Review

Mengangkat Potensi Wisata Musik di Bandung




Bandung Kota Musik

Seperti diketahui Bandung memiliki ragam julukan yang menggambarkan ragam potensi di Bandung, misalnya Bandung Kota Kembang, Bandung Kota Bangunan Bersejarah, Bandung Kota Musik, Bandung Kota Seniman, Bandung Kota Pendidikan, Bandung Kota Kuliner, dan julukan-julukan lainnya. Namun, belum semua potensi dair julukan-julukan yang ada di Bandung dioptimalkan untuk dikembangkan dalam sektor wisata.

Selama ini, bila dari julukan tersebut, Bandung lebih dikenal dengan dominasi Bandung Kota Wisata, Bandung Kota Kuliner, Bandung Kota Fashion. Dalam tulisan ini, kami akan mengulas dari sudut pandang julukan Bandung Kota Musik yang bisa dioptimalkan sebagai potensi sektor wisata.

Geliat musik Bandung
Sebagai gudangnya para musisi Tanah Air, Bandung memberikan kontribusi luar biasa untuk hal ini. Dari era zaman jadoel, zaman Orde Baru, zaman Reformasi, sampai zaman medsos, selalu saja ada hal yang baru dari Bandung dalam bidang musik. Nama-nama besar seniman bidang musik pun seperti tak kehilangan stok.

Geliat musik di Bandung sebagai ajang wisata bagi urang Bandung sendiri, terasa di zaman Dilan alias era 1990-an. Nama GOR Saparua menjadi pusatnya event-event musik di Bandung. Juga pada masa itu hadirnya komunitas, band, sampai distro-distro yang berhubungan dengan musik sungguh asyik dan terus bergeliat. Sayangnya, semakin ke sini energi tersebut terasa semakin redup. Ini hanya salah satu contoh, walau banyak pula kegiatan-kegiatan bermusik di Bandung yang bisa diangkat dalam mendukung sektor wisata.

Menciptakan suasana musik asyik di Bandung
Saat jalan-jalan di Bandung, pernahkah Anda melihat "pertunjukan" musik di sudut-sudut jalan Kota Bandung? Misal di kawasan Alun-Alun yang dikenal sebagai pusat berkumpulnya wisatawan dimana memiliki spot-spot yang leluasa untuk menampilkan pertunjukan musik. Bandingkan dengan di Yogyakarta di kawasan Jln. Malioboro dimana wisatawan bisa asyik bergoyang mengikuti pertunjukan musik dari seniman setempat.

Atau, bila ingin mengenal para seniman musik di Bandung, Anda harus pergi ke mana? Di mana museum musik di Bandung? Yang penulis tahu baru ada Museum Nike Ardilla di kawasan Cipamokolan. Itu pun museumnya dikelola secara mandiri oleh keluarga almarhum Nike Ardilla bareng para Nike Ardilla Fans Club (NAFC). Padahal Bandung punya nama-nama besar yang meninggalkan karya-karya fenomenal di industri musik Tanah Air.

Potensi musik lokal
Selain gudangnya para penyanyi juga band nasional, Bandung pun di sisi lain punya potensi para penyanyi lokal yang khusus membawakan lagu-lagunya dengan lirik bahasa Sunda. Namun, keberadaan mereka seakan terpinggirkan karena kurangnya ruang untuk lebih mempromosikan lagu-lagu mereka dalam lirik bahasa Sunda. Paling banter hanya di radio-radio atau stasiun televisi lokal di Bandung. Padahal, ini merupakan salah satu potensi untuk mengenalkan sisi lain khazanah dunia musik yang berkembang di Bandung.

Salah satu gebrakan yang pernah terjadi yakni pada Oktober 2012 lalu. Diva pop Sunda bernama Nining Meida pernah menggelar konser tunggal di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga). Itu pun menurut informasi dari keterangan pihak yang terlibat (panitia) katanya harus "berdarah-darah" karena kurangnya dukungan, baik sponsor maupun pihak terkait. Masalahnya, karena dianggap lagu-lagu Sunda kurang menjual. Sebuah ironi sebetulnya. Namun gebrakan ini patut diapresiasi karena sudah berani menampilkan sisi lain kekayaan kreativitas musik lokal di Bandung.

Musisi Bandung mulang ka lembur
Tipikal bermusik di Bandung memang ada tipe yang bermain di kancah luar Bandung (baca: Ibu Kota) dan berkreativitas di  Bandung sendiri. Untuk yang biasa bermusik di Bandung, contohnya para penyanyi pop Sunda juga komunitas-komunitas seperti Ujungberung Rebels yang setia di jalur idealisme mereka dalam musik underground.

Konsep ini bisa jadi salah satu alternatif dimana para pemusik asal Bandung yang sudah berkibar dan berjaya di Ibu Kota, tidak lupa purwadaksi agar bisa mulang ka lembur alias 'pulang ke kampung' untuk ikut terlibat dalam mengangkat kembali bagaimana cara bisa mewujudkan agar Bandung punya wisata musik. Tentunya hal ini diperlukan kolaborasi dari ikatan para seniman, Pemkot Bandung, hingga para sponsor.

Spot dan event ruang pertunjukan musik
Di era Wali Kota Ridwan Kamil memang didirikan Taman Musik di dekat SMAN 3 Bandung. Namun, sepertinya event-event di sana kurang terasa gaungnya. Juga ada tempat-tempat lain di Bandung yang biasa jadi ruang pertunjukan musik seperti di Sabuga, Dago Tea House (Taman Budaya Jawa Barat), Padepokan Seni Mayang Sunda, Institut Francais Indonesia (Jln. Purnawarman), atau di cafe-cafe.

Kiranya, untuk lebih menjual potensi wisata musik di Bandung, diperlukan penataan dan penyediaan ruang-ruang buat pementasan musik. Terutama sajian pertunjukan untuk para wisatawan yang melancong ke Bandung. Begitu pula ada baiknya diadakan kalender event pertunjukan musik di Bandung. *(AA)