak boleh memakamkan kerabatnya di pekarangan atau kebun. Pemerintah Kolonial pun menyediakan kuburan baru atau Astana Anyar untuk warga Bandung dan Karang Anyar untuk menak (bangsawan) Bandung.

21. Dayeuhkolot
Dayeuhkolot nama kawasan di Bandung Selatan. Dulunya dikenal dengan nama Karapyak, yang artinya 'rakit penyeberangan yang dibuat dari batang-batang bambu'. Sampai tahun 1810 Karapyak adalah tempat kedudukan para bupati Bandung. Bupati Bandung saat itu adalah R.A. Wiranatakusumah II (masa jabatan 1794-1829). Gubernur Jenderal Hindia Belanda Daendels memerintahkan pemindahan pendopo kabupaten dari Karapyak ke tepi sungai Cikapundung (Alun-alun Kota Bandung sekarang), dengan alasan daerah berprospek lebih untuk dikembangkan.

Setelah pusat pemerintahan dipindahkan, maka segala hal yang berhubungan dengan pemerintahan dan perekonomian beralih ke daerah baru. Orang-orang lalu menyebut Karapyak sebagai kota tua atau kota lama. Oleh karena itu, daerah Karapyak sekarang ini disebut sebagai Dayeuhkolot, dalam bahasa Sunda dayeuh berarti 'kota', dan kolot berarti 'tua'.

22. Sungai Citarum
Disusun dari dua kata yaitu ci yang artinya 'sungai/air' dan tarum yang merupakan nama tumbuhan penghasil warna nila/indigo. Indigofera merupakan suku polong-polongan atau fabaceae merupakan tumbuhan penghasil warna nila alami. Orang Jawa menyebutnya sebagai tom.