Review

Inilah Data dan Fakta Kereta Api Cepat Jakarta - Bandung

share to whatsapp



Kereta Api Cepat Jakarta - Bandung

Terintegrasi, itulah konsep yang diusung pemerintah dalam urusan transportasi. Setelah hadirnya tol Cipularang yang terintegrasi dengan jalur Cikampek - Jakarta, kini pengguna jalan bisa tembus ke arah timur dengan hadirnya tol Cipali. Akses ke Bandung pun ada pilihan lain, dari arah barat lewat jalur Cipali keluar Subang lalu ke Lembang. Jalur lain yang terintegrasi dari tol Cipularang adalah adanya tol Soreang - Pasirkoja (Soroja) yang semakin memudahkan para pelancong buat wisata ke kawasan Ciwidey dan sekitarnya.

Dan pada 2021 nanti, Bandung pun menjadi bagian dari proyek jalur kereta api cepat. Pembangunannya kini masih dilaksanakan. pJalur royek pembangunan kereta api cepat ini bisa dilihat bila Anda lewat jalan tol, persisinya di pinggir jalan tol ke Bandung, Dan pada akhir 2019 nanti ditargetkan sampai sekitar 50% dan 2021 bisa beroperasi penuh.

Berikut ini informasi seputar Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung:

1. Tahap pembangunan
Hingga Oktober 2019, kereta cepat Jakarta-Bandung sudah terbangun sekitar labih dari 35 persen. Pada akhir 2019, tahap konstruksi proyek ini ditargetkan mencapai 49-50 persen. Struktur layang mendominasi hampir 60 persen jalur kereta cepat sepanjang 142,3km ini.

Rencananya, kereta cepat Jakarta-Bandung akan menghubungkan empat stasiun yaitu, Halim, Karawang, Walini dan Tegalluar (dekat Gedebage) 140,9 kilometer (km). Pada setiap stasiun yang dilewati kereta cepat akan dibangun Transit Oriented Development (TOD) untuk mendorong lahirnya sentra ekonomi baru di koridor Jakarta-Bandung. Pada titik Walini, misalnya akan dibangun Kota Baru Walini dan di Tegalluar juga dibangun kawasan industri kreatif berbasis IT.

2. Tipe kereta api
Kereta api cepat yang akan digunakan merupakan hasil pengembangan tipe CRH380A oleh perusahaan China, CRRC Qingdao Sidang. Berbekal teknologi terbaru tersebut, harga tiket kereta cepat Jakarta-Bandung

3. Terintegrasi dengan LRT di Jakarta
PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC) mempersiapkan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) agar dapat terintegrasi dengan moda transportasi publik lainnya seperti Light Rail Transit atau Lintas Rel Terpadu (LRT) Jabodebek.

Kereta Cepat Jakarta-Bandung diklaim sangat siap berdampingan dengan moda tranportasi massal lainnya di setiap titik pemberhentian yang terdiri dari 4 stasiun, yakni Halim, Karawang, Walini, dan Tegalluar. Nantinya, ia memproyeksikan, titik ujung kereta cepat yang ada di Stasiun Halim dapat terhubung dengan LRT Jabodebek dan Bus Rapid Transit (BRT) atau TransJakarta.

4. Terintegrasi dengan LRT di Bandung Raya, KRD, dan BRT
Selain di Jakarta, kereta api cepat ini akan tersambung dengan LRT Bandung Raya yang saat ini sedang dalam tahap pembangunan.  juga akan terintegrasi dengan Kereta Rel Diesel (KRD) yang akan menghubungkan stasiun kereta cepat dengan stasiun kereta api eksisting di kawasan Cimekar, Bandung. Termasuk dengan Bus Rapid Transit (BRT) yang akan dibangun di Karawang dan Walini

5. Kapasitas angkut penumpang dan waktu tempuh
Kapasitas angkut kereta cepat pertama di Indonesia ini adalah sekitar 109 ribu penumpang per hari, dan dapat memangkas waktu tempuh dari Jakarta ke Bandung maupun sebaliknya hingga 36 menit (untuk perjalanan langsung) dan 46 menit (untuk perjalanan tak langsung).

6. Kelas penumpang dan harga tiket
PT Kereta Cepat Indonesia Cina (KCIC) menuturkan bakal terdapat tiga kelas penumpang dalam Kereta Cepat Jakarta-Bandung. KCIC membagi tiga kelas itu menjadi kelas penumpang VIP, kelas 1, dan kelas 2. Harga tiket untuk kelas 2 yang merupakan kelas termurah rencananya dipatok sebesar Rp 300 ribu per penumpang.

Namun untuk kelas VIP dan kelas 1 masih belum ditentukan oleh KCIC. Jumlah kursi yang bakal disediakan untuk dua kelas teratas itu juga tidak akan banyak sehingga kelas 2 akan mendominasi dalam satu rangkaian kereta cepat.