Review

Inilah Profil Penerima Anugerah Budaya Kota Bandung 2019

share to whatsapp



AnugerahBudaya Kota Bandung 2019

Senin (25/11/2019) bertempat di Grand Ballroom Hotel Savoy Homann diadakan Malam Anugerah Budaya Kota Bandung 2019. Anugerah Budaya Kota Bandung merupakan agenda tahunan yang dilaksanakan Disbudpar Kota Bandung sebagai bentuk apresiasi atas karya seniman dan budayawan yang telah mengharumkan nama Kota Kembang. Piala diserahkan Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana.

Kegiatan ini telah berlangsung dari tahun 2006 dan telah melahirkan penerima anugerah budaya sebanyak 155 orang. Anugerah Budaya Kota Bandung tahun 2019 mengusung tema “Mere Dangiang, Mawa Bandung Kajauhna". Beberapa nama seniman dan budayawan hingga tempat wisata kuliner meraih Anugerah Budaya Kota Bandung 2019.

Penyeleksian calon penerima Anugerah Budaya Kota Bandung tahun ini dilaksanakan dalam 3 tahap yang telah dimulai dari tanggal 23 September 2019. Adapun dewan juri/ tim penilai untuk kegiatan ini berjumlah 5 orang yang terdiri dari berbagai unsur dan yang berkompeten pada bidangnya masing masing.

Berikut daftar lengkap 10 penerima Anugerah Budaya tahun 2019:
1. Uko Hendarto (Pencipta Lagu Pop Sunda)
Semua pencinta lagu pop Sunda pasti pernah mendengar nama Mang Uko sebagai pencipta lagu. Karena tak sedikit tembang yang dibawakan almarhum Darso pun merupakan hasil ciptaan Mang Uko yang juga berprofesi sebagai seniman calung. Misalnya saja Mawar Bodas dan Dadali Manting. Mang Uko sendiri adalah kakak kandung dari Darso.

2. Galura (Media Bahasa Sunda)
Surat Kabar Mingguan berbahasa Sunda Galura didirikan pada tanggal 20 Mei 1972, oleh Yayasan Kebudayaan Galura.

3. Didi Tarsidi (Pengembang Pendidikan Inklusif)
Didi Tarsidi memperoleh gelar Doktor Pendidikan pada 2008 di Sekolah Pascasarjana (SPs) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung lewat Program Studi Bimbingan Konseling. Selama menjadi dosen, dia mengaku mengajar dengan menggunakan teknologi, seperti komputer dan LCD.

Kiprah Didi dalam memajukan dunia pendidikan diwujudkan pada 2003, yakni ketika dia bersama empat dosen UPI lainnya dikirim ke Norwegia untuk studi banding implementasi pendidikan inklusif dan pelaksanaan Program Magister Pendidikan Kebutuhan Khusus di Universitas Oslo. Kunjungan itu menjadi cikal bakal pembukaan Program Studi Pendidikan Kebutuhan Khusus dan Inklusi di SPs UPI.

Didi Tarsidi juga menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) pada 2004-2009 dan sebagai Vice President World Blind Union Asia-Pasific pada 2004-2008. Sementara jurnal dan makalah yang dihasilkan telah banyak dipublikasikan dan dipresentasikan di berbagai negara.

4. Hawe Setiawan (Pemikir Kebudayaan)
Hawe Setiawan adalah seorang dosen, penulis, editor, penerjemah, dan redaktur majalah Sunda Cupumanik asal Jawa Barat. Selain itu, beliau juga dikenal karena menulis puisi dalam bahasa Indonesia. Ia lahir di Subang, 21 November 1968. Pendidikan terakhirnya ditempuh dalam Program Magister Seni Rupa, Institut Teknologi Bandung (ITB) hingga tamat pada tahun 2008. Karya-karya tulisnya telah tersebar dalam beragam buku dan artikel di media massa.

5. Ine Arini Bastaman (Seniman Tari)
Ine Arini Bastaman lahir di Bandung, 23 November 1951 dan istri dari dengan Herry Dim, pelukis. Ine adalah seniman tari senior yang sudah malang melintang dalam dunia seni gerak ini.

6. Wawan Sofwan (Seniman Teater)
Ia adalah aktor dan sutradara teater Indonesia. Lulusan kimia dari Universitas Pendidikan Indonesia Bandung pada tahun 1991, ia mulai aktif dalam bidang teater sejak tahun 1984 di Student Theater IKIP Bandung dan kemudian pada tahun 1986 melanjutkan pembelajaran teater di Studiklub Teater Bandung, yang merupakan salah satu teater modern yang tertua di Indonesia.

7. Rosid (Seniman Lukis)
Seniman pemilik Rumah Budaya Rosid yang instagramable. Rosid memutuskan menempuh jalan seni rupa sejak tamat SMA pada 1989. Tahun 2006 ia membeli lahan kosong yang menjadi cikal bakal Rumah Budaya Rosid. Dulunya, lahan tersebut menjadi tempat pembuangan sampah, kontur tanahnya miring dan ditumbuhi belukar. Rosid harus membangun fondasi untuk mengubah kontur tanahnya agar rata.

8. Batagor Isan (Makanan Tradisional)
Merupakan salah satu tempat kuliner yang banyak digemari wisatawan. Bermula dari seorang bernama Isan yang memulai usaha baru di rumah kontraknya, Gang Situ Saeur, Bandung, pada perkiraan tahun 1970-1980an. Isan muda adalah anak perantauan asal Purwokerto (Jawa Tengah) yang mengadu nasib ke kota Bandung dengan niat mencari pekerjaan.

Merek dagangnya yang semula Batagor Isan diubah menjadi Batagor H. Isan, seperti yang kita kenal sekarang. H. Isan wafat pada tahun 2010 dalam usia 79 tahun, usaha dagannya diserahkan kepada salah satu keponakannya yaitu H. Suwarto karena H. Isan tidak memiliki anak kandung. Batagor H. Isan kini telah memiliki cabang di beberapa tempat antara lain di jalan Cikawao, jalan Lodaya, jalan Ciateul dan beberapa tempat lain di Bandung.

9. Comon Room (Literasi Budaya)
Common Room adalah wadah dari beragam aktivitas yang digalang oleh Bandung Center for New Media Arts. Siapa pun tahu bahwa Bandung adalah gudangnya kreatifitas, bahkan bisa juga dikatakan sebagai surga kreatifitas. Hal itu sangat wajar, mengingat segala bentuk kreativitas, mulai dari seni, hiburan, gaya hidup dan sebagainya bisa ditemui di Bandung.

Sejak didirikannya pada tahun 2003, aktivitas dan pengembangan seni tetap menjadi fokus dalam kegiatannya. Seni memang tak lepas dari kebudayaan dan pengetahuan, karenanya tak jarang juga diselenggaarkan kegiatan-kegiatan yang berbau budaya mulai dari diskusi ingga workshop. Commonr Room berlokasi di Jl. Cigadung Asri I No.3, Bandung.

10. Taufik Hidayat (Pelestari Saung Angklung Udjo)
Taufik Hidayat Udjo anak ke sembilan dari sepuluh bersaudara  keluarga Udjo Ngalagena. Ketika ditunjuk mengambil alih SAU, ia menerapkan prinsip profesionalisme. para pemegang jabatan mengajukan program apa yang akan dilakukan dan anggaran yang dibutuhkan. SAU pun sampai sekarang menjadi destinasi wisata seni budaya yang jadi salah satu ikon di Kota Bandung.

SAU menjadi lokasi wisata di Jalan Padasuka, Bandung, seluas lebih dari 1 hektare. Ragam fasilitas mulai dari kuliner khas Sunda hingga  penginapan bernuansa bambu dengan kapasitas 40 orang siap menjamu pengunjung.